Advertisement

Pada era awal abad XXI ini dunia percetakan di Indonesia sudah berkembang dengan sangat maju. Perkembangan terbaru dunia percetakan ini diakibatkan oleh adanya inovasi dalam penemuan program-program komputer terbaru yang sangat memudahkan manusia mencetak buku, brosur, surat kabar, dan majalah. Teknologi cetak digital (digital printing) menjadikan ongkos mencetak menjadi sangat murah, bahkan beberapa surat kabar dapat melakukan cetak jarak jauh untuk menghemat ongkos angkut koran atau majalahnya. Sebagai contoh, surat kabar Kompas dapat menghemat ongkos angkut dengan mendirikan percetakan jarakjauh di Bawen, Semarang. Para pelanggan Kompas di JawaTengah, Yogyakarta dan sebagian Jawa Timur dapat menerima kiriman surat kabar pada pagi hari, dan tidak lagi siang atau sore hari seperti terjadi pada waktu sebelum adanya cetak jarak jauh. Begitu juga dengan industri percetakan buku yang sangat berkembang pesat, toko-toko buku dibanjiri aneka ragam buku. Pada saat ini mencetak buku bukan lagi monopoli perusahaan besar, karena teknologi komputer dan mesin cetaknya tidak lagi menjadi barang yang mahal harganya.

Sudah tentu hal tersebut sangat berbeda pada awal atau pertengahan abad XX misalnya. Bahkan mesin fotokopi saja baru populer pada 1970-an. Oleh sebab itu, ada baiknya jika kita mengetahui sejarah perkembangan percetakan di Indonesia pada masa lalu. Sebuah alat percetakan didatangkan ke kota Batavia (sekarang Jakarta) pada 1668 dan ditempatkan di jalan yang bernama Pada waktu itu dicetak pamflet yang memberitakan kemenangan Belanda (VOC, Perhimpunan Dagang Hindia Timur) menaklukkan Kesultanan Makassar, bahkan mesin cetak ini juga dipergunakan untuk mencetak buku kamus bahasa Melayu pada awal abad XVII. Mesin cetak kedua didatangkan pada 1718 di (benteng di Batavia), yang digunakan untuk mencetak peraturan-peraturan pemerintah dan buku-buku resmi tahunan pemerintah. Bahkan di akhir abad XVIII, mesin cetak ini dipakai untuk mencetak artikel-artikel ilmiah dari lembaga keilmuwan Bataviaasch Genootschap,tahun 1778.

Advertisement

Pada 1743, Gubernur Jenderal VOC, van Imhoff mendirikan percetakan ketiga untuk pemerintah dan juga seminari untuk mencetak kitab suci agama Kristen (Bibel). Pada saat itulah pertama kali van Imhoff menerbitkan lembaran berita. Bataviase Nouvellessebagai cikal bakal perkembangan pers yang pertama di Indonesia. Pada 1810, Gubernur Jenderal Daendels mendirikan percetakan milik negara    (landsdrukker ij)yang kemudian mencetak. Setelah itu percetakan dan penerbitan surat kabar semakin berkembang pada masamasa selanjutnya, terutama oleh pihak swasta orang Belanda, Cina, dan pribumi, antara lain W. Bruining di Batavia, van Dorp di Semarang, dan Tan Khoen Swie di Kediri. Perusahaan percetakan W. Bruining menerbitkan surat kabar Het Advertentie Bladsejak 1851 dan Java Bode pada 1852. Sementara itu di Surakarta sejak 1855 terbit koran Bromartaniyang diterbitkan oleh Harteveld & co, dan koran Djawi Kandapada 1891 diterbitkan oleh Albert Roeche, koran terbit 1895 oleh penerbit Kolf Bunning, sedangkan koran milik bumiputera adalah Koran berbahasa Melayu diterbitkan oleh van Dorp sejak 1860, yaitu Melajoe, sedangkan penerbit Tionghoa juga menerbitkan koran Melayunya seperti Pewarta Soeraja(1902), Kabar Perm ‘agaan(1902), (1903), dan lainlain. Pada masa pergerakan nasional banyak organisasi politik dan sosial yang menggunakan penerbitan koran atau majalah sebagai alat perjuangannya, seperti Oetoesan Hindia(1913), dan Saroetomomilik Sarekat Islam, milik Budi Utomo (1909), Mingguan Adilmilik Muhammadiyah, milik organisasi Persatuan Islam dan lain-lain.

Advertisement