Advertisement

Termasuk karya sastra sejarah Melayu Klasik. Menurut R.O. Winstedt, ahli Kesusastraan Melayu Klasik, jika hikayat ini tidak menyertakan silsilah raja-raja Kedah dan meminjam kata-kata pendahuluan dari Sejarah Melayu yang ditulis pada tahun 1612, hikayat tersebut mungkin tidak akan diterima sebagai sastra sejarah.

Para peneliti memperkirakan bahwa hikayat ini sudah tua usianya. Saat kedatangan Islam di Nusantara tidak dapat dipastikan dengan tepat, tetapi pada tahun 1297 Marcopolo meiaporkan bahwa orang Aceh telah memeluk agama Islam. Dengan perhitungan tersebut, isi kesejarahan hikayat ini dapat dikaitkan dengan konteks jaman. Hikayat ini menceritakan kehidupan di Tanah Melayu (Negeri Kedah) pada awal penyebaran Islam. Naskah hikayat ini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Advertisement

Hikayat ini diawali dengan pujian terhadap Allah. Pengarangnya menulis, bahwa ia diperintah membuat naskah tersebut oleh Sultan Muazzam ibn Sultan Syah; sebuah naskah mengenai peraturan raj a-raja Melayu dan adat-istiadatnya. Pengarangnya sendiri menyebut naskahnya Salalatussalatin (Peraturan Segal a Raja).

Hikayat ini menceritakan sejarah kuno Kedah, se-belum raja-rajanya memeluk agama Islam, Merong Mahawangsa beserta turunannya. Dikisahkan seorang anak lelaki yang lahir dari batang bambu dan anak perempuan yang lahir dari buih. Diceritakan pula gajah sakti yang memilih raja. Dengan begitu tampak bahwa ceritanya khayalan belaka. Namun tampak juga dasar sejarah di dalamnya, antara lain, pengislaman Raja Kedah, kisah Raja Siam, dan kisah didirikannya beberapa negeri.

Advertisement