Advertisement

PENGERTIAN INDONESIAN SATELLITE CORPORATION – Yang dikenal dengan akronim Indosat, suatu badan usaha milik negara berstatus perseroan terbatas (PT) yang diberi wewenang oleh pemerintah menyelenggarakan telekomunikasi umum internasional. Indosat yang di­dirikan pada tanggal 10 November 1967, semula me­rupakan anak perusahaan multinasional Internatio­nal Telephone and Telegraph (ITT) dari Amerika Se­rikat. Tetapi pada tahun 1980 saham PT Indosat yang dimiliki American Cable and Radio Corporation di­beli seluruhnya oleh pemerintah Indonesia. Dengan demikian, semua kebijakan dan operasi di bidang tele­komunikasi umum internasional dapat diatur dan di­kendalikan langsung oleh negara.

Kegiatan awal Indosat, yang membangun jaringan gelombang mikro trans-Sumatra dan Indonesia Timur, serta sistem komunikasi radio tropo-scatter Surabaya- Banjarmasin, membuka cakrawala baru bagi dunia telekomunikasi Indonesia. Sistem baru ini menjadi alternatif bagi penyelenggaraan komunikasi modern.

Advertisement

Pada tahun 1969, Indosat melebarkan sayapnya dengan memasuki jaringan telekomunikasi satelit in- ternasional yang dikelola International Telecommuni- cations Satellite Organization (Intelsat), setelah mem bangun stasiun bumi di Jatiluhur, Jawa Barat. D Nngan demikian, Indosat memiliki akses atau saluran ke sis­tem telekomunikasi internasional yang memanfaatkan satelit-satelit komunikasi pada orbit geostasioner yang tersebar di atas Samudera-samudera Pasifik, Hindia dan Atlantik.

Indosat menjadi wakil resmi pemerintah Indo­nesia dalam Intelsat. Sejak tahun 1986, Direktur Utama Indosat Jonathan L. Parapak menjadi salah seorang di antara 29 gubernur Intelsat yang mewakili 102 dari antara ke-I 17 negara penandatangan Kon­vensi Intelsat yang sekaligus menjadi anggota. Ia men­jabat wakil ketua Dewan Gubernur sejak Juni 1988 sampai Juni 1989. Dalam pertemuan ke-80 Dewan Gu­bernur Intelsat di Washington, D.C., Amerika Seri­kat, pada tanggal 15-12 Juni 1989, Parapak terpilih sebagai ketua Dewan Gubernur untuk masa kerja satu tahun sampai Juni 1990.

Pada tahun 1976, Indonesia memasuki era baru di bidang telekomunikasi domestik dengan peluncuran satelit Palapa Al, suatu lompatan jauh bagi negara yang sedang berkembang. Dengan penggunaan Palapa Al, yang mempersatukan seluruh kepulauan dalam satu kesatuan jangkauan telekomunikasi, Indonesia menjadi negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Kanada yang menerapkan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD).

Pelayanan. Dalam melayani pelanggan, Indosat memakai dua jalur jasa telekomunikasi, melalui sa­telit dan melalui kabel laut yang disebut Sistem Ko­munikasi Kabel Laut (SKKL). Di bidang telekomuni­kasi satelit, Indosat telah dipercaya untuk mengatur lalu lintas telekomunikasi digital dari satelit In elsat di atas Samudera Hindia. Satelit ini digunakan oleh banyak negara anggota Intelsat di wilayah Asia dan Eropa. Untuk keperluan itu, di Jatiluhur dibangun pengendali khusus yang disebut Time Division Mul­tiple Access Reference Monitoring Station.

Dengan dua sistem ini, Indosat menyediakan ber­bagai kemudahan telekomunikasi, di antaranya tele­pon internasional, telegram, teleks, teletext, birofax atau faksimili internasional, Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP), serta fasilitas-fasilitas lain yang mem­permudah hubungan antarnegara. Ketika penduduk Indonesia menyaksikan liputan langsung Olimpiade Seoul oleh TVRI pada tahun 1988, mereka sebenar­nya menikmati demonstrasi kecanggihan sistem tele­komunikasi, yang salah satu stasiun pengendalinya di­tangani Indosat. Gambar dan suara ditransmisikan lewat beberapa stasiun, dipancarkan ke satelit-satelit Intelsat yang memancarkannya kembali ke Jatiluhur. Satelit domestik Palapa meneruskannya ke seluruh pe­losok tanah air, dan melalui jaringan transmisi TVRI penonton dapat menyaksikannya dengan jelas seolah- olah sedang menyaksikan siaran lokal.

