Advertisement

Merupakan salah satu industri penting yang diharapkan Indonesia mampu menghasilkan tambahan devisa nonmigas, serta membuka lebih banyak kesempatan kerja di dalam negeri. Menurut data Biro Pusat Statistik, dalam tahun 1985 dan 1986 industri pariwisata adalah penghasil devisa ke-6 bagi Indonesia setelah minyak dan gas bumi, kayu, karet, tekstil, dan kopi. Tidaklah mengherankan bahwa banyak usaha ditempuh, baik oleh pemerintah maupun oleh anggota masyarakat yang bergerak dalam bidang ini, untuk terus meningkatkan jumlah objek pariwisata maupun sarana-sarana Penunjangnya, agar dapat menarik lebih banyak wisatawan asing ke Indonesia.

Sejak Pelita I industri pariwisata Indonesia berkembang cukup pesat jika dilihat dari bertambahnya arus wisatawan asing yang mengunjungi Indonesia. Pertumbuhan rata-rata arus wisatawan asing ke Indonesia dalam Pelita I adalah sebesar 39,6 persen, Pelita II sebesar 11,7 persen, Pelita III sebesar 6,3 persen, dan Pelita IV diperkirakan mencapai 14,4 persen. Wisatawan asing tersebut berasal terutama dari negara- negara Eropa Barat (24 persen), ASEAN (20 persen), Australia dan Selandia Baru (12,9 persen), Jepang (12,7 persen), Amerika Serikat dan Kanada (6,8 persen), sedangkan dari negara-negara lain (23,6 persen).

Advertisement

Sebagian besar wisatawan asing tiba di Indonesia melalui tiga gerbang utama, yaitu Jakarta (42 persen), Denpasar (28 persen), dan Medan (8,28 persen). Bila diasumsikan bahwa sebagian pengunjung yang tiba di Jakarta untuk tujuan bisnis, dapat dipastikan bahwa Bali adalah Daerah Tujuan Wisata (DTW) paling utama di Indonesia. Mengingat terbatasnya tempat dan sarana di Bali, serta agar dampak ekonomis industri pariwisata dapat dinikmati oleh daerah-daerah lain, pemerintah telah berusaha mengembangkan daerah- daerah tujuan wisata baru di seluruh pelosok tanah air. Dewasa ini telah dikembangkan 10 DTW utama, yaitu Jakarta, Bali, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan; serta tujuh DTW baru, yakni Daerah Istimewa Aceh, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Advertisement