Advertisement

PENGERTIAN ISU SPESIFIK DALAM TERAPI BAGI ORANG LANJUT USIA – Insiden gangguan otak meningkat seiring bertambahnya usia, namun seperti yang kita lihat masalah kesehatan mental lainnya pada orang lanjut usia tidak terlalu berbeda dari masalah yang dialami dalam masa usia terdahulu. Meskipun para ahli klinis perlu memahami bahwa ketidakmampuan fisik dan konsumsi obat dapat memperberat masalah psikologis, konsistensi dan keberlanjutan dari beberapa dekade terdahulu dalam hidup seorang lanjut usia juga perlu dicermati.

Distress emosional orang lanjut usia dapat merupakan reaksi realistis terhadap berbagai masalah dalam hidup. Penyakit medis dapat menimbulkan berbagai masalah yang tidak dapat dipulihkan pada kaki, penglihatan, dan pendengaran. Keuangan juga dapat menjadi masalah. Para terapis yang menangani masalah psikologis pada orang lanjut usia harus mengecamkan dalam pikirannya bahwa sebagian besar merupakan respons yang dapat dipahami terhadap berbagai tantangan kehidupan nyata dan bukan merupakan suatu gejala psikopatologi. Namun, intervensi profesional masih dapat membantu.

Terapi bagi orang lanjut usia harus turut mempertimbangkan konteks sosial di mana mereka tinggal, sesuatu yang tidak dapat dilakukan hanya dengan membaca literatur profesional. Terapis yang, contohnya, mendorong seorang duda yang kesepian untuk mencari teman di pusat rekreasi bagi warga berusia lanjut di lingkungan tempat tinggalnya dapat memberikan saran yang salah jika karakteristik pusat rekreasi tersebut tidak cocok dengan pasien terkait; pengalaman semacam itu dapat membuat pasien terkait merasa lebih kesepian. Semua organisasi sosial, bahkan yang kurang terstruktur seperti pusat lanjut usia, mengembangkan nilai-nilai dan praktik-praktik tersendiri, atau yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai ekologi sosial. Beberapa di antaranya dapat menoleransi kelemahan fisik, sedangkan yang lain tidak. Beberapa di antaranya dapat dikunjungi terutama oleh orang-orang yang sebelumnya adalah profesional bergaji tinggi, yang lain memiliki pengunjung rutin terutama dari kalangan mantan pasien rumah sakit mental pemerintah. Para pekerja perawatan kesehatan mental perlu mengetahui dan memahami berbagai lingkungan sosial di mana pasien mereka yang berusia lanjut tinggal. Kita menerima kebu tuhan tersebut apa adanya ketika menghadapi pasien yang berusia lebih muda, namun ungkap Knight, sering kali tidak mempertimbangkannya ketika berhadapan dengan pasien berusia lanjut.

Para pasien lanjut usia sering kali memiliki kebutuhan sosial yang berbeda dengan orang-orang yang berusia lebih muda. Keprihatinan luas di kalangan masyarakat bahwa orang-orang tua terisolasi secara sosial dan bahwa mereka perlu didorong untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain, seperti yang mungkin mereka lakukan semasa muda, tampaknya tidak berdasar. Tidak ada hubungan antara kadar aktivitas sosial dan kesejahteraan psikologis di kalangan orang lanjut usia. Ketika usia kita bertambah, minat kita berubah dari mencari interaksi sosial yang baru ke memperkuat beberapa hubungan sosial yang benar-benar penting bagi kita, seperti menghabiskan waktu dengan keluarga dan dengan teman-teman serta rekanan dekat.

