Advertisement

: “SSeperti etika, ilmu tak bebas dari pengaruh tata nilai. Kata Kenneth Boulding, ahli ekonomi pada Lembaga Ilmu Keperilakuan, Universitas Coloradoebagian yang lumayan besarnya dari keberhasilan masyarakat keilmuan dalam memajukan pengetahuan adalah berkat tata nilainya, yang menempatkan pengabdian yang objektif terhadap kebenaran di jenjang yang paling luhur, dan kepadanya baik harga diri perseorangan maupun kebanggaan nasional harus diteiutkan.”

Namun, kebenaran bukanlah satu-satunya nilai yang dijunjung tinggi oleh para ilmuwan. Keindahan juga dicintainya dengan sebulat hati. Sedang di mata pengamat biasa saja alam ini nampak sangat indah. Apa lagi dalam pandangan para ilmuwan, yang memang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk menelaah alam. “Ciri-ciri utama ilmu. . .” kata Bapak Bom-H, Edward Teller, “ialah bahwasanya ia menuntut disiplin mental yang ketat, dan bahwasanya ia menuju ke hasil karya intelektual yang. . . erat hubungannya dengan keindahan yang diciptakan oleh kesenian” (Teller, 1971).

Advertisement

Easley dan Tatsuoka memakai “keratahan”, “cakupan”, dan “kesaksamaan” sebagai patokan untuk mengukur derajat keterterimaan suatu model atau teori (Easley Tatsuoka, 1968). Penulis dengan serta-merta ingin menambahkan “keindahan” pada patokan-patokan mereka itu.

Dalam cara tulis vektor yang ringkas bernas dari Willard Gibbs, atau dalam cara tulis tensor yang lebih singkat padat lagi, dengan memandang waktu sebagai matra keempat dalam ruang Minkowsky, teori Maxwell yang secara elektrodinamika klasik mencakup segala hal, memenuhi patokan-patokan di atas — termasuk juga patokan “keindahan”. Bagaikan talunan sanjungan Whittaker (Whittaker, 1960), Richard Feynman memuji keindahan teori itu ‘jika kita singkirkan perancah yang dipergunakannya untuk membangunnya”, katanya, “nampaklah bangunan Maxwell nan indah tegak sendirian. Ia merangkum dan memadukan semua hukum kelistrikan dan kemagnetan, dan menciptakan suatu teori yang lengkap dan indah” (Feynman, 1965).

Advertisement