Advertisement

Telah menjadi “primadona” ekspor nonmigas bagi Indonesia sejak pertengahan dasawarsa 80-an. Bersama karet dan kayu lapis, komoditas tekstil, termasuk produk-produk sejenis (Tekstil dan Produk Tekstil atau TPT), merupakan penghasil devisa ekspor utama yang jumlahnya kian meningkat dari tahun ke tahun. Meskipun berbagai kendala masih menonjol, tekstil akan tetap menjadi industri andalan di masa mendatang, antara lain karena kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah lebih besar dibanding dengan industri-industri lain.

Industri tekstil modern termasuk industri padat modal, tetapi juga padat karya. Investasinya mencakup mesin-mesin dan perlengkapan pabrik, serta lahan yang luas. Itulah sebabnya industri tekstil modern sebagian besar dioperasikan oleh pemodal- pemodal besar, termasuk pemodal asing. Selain itu industri tekstil diakui sebagai industri padat karya, karena mampu menyerap 0,82 tenaga kerja untuk tiap sejuta rupiah investasi, sedangkan industri secara keseluruhan hanya mampu menampung 0,32 tenaga keija per sejuta rupiah investasi. Kini, diperkirakan 1,5 juta tenaga kerja Indonesia telah terserap dalam subsektor industri ini, atau sekitar 20 persen dari seluruh tenaga kerja nasional dalam bidang industri. Hingga awal dasawarsa 90-an ini, sebagian besar indusi: tekstil berlokasi di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibu Kota. Di daerah-daerah lain, industri tekstil yang berkembang pada umumnya merupakan industri tekstil tradisional, misalnya batik di Jawa Tengah, pertenunan sutera di Sulawesi Selatan, dan tenun ikat di Nusa Tenggara.

Advertisement

Struktur Industri Tekstil di Indonesia. Ada beberapa jenis industri yang membentuk sebuah rangkaian dari hulu ke hilir. Rangkaian itu mencakup industri serat dan benang, pemintalan, pertenunan, dan perajutan, percetakan atau pengecapan, serta industri pakaian jadi. Seluruh produk subsektor industri ini: sering disebut Tekstil dan Produk Tekstil, disingkat] TPT.

Industri pemintalan dan pertenunan tradisional sudah ada di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda.” Bahkan sampai masa modernisasi, yakni hingga awaf era Orde Baru, industri tekstil Indonesia praktis hanya; berfungsi sebagai penenun dan perajut, karena semua bahan baku masih harus diimpor. Dengan disahkan-; nya Undang-undang Penanaman Modal Asing dafl. Dalam Negeri (PMA dan PMDN) tahun 1967 dan 1968, mulailah berkembang industri-industri penunjang lain seperti industri pemintalan dan industri, terutama serat sintetis, yang menyediakan bahan baku untuk memproduksi tekstil jadi. Dalam waktu beberapa tahun sejak itu, industri tekstil dalam negtf berkembang makin modern dan makin terpadu.

Benang pintal untuk bahan tekstil dibuat dengan mesin.

Industri pakaian jadi baru mulai berkembang pada pertengahan tahun 70-an, yakni sewaktu produsen tekstil dalam negeri telah mampu menyediakan tekstil jadi untuk diolah menjadi pakaian jadi.

Perkembangan dan Kendala Industri Tekstil Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam dasawarsa 70-an untuk memacu industri dalam negeri sebagai substitusi produk impor, telah berhasil mendorong pertumbuhan industri tekstil secara luar biasa. Kemudahan- kemudahan berupa proteksi dan subsidi kredit diberikan unruk merangsang lebih banyak penanaman modal . lam subsektor industri ini, sehingga tanpa disadari telah terjadi overinvestasi.  Investasi besar- besaran ini kemudian berakibat overproduksi, karena tidak diimbangi dengan upaya perluasan pasar yang memadai. Dengan adanya proteksi yang bersifat monopoli, produsen kurang memperhatikan mutu produknya, sehingga meskipun impor tekstil jadi dilarang, penyelundupan untuk memenuhi kebutuhan tekstil kelas menengah ke atas terus berlangsung, dan produk dalam negeri tidak laku di pasar ekspor.