Maka, kemudian yang dipandang oleh terapis sebagai penarikan diri dari kehidupan sosial yang secara psikologis membahayakan sesungguhnya merupakan selektivitas sosial. Ketika kita tidak memiliki banyak waktu yang tersisa, kita cenderung memberikan nilai yang lebih tinggi pada keintiman emosional daripada mempelajari lebih banyak tentang dunia. Preferensi ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang berusia lanjut, namun juga bagi orang yang berusia lebih muda yang menganggap bahwa mereka memiliki waktu yang terbatas, seperti ketika mereka bersiap untuk pindah jauh dari orang-orang yang dirasa terdekat dengan mereka atau jika mereka mengidap AIDS. Bila kita tidak dapat melihat masa depan tanpa akhir, kita lebih memilih untuk tidak banyak berinteraksi dengan kenalan biasa seperti yang dapat ditemui oleh seseorang di pusat rekreasi bagi orang lanjut usia dan lebih selektif dalam memilih dengan siapa kita ingin menghabiskan waktu kita yang terbatas.

Perempuan dapat dua kali lebih menderita sebagai pasien psiko terapi karena tidak hanya sikap ageist, namun juga sikap seksisme yang dapat berpengaruh negatif terhadap psikoterapi. Contohnya, stres pada pasangan lanjut usia dapat meningkat ketika suami pensiun. Suatu tujuan terapeutik yang umum ditetapkan adalah membantu istri untuk mengakomodasi hilangnya status si suami dan mencoba menghabiskan waktu lebih banyak dengan suami setiap harinya daripada membantunya melakukan akomodasi.

Ekspektasi dan nilai yang dimiliki kelompok lanjut usia yang ada dewasa ini dalam perkawinan dapat cukup berbeda dengan mereka yang berusia 50-an tahun atau kurang, setidaknya di masyarakat barat. Sebagian besar pembaca buku ini mungkin mengharapkan bahwa perkawinan akan memberikan kebahagiaan dan pemenuhan pribadi. Bila ekspektasi ini tidak terpenuhi, sering kali terjadi perceraian orang-orang yang dewasa ini berusia 70-an tahun atau lebih dapat memiliki ekspektasi yang berbeda. Orang-orang tersebut menikah di masa ketika stabilitas dan komitmen menjadi landasan perkawinan dan sering kali menjadikannya sebagai prioritas di atas pemenuhan pribadi.

Kematian dan kesekaratan sangat membayangi terapi bagi pasien lanjut usia. Mereka dapat membu tuhkan bantuan dalam menga tasi ketaku tan menghadapi kematian atau penyakit melemahkan yang memerlukan alat bantu hidup. Mungkin akan berguna untuk memberikan konseling bagi beberapa klien berusia lanjut untuk mengkaji hidup mereka dengan menggunakan perspektif filoso fis dan religius. Perspektif tersebut dapat membantu beberapa orang melampaui keterbatasan eksistensi manusia karena penuaan. Ketika seseorang sekarat, diskusi tentang makna hidupnya dapat memfasilitasi keterbukaan diri dan meningkatkan rasa sejahtera dan pertumbuhan diri (lihat pembahasan mengenai kajian kehidupan berikut ini). Orang-orang yang dicintai individu terkait, yang akan mengalami kehilangan yang tidak terhindarkan, juga dapat memperoleh manfaat dari diskusi semacam itu.

Beberapa karakteristik penuaan dapat bermakna bahwa terapi akan berjalan secara berbeda. Contohnya, beberapa jenis proses berpikir memerlukan waktu lebih lama pada banyak .orang lanjut usia. Orang lanjut usia juga cenderung mengalami penurunan dalam banyaknya hal-hal yang dapat mereka pikirkan dalam satu waktu. Oleh karena itu, para terapis dapat memahami bahwa akan membantu bila bertindak dengan pertimbangan yang lebih besar ketika rnenangani seorang lanjut usia. Penjelasan harus lebih rinci dan percakapan harus lebih lama. Para terapis harus menghindari kecenderungan umum, ketika orang lain tampaknya tidak mengikuti alur percakapan, menjadi gugup dan berbicara dengan suara lebih keras; reaksi yang disebutkan terakhir dapat timbul karena pendapat stereotip bahwa kelemahan pendengaran pada orang lanjut usia menyebabkan terjadinya masalah komunikasi.

