Advertisement

PENGERTIAN JURNALISTIK – Dari bahasa Belanda journalistiek, merupakan ilmu, seni, dan keterampilan dalam pe­nyajian atau penyampaian informasi tentang peristiwa aktual dengan menggunakan media komunikasi massa tercetak atau elektronik. Peristiwa tersebut dapat me­rupakan peristiwa bertaraf lokal, nasional, ataupun internasional yang terjadi dari hari-ke-hari dan dila­porkan secara terbuka untuk diketahui seluas mung­kin oleh khalayak (pembaca, pendengar, atau penon­ton). Dengan demikian, masyarakat akan memperoleh penerangan yang seluas-luasnya dan mengetahui se­gala kejadian di sekitarnya, dan di tempat yang jauh sekalipun.

Ilmu ini tumbuh pada abad ke-17 dengan adanya penemuan alat-alat cetak dan tumbuhnya pengusaha yang memanfaatkan percetakan untuk berwiraswasta.

Advertisement

Di Jerman, ilmu ini dikenal sebagai Publizistik (publisistik). Ilmu ini merupakan pengembangan dari Zeitungswissenschaft (ilmu persuratkabaran) sesudah orang juga mengenal berbagai media lain di luar su­rat kabar. Tetapi, menurut wartawan dan pengarang Djamaludin Adinegoro, jika jurnalistik merupakan kepandaian praktis maka publisistik adalah kepandai­an ilmiah. Jurnalistik meliputi bidang pelajaran untuk mendidik mahasiswa menjadi wartawan dan meng­ajarkan praktik jurnalistik. Sedangkan publisistik me­liputi pengetahuan untuk mendidik sarjana dalam ilmu publisistik.

Jurnalistik merupakan kejuruan dan kepandaian yang menjadi salah satu objek ilmu publisistik. Ilmu publisistik mempelajari seluk beluk penyiaran berita dalam keseluruhannya dengan meninjau segala saluran atau media, bukan saja pers tercetak, tetapi juga ra­dio, film, teater, dan bahkan rapat umum.

 

Pendidikan Jurnalistik.

Sebelum Perang Dunia II, jenis pendidikan jurnalistik sistem Jerman sangat ber­beda dengan sistem Amerika Serikat. Di Jerman, sis­tem pendidikan dipusatkan pada Zeitungswissenschaft dan Zeitungskunde (pengetahuan teknis persurat­kabaran). Sedangkan di Amerika Serikat dipusatkan pada practice of journalism (praktik jurnalistik).

Sistem Jerman, yang terutama menyiapkan para ahli dan bukan praktisi jurnalistik, berlaku di Eropa pada umumnya. Sistem itu kemudian ditiru Jepang, dan berpengaruh juga di negeri-negeri di Benua Ame­rika. Sistem Amerika Serikat, yang terutama menyiap­kan para lulusan perguruan tinggi untuk terjun da­lam karier jurnalistik aktif, menyebar ke negeri-negeri di Amerika Latin dan diperkenalkan pula di Cina. Wa­laupun demikian, di Amerika Serikat pun sudah lama diakui pentingnya jurnalistik sebagai ilmu, yang di­bedakan dari jurnalistik sebagai seni. Jurnalistik di­pandang sebagai bagian sosiologi, ilmu politik, dan psikologi.

Di Eropa, Zeitungskunde dan Zeitungswissenschaft kemudian berkembang menjadi ilmu Publizistik (dari publizieren, Jerman, yang artinya menerbitkan, me­nyiarkan, mengumumkan, dan menyebarluaskan). Di Amerika, ilmu jurnalistik berkembang menjadi ilmu komunikasi massa. Kedua ilmu itu tumbuh sendiri- sendiri di kedua benua, tetapi kemudian saling mem­pengaruhi. Ilmu-ilmu jurnalistik, publisistik, dan ko­munikasi massa masuk pula ke Indonesia dan diajar­kan di berbagai perguruan tinggi.

Gaya penyusunan dan penyajian informasi aktual dalam kegiatan jurnalistik cukup banyak ragamnya. Perbedaan gaya ini melahirkan bermacam-macam pe­namaan, antara lain seperti diuraikan berikut ini:

Jurnalistik Elektronik yang disebut juga Jurnalis­tik Siaran (broadcast journalism) digunakan dalam siaran radio dan televisi, serta dalam film dan rekaman video. Kalimat yang diucapkan harus sependek mung­kin dan anak kalimat dihindari, agar lebih mudah di­tangkap oleh telinga dan lebih cepat dipahami oleh pendengar dan penonton. Gaya penyajian ini dibeda­kan dari Jurnalistik Surat Kabar {newspaper jour­nalism), Jurnalistik Majalah Berita (news-magazine journalism), dan Jurnalistik Kantor Berita (news­service journalism) yang lebih leluasa menggunakan kalimat yang lebih panjang. Apabila penyajian la­poran oleh media elektronik tidak dapat dengan se­ketika didengar ulang, penyajian oleh media tercetak dapat dibaca ulang pada saat itu juga.

Jurnalistik Foya-foya (Junket journalism) dilaku­kan oleh wartawan yang mengadakan perjalanan jur­nalistik dengan biaya berlebihan dari pihak peng­undang yang mempunyai kepentingan promosi komer­sial. Laporan wartawan serupa ini biasanya berkadar rendah dan tidak mementingkan bobot.

Jurnalistik Kepeng (jurnalistik buku cek) menyang­kut penyajian informasi yang sumbernya mendapat pembayaran dari wartawan atau pengelola media massa. Kepeng berasal dari bahasa Batak, yang arti­nya uang. Jumlah pembayaran yang paling mengejut­kan ialah pembayaran yang diberikan kepada bekas Presiden Richard Nixon dari Amerika Serikat untuk wawancara televisi Inggris yang terdiri atas empat ba­gian berjudul The Nixon Interviews, Wawancara de­ngan Nixon, disiarkan pada bulan Mei 1977. Ia men­dapat honorarium 600.000 dolar AS, ditambah ke­untungan dari penyiaran di negeri-negeri lain. Di Indo­nesia, wawancara dengan pembayaran kepada sum­ber informasi kadang-kadang juga terjadi.

Jurnalistik Komprehensif adalah gaya penyajian informasi yang lengkap dengan cara bertutur atau berurai sehingga bentuknya lebih mengarah kepada feature daripada berita. Permasalahan dikupas secara lebih mendalam daripada berita. Gaya ini, umpama­nya, dipakai dalam majalah-majalah berita Tempo, Editor, Time, dan Newsweek.

Jurnalistik Partisan atau Jurnalistik Pembelaan biasanya digunakan oleh Pers Jihad atau Surat Ka­bar Perang Sabil (crusading newspaper) dengan gaya tulisan yang membakar semangat untuk membela ga­gasan perjuangan tertentu. Gagasan politik dan ideo­loginya dikemukakan secara subjektif karena keyakin­annya yang kuat pada pendiriannya. