social science (ilmu sosial)

Ilmu sosial adalah sebuah konsep ambisius untuk mendefinisikan seperangkat disiplin akademik yang memberikan perhatian pada aspek-aspek kemasyarakatan manusia. Bentuk tunggalnya menunjukkan sebuah komunitas metode dan pendekatan yang saat ini hanya diklaim oleh beberapa orang; sedang bentuk jamaknya, ilmu-ilmu sosial, mungkin adalah bentuk yang lebih tepat. Ilmu-ilmu sosial mencakup ekonomi, sosiologi (dan antropologi), dan ilmu politik. Di perbatasannya, ilmu-ilmu sosial menjangkau kajian individual (psikologi sosial) serta kajian alamiah (biologi sosial, geografi sosial). Secara metodologis, ilmu-ilmu ini menunggangi pendekatan normatif (hukum, filsafat sosial, teori politik) dan historis (sejarah sosial, sejarah ekonomi). Dalam hal jurusan-jurusan di universitas, ilmu-ilmu sosial terbagi-bagi dalam sejumlah wilayah pengajaran dan riset, yang mencakup tidak hanya disiplin-disiplin utama, tetapi juga subyek-subyek seperti hubungan industri, hubungan internasional, kajian-kajian bisnis dan administrasi (umum) sosial.

Istilah ilmu-ilmu sosial tidak diterima begitu saja di tengah-tengah kalangan akademisi, terutama di Inggris. Sciences Sociale dan Sozialwissenschaften adalah istilah-istilah yang lebih mengenakkan, meski keduanya juga ‘menderita’ karena diinterpretasikan terlalu luas maupun terlalu sempit. Yang sering terjadi, ilmu sosial dimaksudkan untuk mendefinisikan sosiologi, atau hanya teori sosial sintetis. Di mana-mana, suatu analogi terhadap ilmu-ilmu alam selalu dipertentangkan. Pada tahun 1982, pemerintahan Inggris menentang nama Social Science Research Council yang dibiayai negara, berpendapat inter alia bahwa “kajian-kajian sosial” akan lebih sesuai bagi disiplin-disiplin akademik yang tidak dapat langsung mengklaim dirinya ilmiah. (Dewan itu akhirnya disebut Economic and Social Research Council).

Sejarah konsep tersebut tidak banyak membantu dalam mengusahakan diterimanya konsep itu. Ilmu-ilmu sosial tumbuh dari filsafat moral (sebagaimana ilmu-ilmu alam tumbuh dari filsafat alam). Sudah banyak diamati bahwa identitas ilmu-ilmu ini adalah berkat revolusi besar pada abad 18, revolusi industri (di Inggris) dan revolusi boijuis (di Perancis). Di kalangan filsuf moral Skotlandia pada masa itu, kajian ekonomi politik selalu diikuti oleh kajian isu-isu sosial yang lebih luas (meski tidak disebut sebagai ilmu sosial). Unggulnya positivisme pada awal abad 19, terutama di Perancis, filsafat positif, atau ilmu sosial mengambil alih posisi filsafat moral. Positivisme, menurut AugusteComte (1830-42; 1844), menekankan sisi faktual dan bukan spekulatif, manfaat dan bukan kesia-siaan, kepastian bukan keragua-raguan, ketepatan dan bukan kekaburan, positif dan bukan negatif atau kritis. Maka positivisme merupakan ilmu dalam pengertian materialisme sekaligus preskripsi abad 19. Comte meminjam istilah, science social, dari Charles Fourier (1808) untuk mendeskripsikan keunggulan disiplin sintetis dari bangunan ilmu. Pada saat yang sama, ia sedikit pun tidak ragu bahwa metode ilmu sosial (yang ia sebut juga sebagai fisika sosial) sama sekali tidak berbeda dari ilmu-ilmu alam.

Lima perkembangan yang berasal dari Comte, atau yang dimunculkan oleh tradisi-tradisi lain, makin mengaburkan gambaran metodologis tentang ilmu-ilmu sosial.