Beberapa fasilitas, seperti teleks, telepon, dan faksi­mili, dapat dilayani di Kantor-kantor Bicara Umum (KBU) yang dikelola Perusahaan Umum Telekomuni­kasi (Perumtel). Dari KBU fasilitas tersebut disam­bung ke sentral milik Perumtel, yang menghubung­kannya dengan Indosat. Indosat, sebagai Sentra! Ger­bang Internasional, melalui satelit atau kabel laut me­neruskannya ke seluruh penjuru dunia. Sambungan Langsung Internasional (SLI) menghubungkan sedi­kitnya tujuh kota di Indonesia dengan 104 negara. Sa­lah satu fasilitas telepon internasional yang tersedia adalah penyelenggaraan hubungan antara Sentral Ger­bang Internasional dan satelit Inmarsat (Internatio­nal Maritime Satellite), sehingga penelepon di darat­an dapat berhubungan dengan seseorang di atas se­buah kapal yang sedang berlayar di tengah laut.

Faksimili atau birofax makin mendesak fasilitas telegram dan teleks karena dianggap lebih praktis; surat atau gambar desain dapat dikirim dengan cepat ke segala penjuru dunia hanya dalam waktu beberapa menu. Jika faksimili merupakan saluran khusus lang­sung ke pelanggan, birofax adalah sistem faksimili yang menggunakan Kantor Bicara Umum, sehingga biayanya lebih murah karena pengguna tidak memer­lukan pesawat faksimili sendiri. Tetapi, meskipun pe­minatnya berkurang, Indosat tetap mempermodern fasilitas telegramnya dengan mendirikan Sentral Tele­gram Otomatis Internasional (STGOI), hasil kerja sama Indosat dengan Universitas Indonesia, yang da­pat menjangkau 16 negara.

Sejak tahun 1984, fasilitas teleks internasional Indo­sat diganti dengan sistem store and forward call dan partial clear down. Sistem pertama meniadakan waktu tunggu sampai terjadi sambungan antara dua pelang­gan, karena pesan teleks yang dikirim akan ditampung di sentral teleks negara penerima sebelum diteruskan ke nomor penerima. Sistem kedua memungkinkan pe­langgan mengirimkan beritanya ke nomor pelanggan lain segera setelah selesai dengan pengiriman pertama. Artinya, ia bisa mengirimkan satu berita ke beberapa alamat sekaligus.

SKDP, sarana komunikasi antarkomputer yang di­sediakan Indosat, memungkinkan penggunanya mem­peroleh data dari ribuan bank data di seluruh dunia melalui Sentral Gerbang negara lain dan melalui ja­ringan komunikasi data antarkomputer di negara masing-masing. Sarana ini menggunakan dua cara, yaitu lewat saluran telepon biasa {dial up) dan lang­sung dihubungkan dengan Indosat (leased-line).

Proyek Adonis, suatu prakarsa negara-negara Eropa Barat, sedang dirancang untuk menyediakan data tu­lisan lengkap dari 3.000 judul jurnal ilmiah kedokter­an di seluruh dunia dalam bentuk compact disk yang setiap bulan diperbarui. Pelanggan dapat membeli disk yang tersedia atau memanfaatkannya melalui Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP).

Indosat sedang mengembangkan apa yang disebut Sistem Informasi dan Manajemen Parpostel (Simpar- postel) dan Sistem Informasi dan Manajemen Pari­wisata (Simparnas). Keduanya merupakan basis data tentang kegiatan pariwisata, pos, dan telekomunikasi yang akan menjadi komoditi baru dan sangat berguna bagi dunia usaha.

Salah satu layanan jasa Indosat, Sistem Konferensi Komputer (SIKKO), akan membuka cakrawala baru bagi dunia usaha. Fasilitas ini memungkinkan manajer puncak suatu perusahaan besar mengadakan rapat de­ngan pimpinan anak perusahaan yang tersebar di be­berapa kota melalui layar komputer di kantor masing- masing, atau bahkan di kamar tidur mereka di rumah. Fasilitas ini dapat mendorong perusahaan mengubah manajemennya menjadi lebih terdesentralisasi, gejala yang makin mendekatkan umat manusia kepada ma­syarakat informasi yang diramalkan akan terwujud pada abad ke-21.

Sistem Komunikasi Kabel Laut. Sampai sekarang, sistem komunikasi kabel laut masih merupakan sarana pokok telekomunikasi dunia. Indonesia yang sangat strategis letaknya juga mempunyai jaringan kabel laut yang menghubungkannya dengan dunia internasional. Salah satu sambungan kabel laut yang tertua ialah hu­bungan antara Banyuwangi dan Darwin, Australia bagian utara, yang dipasang pada tahun 1871.

