Advertisement

Istilah elite dalam kepustakaan ilmu sosial modern sebenarnya tidak sepenuhnya jelas. Tetapi dalam waktu bersamaan istilah ini memudahkan analisis historis dan kontemporer sekaligus menyediakan idiom komparasi yang mudah dipahami dan menarik, tanpa terganggu oleh rincian institusional maupun praktik budaya tertentu. Adakalanya istilah elite hendak diperjelas dengan tambahan label tertentu berdasarkan tujuannya (misalnya elite oligarkis, elite motor modernisasi); gayanya (elite inovatif, elite perantara); domain institusionalnya (elite legislatif, elite birokrasi); basis sumber dayanya (elite media, elite keuangan); tahap keputusan yang dikuasainya (elite perencanaan, elite implementasi); atau asal-usulnya (elite turunan, elite terpelajar). Ada dua tradisi akademik tentang elite. Dalam tradisi yang lebih tua, elite diperlakukan sebagai sosok khusus yang menjalankan misi historis, memenuhi kebutuhan mendesak, melahirkan bakat-bakat unggul, atau menampilkan kualitas tersendiri. Elite dipandang sebagai kelompok pencipta tatanan yang kemudian dianut oleh semua pihak. Dalam pendekatan yang lebih baru, elite dilihat sebagai kelompok baik itu kelompok yang menghimpun para petinggi pemerintahan atau penguasa di berbagai sektor dan tempat. Jadi, pengertian elite dipadankan dengan pemimpin, pembuat keputusan, atau pihak berpengaruh yang selalu menjadi figur sentral. Pendekatan kedua ini kurang normatif dalam penekanannya. Elite acapkali dipandang sebagai kalangan yang mementingkan din sendiri Kemampuannya menguasai tatanan dimanfaatkan untuk kepentingan sepihak, terlepas dari apakah hal itu sesuai atau tidak dengan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Jika tidak sedang berkuasa, maka elite berubah menjadi ancaman yang menakutkan karena disiplin, sumber daya dan potensi kekuatannya diyakini mampu merombak tatanan yang ada dengan cara apa pun. kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Bertahannya pola hidup lama atau munculnya pola yang baru dianggap bertolak dari kepentingan elite. Kebanyakan ilmuwan sosiai mengartikan elite sebagai “mereka yang mengatur segala sesuatunya’, atau aktor-aktor kunci yang memainkan peran utama yang fungsional dan rerstruktur dalam berbagai lingkup Keagamaan, militer, akademis, industri komunikasi, dan sebagainya. Rumusan pertama tentang esie mengandung asumsi pluralis yang lemah. N’osca 1539 [1896]) serta Pareto (lihat Meisel 1958 sama-sama berkeyakinan bahwa kelas penguasa secara efektif memonopoli pos-pos kunci dalam masyarakat. Formasi sosial kelas-kelas, komunitas dan gerakan menuju perubahannya yang menjadi ajang operasi elite tidaklah tetap. Studi tentang elite akan bermanfaat jika ia dapat menunjukkan siapa yang dominan dalam suatu masyarakat, yang kepentingannya sering diatasnamakan sebagai kepentingan bersama, dan kapan hal itu terjadi. Karakter elite bisa berubah-ubah. Transformasi elite sudah sering dikupas. Pareto melihat vitalitas dan keruntuhan sebagai suatu siklus elite yang tak pernah usai. Para mahasiswa yang mempelajari modernisasi di Dunia Ketiga sering mendapati bahwa ketegangan politik selalu mengiringi pergeseran peran elite dari generasi revolusi ke generasi teknokrasi. Para pelaksana yang memperantarai mereka dengan khalayak para teknisi, prajurit, ulama  seringkah menjadi elite lapis kedua yang direkrut oleh elite penguasa untuk mendukung mereka. Sejumlah pengamat percaya bahwa elite memang acapkali lahir untuk mengemban misi historis. Peran dominan yang mereka mainkan kemudian membuat mereka merasa lebih unggul mereka merasa lebih pintar ketimbang para ilmuwan, lebih kuat daripada para prajurit, dan lebih berani daripada siapa pun untuk memikul resiko sebagai pejuang revolusi atau petinggi kapitalis. Selama beberapa abad kekuatan-kekuatan historis yang membentuk institusi-institusi modern, perkotaan, industri dan kemasyarakatan yang kian kompleks itu telah memperbesar peluang bagi siapa saja untuk menjadi elite. Sistem stratifikasi politik di mana-mana berbentuk piramid, dan ini mencerminkan fakta yang nyaris universal bahwa ada sekelompok kecil yang menggenggam kekuasaan terbesar. Hanya saja, keberadaan