Sementara itu, konsumsi tekstil per kapita dalam negeri, yang hanya sekitar 11 meter persegi per tahun, masih sangat rendah dibanding negara-negara ASEAN lain. Meskipun kondisi perekonomian terus membaik selama dasawarsa 70-an, konsumsi tekstil ternyata meningkat sangat lamban, tidak sesuai dengan harapan produsen maupun pemerintah. Pada tahun 1981, produksi tekstil telah mencapai hampir 20 meter persegi per kapita, hingga terjadi banjir tekstil. Kelebihan produksi yang rata-rata bermutu rendah untuk tahun itu saja tercatat satu juta meter persegi lebih. Keadaan ini telah memaksa banyak pabrik tekstil gulung tikar.

Kelesuan dalam dunia pertekstilan Indonesia berlanjut ketika dunia dilanda resesi perekonomian, yang diikuti merosotnya harga minyak bumi di pasar internasional. Keadaan ini tanpa disangka-sangka membawa hikmah besar bagi pertumbuhan industri dalam negeri Indonesia, termasuk industri tekstil.

Dengan berkurangnya penerimaan dari sektor minyak dan gas bumi, pemerintah terpaksa memacu ekspor komoditas di luar migas demi menjaga kelangsungan pembangunan. Tekstil, yang teknologinya sudah dikuasai, serta mampu menyerap banyak tenaga kerja, merupakan salah satu komoditas pilihan. Untuk menggalakkan ekspor komoditas ini, berbagai kemudahan baru berupa penyederhanaan tata niaga, kemudahan memperoleh bahan baku, keringanan pajak, dan subsidi melalui Sertifikat Ekspor ditawarkan.

Para pengusaha tekstil dan produk tekstil kembali tergerak, serta mulai menggalang persatuan dalam satu organisasi asosiasi yang mewakili kepentingan berbagai jenjang. Mereka mati-matian berusaha menembus pasar ekspor. Bersama dengan pemerintah, mereka aktif mengadakan promosi ke luar negeri serta berpartisipasi dalam negosiasi perdagangan bilateral maupun multilateral. Hasil upaya ini mulai tampak dari nilai ekspor yang meningkat hampir tiga kali lipat di tahun 1984, yaitu senilai 484 juta dolar AS dibanding hanya sekitar 160 juta dolar AS pada tahun 1982.

Setelah jalur-jalur terbuka, ekspor kian melonjak dari tahun ke tahun, hingga mencapai satu miliar dolar AS dalam tahun 1987. Demikian gigihnya pengusaha tekstil memacu ekspor, sehingga bahkan ketika fasilitas ekspor dicabut tahun 1986, dan terdapat berbagai keterbatasan dan hambatan dalam pasar, ternyata ekspor tidak terganggu dan cenderung terus naik.

Atas dasar angka realisasi ekspor yang tinggi, pe-merintah menetapkan target sebesar 2,8 miliar dolar AS untuk tahun terakhir Pelita V mendatang (1993). Pemerintah memperhitungkan bahwa devisa yang di-peroleh dari ekspor selama ini dapat menjadi modal dasar untuk menambah kapasitas dan menyempurnakan struktur industri tekstil Indonesia yang sejauh ini dinilai masih kurang mantap dan efisien. Selain itu berbagai hambatan dan keterbatasan, baik yang merupakan faktor intern maupun ekstern, masih harus diatasi.

Incoming search terms:

  • pengertian industri tekstil
  • industri tekstil
  • pengertian pabrik tekstil
  • industri tekstil adalah
  • apa itu pabrik tekstil
  • apa itu industri tekstil
  • pengertian perusahaan tekstil
  • pabrik tekstil adalah
  • apa yang dimaksud industri tekstil
  • Apa yang dimaksud dengan industri tekstil

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian industri tekstil
  • industri tekstil
  • pengertian pabrik tekstil
  • industri tekstil adalah
  • apa itu pabrik tekstil
  • apa itu industri tekstil
  • pengertian perusahaan tekstil
  • pabrik tekstil adalah
  • apa yang dimaksud industri tekstil
  • Apa yang dimaksud dengan industri tekstil