laws of returns (hukum perolehan)

Di antara generalisasi abstrak yang pernah diklaim para ahli ekonomi sebagai kekuatan penjelas dan prediksi yang sebanding dengan yang dimiliki hukum alam atau hukum ilmiah ilmu-ilmu fisika, hukum perolehan (laws of returns) memiliki sejarah yang paling panjang. Hukum ini menggambarkan hubungan antara laju pertumbuhan output bagi sebuah industri yang sedang berkembang dan laju peningkatan (rate of increase) input dari faktor-faktor produksi yang diperlukan (tanah, tenaga kerja dan modal), dan hukum ini memberikan sebuah ilustrasi yang instruktif tentang sesuatu yang disebut “hukum” ekonomi dalam prakteknya dikelilingi oleh kondisi-kondisi organisasional dan teknologis di mana mereka beroperasi.

Pada prinsipnya terdapat tiga cara di mana output industri bisa membesar sebagai akibat suntikan input tambahan ke dalam proses produksi. Dalam kasus perolehan tetap (constant returns), output meningkat dalam proporsi yang sama dengan meningkatnya total input. Dalam kasus perolehan yang meningkat, laju pertumbuhan output lebih besar dari pada laju peningkatan input. Dalam kasus perolehan yang berkurang (diminishing returns), laju pertumbuhan output akan berada di bawah laju pertumbuhan input. Pada prakteknya sebuah industri yang sedang berkembang mungkin mengalami fase-fase perolehan yang meningkat, tetap dan menurun. Dalam tahap awal pertumbuhannya ketika semua faktor input berada dalam keadaan penawaran yang elastis dan terdapat keuntungan ekonomis yang diperoleh melalui peningkatan skala operasi sudah sewajarnya terjadi perolehan yang meningkat. Jika terdapat faktor penting produksi yang berada dalam keadaan penawaran terbatas (seperti tanah dalam kasus industri agrikultural), nantinya akan sampai pada satu titik di mana penambahan dari faktor-faktor lain terhadap kuantitas tetap dari katakanlah tanah, akan mengakibatkan laju perolehan yang makin menurun terhadap faktor-faktor variabel kecuali tentunya jika ada kemajuan dalam pengetahuan (kemajuan teknologi) yang memberi kompensasi bagi kelangkaan tanah, dan mungkin juga meningkatkan skala ekonomi.

Kasus perolehan yang meningkat dalam industri manufaktur telah menjadi perhatian pengamat abad 17 dan 18. Adam Smith, sebagai contoh, menerangkan kecenderungan output bertambah lebih cepat daripada input dalam industri manufaktur, baik dalam kerangka skup yang ditawarkan untuk pembagian kerja dalam industri pabrikan maupun dalam kerangka apa yang sekarang mesti diklasifikasikan sebagai kemajuan teknologi (kemajuan ilmu pengetahuan, penyempurnaan mesin-mesin dan lain-lain). Penulis abad 18 yang lain lebih memperhatikan bukti-bukti perolehan yang menurun dalam bidang pertanian serta implikasinya bagi sebuah ekonomi yang mengalami ledakan pertumbuhan penduduk. Turgot, sebagai contoh, menunjukkan bahwa jika jumlah modal yang meningkat digunakan untuk sepetak tanah, maka kuantitas output yang dihasilkan dari setiap input modal tambahan akan meningkat lebih dulu, kemudian pada titik tertentu kembali menurun menuju angka nol.

Para ahli ekonomi klasik Inggris abad 19 menerima asumsi bahwa perolehan yang menurun memang terjadi dalam bidang pertanian, dan perolehan yang meningkat terjadi dalam bidang manufaktur. Beberapa di antaranya menaruh harapan pada kemajuan teknologi dalam pertanian dan pesimis terhadap konsekuensi jangka panjang dari pertambahan penduduk. Menurut J. S. Mill, sebagai contoh: ” Hukum besar tentang industri pertanian ini merupakan dalil terpenting dalam ekonomi politik.” Para ahli ekonomi neo-klasik seperti Alfred Marshall yang menulis pada akhir abad ini bahwa kemajuan ekonomi ternyata melibatkan industrialisasi tingkat tinggi lebih optimis tentang hasil-hasil dari konflik antara dua kekuatan, yaitu perolehan yang menurun dalam industri produk-produk primer dan kepuasan yang meningkat yang diperkuat dengan kemajuan teknik dalam sektor manufaktur. Permasalahannya, satu-satunya asumsi tentang hukum perolehan yang sejalan dengan analisis ekuilibrium kompetitif jangka panjang yang menjadi landasan teori neo-klasik tentang value adalah asumsi yang tidak realistis mengenai perolehan yang konstan. Seperti yang dinyatakan oleh Piero Straffa dalam artikel yang diterbitkan dalam Economic Journal tahun 1926, jika perolehan yang meningkat tercapai, maka perusahaan yang berusaha memaksimalkan keuntungan akan melakukan ekspansi besar- besaran. dengan demikian menghancurkan dasar-dasar persaingan sempurna; sementara hukum perolehan yang menurun mengandung pengertian bahwa berbagai biaya dan harga akan saling tergantung bagi semua industri yang bersaing atas sebuah faktor yang langka persediaannya, yang dengan demikian tidak membenarkan teknik Marshallian tentang analisis ekuilibrium parsial.

Sementara itu, ahli sejarah ekonomi terkemuka mempertanyakan kebenaran empiris dari hukum perolehan. Dalam sebuah artikel yang berjudul “empty economic boxes” yang diterbitkan dalam Economic Journal tahun 1922, Clapham melontarkan kritik bahwa “Sudah ada banyak kerugian yang ditimbulkan akibat kealpaan untuk menegaskan bahwa Hukum Perolehan tidak pernah terkait dengan industri-industri tertentu, sehingga kita hingga saat ini tidak pernah sebagai contoh memahami syarat-syarat apa saja yang menjadi dasar dihasilkannya perolehan batu bara atau sepatu.”

Konsep perolehan yang menurun kadang-kadang masih diterapkan untuk mendukung polemik-polemik Malthusian oleh mereka yang mempertahankan pendapat tentang batas-batas pertumbuhan, atau sebagai penjelasan yang siap-pakai untuk kejadian-kejadian seperti lonjakan harga-harga komoditas yang luar biasa pada awal tahun 1970-an hampir sama dengan aliran ini adalah mereka yang menyatakan perlunya dibuat kebijaksanaan yang menguntungkan beberapa cabang industri manufaktur agar bisa menjustifikasi pendapat mereka melalui upaya mengkategorisasinya sebagai subyek dari kepuasan yang meningkat. Namun, piara ahli teori ekonomi modem telah meninggalkan gagasan tentang manfaat atau kemungkinan merumuskan justifikasi teoretis bagi hukum kepuasan yang umum dan dapat digeneralisasi. Yang lebih signifikan mestinya adalah riset yang difokuskan pada apakah dan kapankah industri tertentu mengalami perolehan yang konstan atau meningkat atau menurun; hal-hal ini pada dasarnya adalah isu-isu empiris yang mengandung masalah teknis dan analitis yang rumit dan menghasilkan kesimpulan yang hanya valid untuk sektor-sektor industri yang sangat terdiferensiasi. Dalam konteks ini hukum perolehan direduksi menjadi hipotesis tentatif yang menyediakan titik tolak bagi sebuah program riset teoretis dan/atau empiris terhadap berbagai karakteristik dari fungsi produksi tertentu.