Dalam bahasan singkat yang bersejarah mengenai psikoterapi bagi orang lanjut usia, Knight, Kelly, dan Gatz (1992) membahas kajian kehidupan, yang disusun oleh Butler (1963) sebagai suatu pendekatan terapeutik yang secara unik cocok bagi orang lanjut usia. Pendekatan ini mencerminkan pengaruh teori perkembangan sepanjang hidup dari Erik Erikson (1950, 1968), yang mempostulasi tahap-tahap konflik dan pertumbuhan hingga ke masa tua. Kajian kehidupan memfasilitasi suatu hal yang tampaknya merupakan kecenderungan alami pada orang lanjut usia untuk merenungkan hidup mereka dan mencoba memaknai segala sesuatu yang telah terjadi pada mereka.

Proses dalam terapi itu sendiri dapat menimbulkan ketergantungan. Orang lanjut usia, apakah tinggal di suatu institusi atau di rumah bersama orang-orang yang merawatnya, sering kali menerima jauh lebih banyak penguatan sosial (perhatian, pujian) untuk perilaku bergantung, seperti meminta tolong atau memedulikan pendapat terapis mereka, daripada untuk berbagai behavioral yang menunjukkan kemandirian. Spesialisasi gerontologi perilaku yang semakin berkembang  menekankan pada membantu orang lanjut usia untuk meningkatkan harga diri mereka dengan memfokuskan pada perilaku kecil yang spesifik dan menyimpang, seperti mengendalikan kebiasaan buang air dengan lebih baik, meningkatkan perilaku merawat diri sendiri dan mobilitas, dan meningkatkan keterampilan bercakapcakap melalui telepon sebagai cara untuk meningkatkan kontak sosial. Perkembangan baru-baru ini, meskipun bukan berupa terapi formal, mencakup pengajaran keterampilan menggunakari komputer bagi orang lanjut usia sehingga mereka dapat mengakses internet dan melakukan jenis kontak sosial yang beberapa tahun sebelumnya tidak terbayangkan.

Apa pun orientasi teoretisnya, semua terapis harus mampu menginterpretasi ekspresi wajah para pasien mereka sebagai alat bantu untuk memahami makna kata-kata yang diucapkan pasien dan untuk memahami pengalaman fenomenologis mereka tentang dunia. Penelitian mengenai perubahan emosional di sepanjang rentang kehidupan menunjukkan potensi kesalahan yang nyata bila terapis yang lebih muda menangani pasien lanjut usia. Mengapa pengalaman hidup mereka yang lebih bervariasi dan lebih luas, emosi orang lanjut usia dapat lebih kompleks dan lebih halus dibanding emosi orang yang lebih muda? Hal ini membuat orang-orang yang lebih muda lebih banyak salah mengidentifikasi emosi di wajah orang lanjut usia dibanding bila mereka mengidentifikasi orang yang lebih mendekati usia mereka. Semua itu semakin memperbanyak tantangan dalam penanganan terapeutik orang lanjut usia.

Terakhir, sebuah aspek psikoterapi, terlepas dari orientasi teoretis, yang digarisbawahi dalam penanganan pasien lanjut usia adalah sesuatu yang berkaitan dengan konsep analitis yaitu kontratransferensi. Para terapis, yang biasanya jauh lebih muda dibanding pasien-pasien tersebut, dapat terbebani oleh masalah pasien karena masalah tersebut dapat menyentuh daerah pribadi yang sensitif bagi terapis,-seperti konflik yang tidak terselesaikan dengan orang tua mereka sendiri, khawatir dengan proses penuaan mereka sendiri, dan keengganan untuk menghadapi isu kematian dan kesekaratan. Seperti diungkapkan oleh Knight, Kelly, dan Gatz (1992), “persepsi bahwa terapi bagi orang lanjut usia memiliki perbedaan diperkirakan timbul dan dampak emosional menangani orang lanjut usia bagi terapis dan bukan perbedaan aktual dalam teknik, proses, atau kemungkinan keberhasilan. (Menangani orang lanjut usia) akan menjadi tantangan intelektual dan emosional bagi terapis untuk mencapai kematangan melampaui usia mereka”.

Filed under : Bikers Pintar,