Indosat termasuk di antara 22 perusahaan tele­komunikasi dari 20 negara yang bekerja sama mem­bangun salah satu jaringan kabel laut yang terpanjang di dunia, kurang lebih 13.200 kilometer. Bagian kabel laut Singapura-Medan yang disebut Segment A sepan­jang 641,04 kilometer selesai ditanam bulan Novem­ber 1982. Dua tahun kemudian, Segment B antara Me­dan dan Kolombo, Sri Lanka, sepanjang 2.637,8 kilo­meter, siap pula dipergunakan. Akhirnya, pada tang­gal 20 April 1986, Segment H yang merupakan peng­hubung terakhir jaringan kabel laut Asia Tenggara- Timur Tengah-Eropa Barat selesai dipasang antara ko­ta Palermo, Italia, dan La Sein Sur Mer, Marseille, Perancis.

Indonesia masih mempunyai dua jaringan kabel laut internasional yang lain, yaitu Asean Indonesia- Singapura dan Australia-Indonesia-Singapura, dising­kat AIS. Proyek AIS diprakarsai oleh tiga perusahaan telekomunikasi: Indosat, Overseas Telecommunication Commission dari Australia, dan Telecoms dari Si­ngapura. Kemudian menyusul perusahaan-perusahaan telekomunikasi pendukung dana dari Malaysia, Fili­pina, Hong Kong, Jepang, Taiwan, Perancis, dan Jer­man Barat. Kabel laut ini menghubungkan Perth, Aus­tralia Barat, dan Jakarta yang berjarak 3.647 kilo­meter, serta membentang melalui Dataran Laut Da­lam Perth sedalam 5.600 meter, kegelapan terdalam Samudera Hindia di Palung Jawa (6.500 meter), dan laut dangkal antara Ancol dan Singapura yang ber­jarak 1.010 kilometer. Kabel laut yang mulai diguna­kan pada Hari Sumpah Pemuda 1986 ini memungkin­kan telekomunikasi antara Australia, Indonesia, dan Singapura dengan negara-negara lain di Asia dan Eropa Barat.

Meskipun teknologi transmisi datanya masih me­makai sistem konvensional yang biasa disebut pengi­riman data secara analog, pada tahun 1990 sudah akan dimulai penggantian kabel-kabel laut Asean-Indonesia dengan serat-serat optik. Dengan demikian, transmisi data yang akan menjangkau enam negara Asean ini dapat terkirim dengan kapasitas, keandalan, dan ke­cepatan yang iebih tinggi. Serat optik lebih memung­kinkan pengiriman data secara digital, sistem yang mengubah sumber data menjadi hanya kode-kode bi­ner nol dan satu, yang setelah sampai di tujuan di­ubah kembali menjadi data asli bersifat analog. Sis­tem transmisi digital lebih menjamin kelancaran dan keandalan telekomunikasi, karena mempunyai keke­balan yang lebih baik terhadap gangguan derau yang selalu ada pada setiap sambungan listrik.

Di dunia telekomunikasi sekarang sedang terjadi perkembangan baru, yang merupakan konsekuensi perubahan dari sistem analog ke sistem digital. Pada sistem digital dikenal apa yang disebut digital swit­ching: data analog berupa suara diubah oleh perang­kat keras yang disebut modem dan dikirimkan dalam saluran transmisi berupa kode-kode biner. Kode ini diubah kembali menjadi data analog berupa suara yang diterima oleh stasiun penerima. Perkembangan selanjutnya menuntut pengiriman data yang mutlak harus lebih cepat. Untuk itu, seluruh sistem diubah menjadi data digital, dan tanpa melalui proses per­ubahan analog-digital-analog data dikirim lewat sa­luran transmisi yang andal (dalam hal ini serat optik). Dengan demikian, tidak ada waktu terbuang sehingga kecepatan transmisi berlipat ganda jika dibandingkan dengan sistem suitsing digital. Di Amerika Serikat, transmisi data bisa mencapai 1.544 juta bit per detik. Jika satu karakter dianggap terdiri atas 8 bit, kecepat­annya sama dengan 193 juta karakter per detik! Sis­tem ini disebut digital transmission.

Kemudian timbul kecenderungan untuk mengga­bungkan kedua sistem digital ini. Terdorong oleh per­timbangan bahwa tidak mungkin suatu sistem diubah dengan drastis, dicarikan alternatif dengan sistem yang dinamakan Jaringan Digital Layanan Terpadu atau Integrated Service Digital Network (ISDN). Dengan sistem ini diharapkan akan terjadi perubahan yang sangat berarti dalam penyampaian informasi pada dasawarsa-dasawarsa mendatang.

Advertisement