Advertisement

Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang tiba-tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaannya sendiri, semacarn penyakit mental yang tak disadari oleh korbannya. Hal ini akibat kecemasan karena orang itu kehilangan atau tak melihat lagi semua tanda dan lambang pergaulan sosial yang sudah dikenalnya dengan baik.

Ada empat tahap yang membentuk siklus culture shock:

Advertisement
  1. Tahap inkubasi; kadang-kadang disebut tahap bulan madu, sebagai suatu pengalaman baru yang menarik.
  2. Tahap krisis; ditandai dengan suatu perasaan dendam, pada saat inilah terjadi korban culture shock.
  3. Tahap kesembuhan; korban mampu melampaui tahap kedua, hidup dengan damai.
  4. Tahap penyesuaian diri; sekarang orang tersebut sudah membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakannya dalam kondisi yang baru itu; rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.

Penyesuaian diri antarbudaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern, menurut Brislin (1981), ialah faktor watak (traits) dan kecakapan (skills). Watak adalah segala tabiat yang membentuk keseluruhan kepribadian seseorang, yang dalam bahasa sehari-hari biasanya merupakan jawaban atas pertanyaan, “Orang macam apa dia?” Jawabannya: emosional, pemberani, bertanggung jawab, senang bergaul, dan seterusnya. Orang yang senang bergaul biasanya akan lebih mudah menyesuaikan diri.

Kecakapan atau skills menyangkut segala sesuatu yang dapat dipelajari mengenai lingkungan budaya yang akan dimasuki, seperti bahasa, adat-istiadat, tata krama, keadaan geografi, keadaan ekonomi, situasi politik, dan sebagainya.

Selain kedua faktor ini, juga sikap (attitude) seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antarbudaya. Menurut Allport, yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kesiagaan mental atau saraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengarahan atau pengaruh terhadap bagaimana seseorang menanggapi segala macam objek atau situasi yang dihadapiriya. Contoh-contoh sikap: terus terang, berprasangka baik atau buruk, curiga, optimis, pesimis, skeptis, ekstrem, moderat, toleran, tepa sliro, dan sebagainya. Orang yang bersikap terus terang dan terbuka atau berprasangka baik akan lebih berhasil dalam menyesuaikan diri.

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antarbudaya adalah:

  1. Besar-kecilnya perbedaan antara kebudayaan tempat asalnya dengan kebudayaan lingkungan yang dimasukinya.
  2. Pekerjaan yang dilakukannya, yaitu apakah pekerjaan yang dilakukannya itu dapat ditolerir dengan latar belakang pendidikannya atau pekerjaan sebelumnya.
  3. Suasana lingkungan tempat ia bekerja. Suasana lingkungan yang terbuka akan mempermudah seseorang untuk menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan suasana lingkungan yang tertutup.

Incoming search terms:

  • pengertian cultural shock
  • pengertian goncangan budaya
  • Guncangan budaya
  • contoh goncangan budaya
  • contoh cultural shock
  • pengertian culture shock
  • pengertian guncangan budaya
  • goncangan budaya
  • contoh guncangan budaya
  • cultural shock dan contohnya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian cultural shock
  • pengertian goncangan budaya
  • Guncangan budaya
  • contoh goncangan budaya
  • contoh cultural shock
  • pengertian culture shock
  • pengertian guncangan budaya
  • goncangan budaya
  • contoh guncangan budaya
  • cultural shock dan contohnya