Pertama, banyak dari mereka yang memakai analogi ilmu-ilmu alami melakukan riset sosial secara serius. Survai besar bersifat faktual yang dilakukan oleh Charles Booth di Inggris, dan oleh aliran Chicago di AS, menjadi bukti dari tren ini. Frederic Le Play memelopori tradisi seperti ini di Perancis. Di Jerman, Verein fur Socialpolitik mengadopsi teknik-teknik riset yang serupa. Upaya-upaya deskriptif berskala besar seperti itu adalah pendahuluan dari riset dan analisis sosial modern (“empiris”).

Kedua, ilmu, tentu saja, iebih dari sekadar kegiatan penemuan-fakta. Dengan demikian pemikiran ilmu alam tentang ilmu sosial teoretis telah melahirkan paling tidak dua orang pahlawan sosiologi, Emile Durkheim (1895) dan Vilfredo Pareto (1916). Durkheim secara khusus terkesan oleh perlunya mempelajari “fakta-fakta sosial”, sementara Pareto menstimulasi pemikiran-pemikiran metaforis dan teori-teori spesifik. Mereka memiliki pengikutnya masing-masing.

Ketiga, pada pergantian abad ini, lahir sebuah dikotomi metodologi yang mengangkat aspek lain, atau pemikiran lain, tentang ilmu sosial. Bertentangan dengan ambisi mereka yang berusaha meniru ilmu-ilmu alam dalam kajian fenomena sosial, aliran pemikiran Jerman mendapatkan pijakan, di mana fenomena sosial tidak begitu saja menyerahkan dirinya pada analisis yang kaku, tetapi memerlukan pendekatan yang berbeda, seperti Vestehen, pendekatan empati dan pemahaman. Max Weber (1921) memakai pendekatan yang berbeda, tetapi memperkenalkan apa yang kemudian kita kenal sebagai perspektif “hermeneutic” atau “fenomenologis”.

Keempat, akan segera terlihat bahwa ketiga pendekatan di atas sejauh ini paling terkait dengan subyek sosiologi serta sejarahnya. Malahan, ekonomi juga segera menyusul jalannya sendiri. Sejak kemunduran kelompok ekonom Jerman historis (“romantic”), ekonomi tumbuh sebagai disiplin di mana semua ilmu sosial hampir sama layaknya menyandang sebutan “ilmu”. Pengetahuan ekonomi sejauh ini merupakan kumulatif yang sangat besar; teori dikembangkan dan diuji, jika tidak selalu bertentangan dengan kenyataan, maka paling tidak bertentangan dengan model-model dan asumsinya. Ekonomi Vestehende, bahkan ekonomi deskriptif, telah menjadi pengecualian.

Akhirnya, Max Weber juga bersikukuh pada perbedaan lain yang mendefinisikan aspek kelima dari ilmu sosial, yaitu berada di antara pengetahuan bagaimanapun caranya diperoleh dan nilai-nilai. Preskripsi dan deskripsi (atau teori) adalah milik alam wacana yang lain. Pembedaan ini muncul tepat pada waktunya (Werturteilsstreit), dan akan terus seperti itu, meskipun teori politik, filsafat moral, dan juris- prudensi telah mengikuti jalannya masing-masing, dan kajian kebijakan sosial telah bergeser dari preskriptif lebih ke arah analitis.

Berikut ini adalah elemen-elemen metodologi yang berbeda dari ilmu sosial: ilmu sosial empiris, yang bersifat deskriptif dalam karakternya dan bukan dalam intensinya, yang semakin canggih dalam teknik-tekniknya; usaha-usaha yang amat jarang dilakukan dalam pengembangan teori-teori dalam pengertian yang ketat, usaha-usaha yang tidak diakui secara universal maupun secara kumulatif; verstehende Sozialwissenschaft, barangkali dapat digambarkan dengan baik sebagai analisis historis dari masa kini, seringkali penuh berisi data empiris dan juga upaya-upaya penjelasan, timbunan ilmu sosial; ilmu ekonomi; dan teori sosial yang bersifat preskriptif, dan memiliki substansi dan intensi politik.

