PENGERTIAN HORTIKULTURA INTENSIF DAN TIMBULNYA STRATIFIKASI SOSIAL – Stratifikasi sosial biasanya timbul pada saat terjadi transisi menuju masyarakat hortikultura intensif. Masyarakat ini seringkali menampilkan strata atau kelas sosial yang turun-temurun, suatu ciri khas masyarakat terstratifikasi. Tiga strata sosial utama (yakni pemimpin, sub-pemimpin, massa) merupakan pola yang biasa terjadi. Jadi perbedaan kedudukan atau status pada masyarakat hortikultura sederhana, pada masyarakat hortikultura intensif ditransformasikan menjadi ketidaksamaan yang berarti perbedaan ekses untuk pendapatan. Hal ini akan terlihat pada beberapa kelompok orang yang dipisahkan oleh kedudukan sosial, kekuasaan, pakaian dan hiasan, pola konsumsi barang dan jasa, keterlibatan dalam produksi ekonomi, adanya waktu untuk bersenangsenang dan pola gaya hidup keseluruhan. Keanggotaan di dalam kelompokkelompok ini didapatkan secara turun-temurun dan tidak berhubungan dengan kemakmuran atau kemampuan individual. Status sosial ditentukan oleh hubungan darah/keturunan dengan penguasa atau raja.

Namun, karena penguasa dan massa dihubungkan oleh tali kekerabatan, sistem stratifikasi yang terjadi memiliki batas-batas yang pasti. Tali kekerabatan berfungsi untuk memperlunak sifat dan akibat-akibat dari ketidaksamaan, dan penguasa tetap diharapkan dermawan akan hartanya dan selalu memperhatikan kesejahteraan umum. Seperti yang dicatat oleh Lenski (1966) “etika redistributif” tetap berlaku dalam masyarakat seperti ini; untuk mencegah penguasa menguasainya secara berlebihan. Walaupun kelas penguasa menikmati hak-hak istimewanya, para penguasa tetap dianggap sebagai “pemberi nafkah” yang harus terus-menerus memperhatikan kebutuhan dan keinginan sanak keluarganya yang jauh di dalam kelas massa. Jenis sistem stratifikasi seperti ini ditemukan di banyak masyarakat hortikultura intensif di Sub-Sahara Afrika pada abad xviii dan xix. Di sini, stratifikasi sistem tiga kelas sering terjadi (Lenski, 1966). Kelas dominan terdiri dari minoritas yang berkuasa dan mempunyai hak-hak istimewa yang hidup dalam kemewahan. Kelas menengah terdiri dari para ahli dan pejabat-pejabat yang bekerja untuk kelas dominan dan memegang jabatan kurang penting dalam politik. Kelas bawah terdiri dari mayoritas rakyat biasa yang bertanggung jawab menggerakkan perekonomian untuk mensuplai ke dua kelas di atas.