kelompok itu tidak lagi diwariskan, melainkan lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti status sosial, prestasi pendidikan, atau pencapaian institusional. Hal- hal seperti gender, asal daerah, dan tentu saja keturunan, masih penting, namun tidak sepenting dahulu. Untuk mudahnya, elite adalah orang-orang yang memiliki posisi kunci, yang secara awam dipandang sebagai sebuah kelompok. Merekalah yang membuat kebijakan umum, yang satu sama lain melakukan koordinasi untuk menonjolkan perannya. Ada pula elite yang cakupannya terbatas seperti elite kedokteran, elite militer, elite industri, atau elite bisnis. Meskipun sering dipandang sebagai satu kelompok yang padu, sesungguhnya antara anggota-anggota elite itu sendiri apalagi dengan elite yang lain sering bersaing dan berbeda kepentingan. Dalam dunia modern di mana elite dipandang sebagai kalangan orang-orang mapan yang punya posisi di kemiliteran, lembaga legislatif, lingkungan diplomatik, atau struktur kepartaian, ada semacam hirarki yang semakin berlapis-lapis. Setiap anggota elite tidaklah sama status dan pengaruhnya. Meskipun elite dipandang sebagai pengemban bakat-bakat terbaik di berbagai bidang — hukum, bisnis, akademik, dan lain-lain, mereka bukanlah satu kelompok yang permanen. Anggota lama elite bisa terpental, digantikan oleh elite lapis kedua yang sejak awal sudah terpilih atau hadir sendiri, menunggu peran dominan di bidangnya (Putnam 1976). Para petinggi elite tidak selamanya saling mendukung. Kerumitan strukturnya sangat tinggi, dan satu sama lain berjuang memelihara posisinya sendiri. Elite militer contohnya. Tekanan-tekanan dari eselon setingkat di bawah elite teras berlangsung, memaksakan pergantian anggota elite puncak yang harus diterima sebagai syarat kesinambungan elite itu sendiri. Homogenitas elite administratif juga hanya ilusi. Dalam bidang profesi yang relatif otonom, seperti dinas kepolisian, korps diplomatik, dinas pemadam kebakaran, dan sebagainya, pergantian anggota elite puncak lebih teratur. Namun dalam dunia politik dan kebijakan, pergantian elite ikut dipengaruhi oleh kelompok lain yang mendukungnya. Pemahaman bahwa elite itu bukan suatu sosok tunggal membawa berbagai implikasi rumit. Setiap elite punya cara tersendiri dalam memelihara perannya. Elite komunikasi, misalnya, cenderung saling mendukung untuk memelihara dominasinya. Namun elite birokrasi tingkat daerah jelas tidak dimungkinkan untuk saling berkomplot untuk memelihara posisi mereka. Elite harus dipelajari dalam konteks keragaman. Jika tidak, maka hasilnya akan menyederhanakan permasalahan secara berlebihan. Kalau ditinjau berdasarkan cara operasinya, ada dua macam elite, yakni elite kerja karakterisasi dan elite kerja survey. Yang pertama menekankan fungsi atau fungsinya sehingga peran individunya menonjol, sedangkan yang kedua bertumpu pada kedudukannya dalam tatanan masyarakat yang lebih luas sehingga peran lembaganya lebih mencolok ketimbang orangnya. Elite survey terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama menggagas peran yang harus dimainkan, sedangkan lapisan kedua bertugas menjalankannya. Pergantian personil, entah melalui jenjang karir atau penunjukkan, berjalan relatif lancar karena sekali lagi, dalam elite ini lembaga lebih penting ketimbang individunya. Pembagian kerjanya bagaikan sebuah survey, dan dari situlah jenis elite ini mendapatkan namanya. Keberadaannya tidak semata-mata ditentukan oleh tindakannya, namun bisa juga dari posisi tertentu yang terlanjur digenggamnya.

Incoming search terms:

  • pengertian elite
  • pengertian elit
  • pengertian golongan elit
  • masyarakat elite
  • pengertian masyarakat elit
  • golongan elit
  • masyarakar elite
  • jelaskan latar belakang munculnya golongan elite baru
  • bagaimana terjadinya golongan elit
  • golongan elit dalam masyarakat

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian elite
  • pengertian elit
  • pengertian golongan elit
  • masyarakat elite
  • pengertian masyarakat elit
  • golongan elit
  • masyarakar elite
  • jelaskan latar belakang munculnya golongan elite baru
  • bagaimana terjadinya golongan elit
  • golongan elit dalam masyarakat