PENGERTIAN INTERPRETASI EVOLUSIONER ROSTOW – Barangkali, teori modernisasi yang paling terkenal ialah teori dari ekonom W. W. Rostow (1960). Menurut Rostow, perkembangan ekonomi suatu masyarakat meliputi lima tahap perkembangan: tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan, dan tahap konsumsi massa tinggi. Semua masyarakat terbelakang berada dalam tahap yang disebut Rostow sebagaimasyarakat tradisional. Tahap inimeliputi “dunia pra-Newtonian: zaman dinasti-dinasti di Cina, Peradaban Timur Tengah dan daerah Mediterania, dunia Eropa abad pertengahan” (Rostow, 1960:5). Selain itu, masyarakat tradisional juga meliputi “masyarakat pasca Newtonian yang pada saat ini masih tak tersentuh atau tak berubah oleh kemampuan baru manusia untuk memanipulasi lingkungan demi kemajuan ekonominya” (1960:5). Dalam masyarakat-masyarakat ini, pertanian masih mendominasi aktivitas ekonomi, dan kekuatan politik umumnya berada di pihak penguasa tanah. Di sini produktivitas ekonomi bisa saja ditingkatkan, tapi karena kurangnya jangkauan ilmu pengetahuan modern kesempatan maju menjadi sangat terbatas. reanggotaan dalam keluarga umumnya memainkan peran yang kuat dalam kehidupan setiap individu. Sis tem nilai masyarakat tradisional berori\ntasi pada fatalisme. Walaupun masyarakat percaya bahwa usaha mereka memperbaiki keadaan bisa melahirkan beberapa perubahan, namun sebagian besar orang tetap percaya bahwa kehidupan cucu mereka akan kurang lebih sama dengan yang dialami oleh kakek mereka.

Masyarakat mulai berubah dari masyarakat tradisional ketika mereka mencapai prakondisi tinggal landas. Dalam tahap ini, suatu masyarakat mencapai keadaan sosial, politik, ekonomi, dan ideologi yang menawarkan pertumbuhan ekonomi. Gagasan yang ada melihat kemajuan ekonomi tidak hanya dimungkinkan, tapi Trienjadi suatu keadaan yang memang diperlukan oleh kehidupan yang ada sebelumnya. Pendidikan meluas dan menjadi makin erat terkait dengan sifat-sifat khusus aktivitas ekonomimodern. Tipe-tipe baru dari kepribadian muncul, individu-individu yang bersedia mengambil resiko agar dapat menjadi modern. Bank dan lembaga-lembaga perputaran modal lainnya muncul, dan lingkup investasi dan perdagangan meningkat secara berarti. Perusahaan-perusahaan pembuatan barang modern yang menggunakan cara-cara teknologis bermunculan. Perub ahan juga terjadi di dunia politik, khususnya dalam arti terbentuknya suatu pemerintahan pusat yang efektif. Tahap Tinggal landas dicapai ketika suatu masyarakat telah sampai pada titik yang mengantar pada keberlangsungan pertumbuhan ekonomi. Hambatan-hambatan klise bagi pertumbuhan ekonomi terlampaui dan pertumbuhan menjadi sifat yang inheren dalam masyarakat. Tinggal landas menciptakan peningkatan modal yang penting. Dalam tahap ini “angka investasi dan tabungan efektif mungkin meningkat dari, taruhlah, lima persen dari penghasilan nasional hingga sepuluh persennya atau lebih” (Rostow, -1960:8). Tahap Pematangan merupakan suatu periode panjang dalam perkembangan ekonomi yang terus-menerus ketika masyarakat itu menerapkan kapasitas teknologisnya yang baru untuk memperluas dan memperlebar jangkauan berbagai aktivitas ekonomi. Ekonomi bergerak lancar di bawah industri setempat yang telah mengantarkannya menuju tahap tinggal landas. Dalam tahap ini, Rostow memperkirakan bahwa rata-rata 10 hingga 20 persen penghasilan nasional diinvestasikan. Ia yakin bahwa pematangan akan memakan waktu sekitar 60 tahun untuk terlewati, terhitung sejak permulaan fase tinggal landas. Tahap konsumsi massa tinggi dicapai ketika banyak sektor penting (leading sector) dalam perekonomianberubah menuju produksi barang dan jasa konsumsi. Penghasilan per kapita terlalu tinggi bagi orang-orang untuk hanya mengkonsumsi kebutuhan dasar makan, papan, dan sandang. Analisis Rostow mengenai perkembangan ekonomi belum merupakan sebuah teori dan lebih merupakan sebuah deskripsi tentang tahap-tahap yang diyakininya harus dilampaui oleh masyarakat supaya mencapai kemajuan. Tapi ia telah memberikan perhatian kepada persoalan tentang apa yang mempercepat suatu masyarakat bergerk dari tahap masyarakat tradisional. Fakto yang ia beri tekanan terbesar ialah apa yang ia sebut “nasionalisme reaktif”, suatu gejala yang diakibatkan oleh “penghinaan terhadap harga diri , nasional yang disebabkan oleh campur tangan kekuatan asing.” Rostow yakin bahwa penghinaan yang keterlaluan oleh kekuatan asing telah memainkan peran paling tidak sepenting motive profit dalam mendorong para pemimpin untuk memodernisasikan masyarakatnya sedemikian rupa, sehingga dapat menangkal kekuatan asing.