Penguasa atau raja dalam masyarakat seperti ini diperlakukan sangat hormat dan selalu didewakan dan dimuliakan. Di Dahomey, misalnya raja sangat dihormati. Bahkan para menterinya diharuskan menyembah-nyembah jika raja melewatinya (Lenski,1966). Juga, apabila raja lewat maka tidak seorangpun boleh memakai sandal, sepatu, topi dan bahunya tertutup. Tidak seorangpun diizinkan untuk duduk dibangku. Apabila mereka melakukarmya juga maka harus duduk di tanah (Lenski, 1965;154). Raja Dahomean mempunyai kekayaan melimpah, baik dalam bentuk harta maupun wanita. Mereka dianggap memiliki secara nominal semua yang ada dalam kerajaan tersebut, diperbolehkan menikah dengan saudara sendiri, menguasai pengangkatan pejabat negara, dan diakui mewarisi kekayaan. Figur yang dimuliakan ini juga berkuasa atas mati-hidupriya seseorang. Seseorang yang menentang raja (biasanya) akan dihukum mati. Walaupun masyarakat hortikultura di Afrika sangat terstratifikasi, masyarakat ini tetap melaksanakan etika redistributif. Di antara suku Rantu selatan, misalnya, penguasa diharuskan untuk dermawan. Jika tidak maka popularitasnya akan menurun. Lenski mencatat (1966 ;165) : Walaupun ia orang terkaya dalam sukunya, ia tidak dapat menggunakannya hanya untuk kepuasan pribadi. Ia diharuskan dapat membantu para menteri dan pembantu-pembantunya. Ia harus melayani semua yang datang mengunjunginya. Dalam suatu upacara keramaian tertentu ia diharapkan memberikan makanan, minuman bir dan bubur kepada semua yang berkumpul di desanya. Ia memberi ternak, memberi makan orang miskin, yatim piatu, janda, orang sakit dan para ibu yang baru melahirkan, dan dimasa kelaparan membagi-bagikan jagung dari lumbungnya sendiri, atau apabila tidak cukup, mengusahakannya pada desa tetangga. Sistem kehidupan terstratifikasi seperti ini juga terjadi dalam banyak masyarakat asli Polynesia. Penduduk asli Hawaii merupakan contoh sempurna. Menurut deskripsi Marshall Sahlins (1958), Hawaii terbagi dalam tiga strata sosial utama: “penguasa tertinggi” dan keluarganya, penguasa lokal yang menguasai daerah tertentu di bawah kekuasaan penguasa tertinggi, dan rakyat. Penguasa tertinggi mengatur penggunaan tanah diseluruh pulau. Penguasa ini mempunyai hak atas redistribusi tanah. Bahkan, ia dapat memindahkan tanah bawahannya dengan berbagai alasan seperti kedapatan menimbun harta, lalai bekerja untuk pembangunan irigasi, lalai mengerjakan pekarangannya agar produktif. Penguasa tertinggi dan penguasa lokal juga mengawasi dan menguasai pemakaian dan pembagian air irigasi. Penguasa lokal langsung mengawasi perekonomian rumah tangga rakyat untuk memastikan apakah tanah-tanah mereka ditanami. Umumnya, individu dengan jabatan tinggi dapat memanggil bawahannya untuk berbagai keperluan pelayanan; rakyat tentu saja merupakan sumber pekerja untuk proyek-proyek umum. Penolakan oleh rakyat jelata terhadap berbagai pekerjaan itu akan berakibat kematian. Jelaslah bahwa tanggung jawab umum terhadap produksi ekonomi dibebankan pada kelas bawah, penguasa tertinggi dan keluarganya bebas dari kewajiban-kewajiban ini. Dalam hal ini, penguasa merupakan “golongan orang yang bersenang-senang”, yang mengharuskan orang lain untuk bekerja.

Sifat stratifikasi dalam masyarakat Hawaii juga menghasilkan adanya perbedaan pola konsumsi. Walaupun perbedaan dalam jenis makanan yang dikonsumsikan tidak mencolok, beberapa makanan pilihan disediakan bagi penguasa tertinggi. Etika redistribusi oleh para penguasa menjamin adanya makanan yang cukup bagi semuanya, dan rakyat digambarkan sebagai”makmur”. Dalam hal konsumsi barang-barang mewah, biasanya diperuntukkan bagi para pejabat tinggi dan disediakan sebagai tanda kehormatan. Penggunaan barang-barang mewah tertentu untuk pakaian dan hiasan hanya boleh dipakai penguasa tertinggi, dan kualitas perumahan disesuaikan dengan statusnya. Penguasa tertinggi suku Hawaii juga didewakan. Karena kesucian yang melingkupi dirinya, maka berbagai tabu harus diketahui bila berurusan derigannya. Bila tabu ini dilanggar, maka dapat mengakibatkan kematian. Sebagai contoh, adalah terlarang untuk membiarkan bayangan seseorang jatuh di rumah atau benda-benda miliknya, melewati depan pintu rumahnya, atau memakai jubahnya. Rakyat umumnya dilarang menyentuh apapun yang digunakan oleh penguasa. Dalam kehadirannya, rakyat diharuskan untuk bersujud sebagai tanda kehormatan. Apabila ia berjalan maka orang-orang diperingatkan agar bersiap-siap untuk menyambut.

Filed under : Bikers Pintar,