Advertisement

Dalam kehidupannya sejak manusia mulai membangun peradabannya komunikasi di antara mereka senantiasa berlangsung. Namun, kondisi geografi yang terpisah membuat manusia mengembangkan teknologi komunikasinya, baik dengan menggunakan tanda-tanda bunyi seperti kentongan dan peluit atau de-ngan tanda-tanda seperti asap, sinar cahaya atau lampu dan sebagainya. Bangsa Romawi yang berperadaban maju juga mengembangkan komunikasi melalui pos sejak abad II—IV. Hal ini dimungkinkan karena bangsa Romawi banyak mem-bangun jalur jalan yang baik dari kota Roma ke wilayah-wilayah taklukkannya. Sejak saat itu komunikasi melalui pesan surat yang diantarkan oleh pegawai pos berkembang terus, bahkan sampai abad XXI. Pada saat ini perkembangan itu makin maju karena menggunakan moda teknologi transportasi yang juga terus berkembang pesat.

Di wilayah Indonesia sistem pos diperkenalkan oleh orang Eropa yang datang ke Nusantara. Sejak mereka mulai menguasai wilayah Nusantara, sistem pos juga mulai diperkenalkan di Hindia Timur (Nusantara) oleh Perhimpunan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oost Indis Antaran pos dilakukan dengan menggunakan kuda tunggangan dan kereta kuda, sedangkan untuk ke pulau-pulau lainnya diangkut dengan kapal-kapal VOC yang berlayar ke berbagai tujuan untuk berdagang atau urusan dinas.

Advertisement

Meskipun demikian, antaran pos masih merupakan komunikasi yang mahal dan sering kali lebih mengutamakan kepentingan dinas atau kepentingan ekonomi VOC. Pada awal abad XIX terjadi perubahan politik yang mendasar karena VOC dibubarkan sebagai akibat banyaknya kerugian dan salah urus. Pemerintah Kerajaan Belanda kemudian mengambil alih wilayah jajahan VOC. Pemerintah kerajaan waktu itu sudah dikuasai oleh Prancis (1790-an) yang telah menduduki Belanda dalam kekacauan selama perang-perang akibat Revulosi Prancis. Di Hindia Belanda (yaitu sebutan untuk Hindia Timur atau Nusantara) kekuasaan dipimpin oleh Marsekal Herman William Daendels yang memerintah atas nama Napoleon Bonaparte di Prancis. Daendels membangun jalan raya sejauh 1.000 km antara Anyer di ujung barat Pulau Jawa sampai Panarukan di ujung timur, yang pada awalnya merupakan bagian dari sistem pertahanan untuk melindungi Pulau Jawa dari serangan Inggris. Pembangunan jalan antara 1808-1810 ini telah membuka transportasi darat di Pulau Jawa yang selama ini sangat sulit dilalui. Dengan menggunakan ‘Jalan Raya Daendels’ inilah kiriman pos dapat dilakukan dengan lebih lancar dan lebih cepat.

Melalui jalan raya ini jaringan pos dari Anyer ke Batavia dan Buitenzorg (Bogor) menjadi lebih lancar. Kemudian jaringan pos dan pendirian kantor pos mulai didirikan di seluruh Pulau Jawa sejak 1832. Sementara itu, moda angkutan masih belum berubah, yaitu menggunakan kuda tunggangan dan kereta kuda, sehingga kiriman pos dari Batavia ke Surabaya masih ditempuh dalam waktu 5 hari perjalanan kereta kuda. Selain itu, kiriman pos ke luar Pulau Jawa masih dilakukan dengan kapal-kapal layar milik pemerintah. Akan tetapi, sejak tahun 1840-an antaran pos ke daerah luar pulau mulai menggunakan kapal uap yang lebih cepat dan efisien karena tidak terhambat oleh musim dan tiupan angin.

Perusahaan pelayaran Core de Vriesdengan armada kapal uapnya kemudian membantu antaran pos sejak 1840-an sampai berdirinya perusahaan Indies Steam Navigation Company(NISN). Perusahaan milik usahawan Inggris ini mengikat kontrak dengan pemerintah sampai 1890. Pada tahun 1891 para pengusaha Belanda membentuk perusahaan pelayaran                (KPM) untuk menyaingi perusahaan NISN yang dimiliki Inggris. Pemerintah Belanda kemudian ditekan oleh KPM untuk mengalihkan monopoli angkutan pelayaran dari NISN ke KPM. Pelayaran KPM ini menjangkau hampir seluruh wilayah kepulauan di Hindia Belanda termasuk daerah-daerah kepulauan terpencil. Hal ini berdampak pada layanan pos yang semakin meluas dan cepat di seluruh Hindia Belanda. Pelayaran oleh KPM ini bahkan berlangsung sampai pada masa Indonesia sudah merdeka tahun 1950-an, bahkan KPM ketika itu memegang 70% angkutan penumpang dan barang di Indonesia. KPM menjadi perusahaan yang lebih besar selain Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).

Era kiriman pos juga sangat berkembang di Pulau Jawa dan Sumatra karena masuknya teknologi transportasi kereta api yang mulai diperkenalkan pada 1860-an di Jawa Tengah yang menghubungkan Semarang-Solo-Yogyakarta. Jalur kereta api yang dibangun pada 1871 antara Batavia-Bogor makin mempercepat antaran pos. Pada 1890-an jaringan kereta api sudah menyatukan sebagian besar wilayah Jawa dari Batavia sampai Surabaya. Karena itu, antaran pos menjadi jauh lebih cepat, yaitu dari lima hari dengan kereta kuda menjadi hanya satu malam dengan kereta api.

Di wilayah Sumatra, pembangunan jalur rel dari Kutaraja ke Medan sejauh 569 km sejak 1876-1897 sangat membantu transportasi manusia dan barang, termasuk kiriman pos. Di Aceh jalur kereta api dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, sedangkan di Sumatra Timur dibangun oleh Deli Stoomtram Maatschappij (DSM). DSM juga membangun jalur ke selatan Medan, yaitu ke arah Pematangsiantar dan Tanjungbalai sampai 1918. Jalur kereta api juga dibangun di Sumatra Selatan, yang menghubungkan Palembang dengan Telukbetung dengan cabangnya ke Lahat, selesai pada 1925. Sementara di Sulawesi Selatan jalur pendek dibangun antara Makassar-Takalar sejauh 47 km dan selesai pada 1922. Jalur-jalur kereta api ini telah meningkatkan layanan kiriman pos oleh perusahaan Pos Hindia Belanda.

Dengan diciptakannya pesawat terbang sebagai moda transportasi yang baru, layanan pos udara (airmail) juga dikembangkan di Hindia Belanda pada 1920-an. Pada 1 Oktober 1924, pilot Belanda T. van der Hoop menerbangkan sejumlah kantong kiriman pos dari Amsterdam menuju Batavia (Jakarta) dengan sebuah pesawat kecil Fokker F7, yang hanya membawa 300 surat dalam perjalanan selama 55 hari dengan rute Eropa Timur, Turki, Irak, Persia, Pakistan, India, Burma, Medan, Bangka dan terakhir tiba di Jakarta. Pesawat melakukan penerbangan selama lebih dari 127 jam terbang. Sejak 1927 layanan pos udara dilakukan ke berbagai wilayah di Indonesia, dengan menggunakan pesawat yang diberi nama’merpati pos’ (post duif). Sejak saat itu perkembangan pos berlang-sung sampai Indonesia merdeka.

 

Advertisement