Walaupun analisis Rostow lebih memusatkan pada sebab-sebab kemajuan daripada sebab-sebab keterbelakangan, namun dalam karyanya ada implikasi konsep teoritis tentang keterbelakangan. Masyarakat terbelakang ialah masyarakat yang belum melampaui tahap masyarakat tradisional. Mereka masih harus mengalami rangsangan-rangsangan penting bahwa bila masyarakat tersebut cepat mereorganisasikan diri, maka pertumbuhan ekonomi yang berlangsung dengan sendirinya akan dapat diwujudkan. Masyarakat terbelakang tidak mempunyai pola-pola sosial, struktur politik, dan nilai-nilai yang menawarkan kemajuan ekonomi. Tanpa adanya unsur-unsur tersebut, masyarakat ini akanmelestarikan tingkat produktivitas ekonomi yang rendah. Namun, walaupun sangat termasyhur, analisis tentang kemajuan dan keterbelakangan Rostow tidak sangat mengesankan. Sebagian besar pembahasannya ditopang oleh deskripsi yang rinci mengenai tahap-tahap perkembangan itu, terutama empat tahap yang terakhir. Deskripsi yang rinci ini terbatas penggunaannya. Sebagaimana ditunjukkan Baran dan Hobsbawm (1973), sekali tahap tinggal landas telah dicapai, tahap-tahap yang terjadi kemudian dan yang mengikutinya berarti ciisebabkan olehnya. Jadi, pengidentifikasian tahap-tahap ini memberitabu kita sekilas bahwa kita belum tahu apa-apa. Selain itu, “keberadaan (suatu masyarakat terbelakang) dalam salah satu tah ap Rostow tidak membawa kita mendekat kepada pemahaman tentang keaclaan ekonomi dan sosial suatu masyarakat atau memberi kita petunjuk mengenai kemungkinan-kemungkinan dan prospek-prospek perkembangan suatu masyarakat” (Baran dan Hobsbawm, 1.973:51). Dengan kata lain, penjelasannya tidak memberi kita pengertian mengenai apa penyebab kemajuan dan keterbelakangan itu. Bahkan ketika Rostow mengemukakan mekanisme yang memacu per-kembangan, dasar analisisnya nampak belum mantap. Memang sesuatu hal seperti yang disebut Rostow dengan “nasionalisme reaktif” telah seringkali terjadi dalam sejarah manusia yang berkaitan dengan perkembangan kapitalisme dan industrialisme modern. Namun, kejadian-kejadian itu belum terlihat sebagai penyebab perkembangan ekonomi sebagaimana yang dikatakan Rostow. Bisa jadi sebuah kasus bahwa nasionalisme reaktif yang ada dalam pikiran Rostow dalam beberapa hal berbeda dari kejadian-kejadian historis serupa sebelumnya. Tapi jika ini yang terjadi, mengapa Rostow tidak mengatakannya begitu.

Filed under : Bikers Pintar,