Jika melihat ilmu-ilmu sosial secara keseluruhan, maka akan terlihat tidak beraturan, dan yang dirasakan memang demikian. Tetapi bagaimanapun, segala upaya untuk menghasilkan sintesis baru telah gagal. Contoh yang paling ambisius adalah upaya Karl Popper (1945; 1959 [1934]) dan Talcott Parsons (1937; 1951; 1956). Popper menegaskan bahwa ada satu logika pemeriksaan ilmiah. Ini adalah logika kemajuan melalui falsifikasi: kita mengajukan hipotesis (teori), dan kemajuan terjadi melalui penolakan hipotesis yang telah diterima melalui riset, yaitu, melalui metode coba dan coba lagi (trialand error). Popper tidak terlalu memikirkan ilmu sosial, tetapi karena itulah bahasanya telah menciptakan bahaya. Setiap orang pun berusaha melakukan “hipotesis”, meskipun hanya sedikit proyek yang mampu melakukan falsifikasi. Lebih penting lagi, logika Popper jika disalahinterpretasikan sebagai nasihat praktis bagi para akademisi akan menimbulkan pemikiran yang gersang tentang tindakan akademis, terutama dalam bidang ilmu sosial. Jika kemajuan hypothetico-deductive hanya demikian adanya, maka 99 persen ilmu sosial tidak berguna. Logika penyelidikan ilmiah Popper menyediakan segala sesuatu kecuali pengukuran kemajuan; ini bukanlah sebuah uji litmus untuk membedakan apa yang merupakan ilmu sosial dan apa yang bukan. Malahan, Popper sendiri telah menulis karya-karya sosial yang penting serta analisis filsafat sosial.

Usaha sintesis Talcott Parsons bahkan lebih ambisius karena ditujukan bagi substansi teoretis dari ilmu sosial. Melalui berbagai analisis abstraknya, Parsons berpendapat bahwa substansi ilmu sosial adalah satu, yaitu tindakan sosial, dan bahwa inkarnasi dari tindakan sosial sekalipun berasal dari model umum yang sama, yaitu sistem sosial. Sistem sosial memiliki empat subsistem: ekonomi, politik, budaya, dan sistem “integratif. Ekonomi, ilmu politik, kajian budaya dan integrasi sosial (sosiologi) dengan demikian merupakan disiplin yang berhubungan, dan interdependen. Turunan dari sistem sosial, semua subsistem tersebut memerlukan analisis yang serupa. Klaim Parsons hanya berdampak kecil pada ilmu-ilmu sosial selain sosiologi. Para ekonom sebagian besar mengabaikannya. Kelemahan-kelemahan mendasarnya adalah walaupun masyarakat dapat dilihat dari sisi ini, tapi ternyata tidak harus demikian. Dalam tiap kasus, ilmu-ilmu sosial yang berbeda terus menjalani jalannya masing-masing. Apakah mereka mengalami kemajuan? Akan sis-sia saja menyangkalnya, meski konsep kemajuan berbeda-beda tergantung metodanya. Pada saat yang sama, ilmu-ilmu sosial telah memberi kita multa non multum. Sebuah pendekatan yang lebih halus barangkali telah diperlihatkan dewasa ini. Dalam ketiadaan sebuah sintesis, yang diharapkan memang mekarnya ribuan kembang. Masing-masing ilmu sosial akan terus menyumbangkan pengetahuan. Rasanya tidak mungkin terjadi perkembangan penting di perbatasan antara disiplin-disiplin yang berbeda. Adalah mungkin juga sebagian besar ilmu sosial akan menyatukan beberapa pendekatan yang telah memisahkan berbagai subyek.Meski upaya pencarian sintesis tidak akan mereda, pada kenyataannya ilmu-ilmu sosial untuk sementara waktu masih akan terlihat coreng moreng dan tampak seperti sebuah kelompok petualang intelektual yang sangat berbeda.

Incoming search terms:

  • pengertian ilmu sosial
  • ilmu sosial adalah
  • definisi ilmu sosial
  • pengertian ilmu ilmu sosial
  • ilmu ilmu sosial
  • apa itu ilmu sosial
  • arti ilmu sosial
  • apa yang dimaksud ilmu sosial

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian ilmu sosial
  • ilmu sosial adalah
  • definisi ilmu sosial
  • pengertian ilmu ilmu sosial
  • ilmu ilmu sosial
  • apa itu ilmu sosial
  • arti ilmu sosial
  • apa yang dimaksud ilmu sosial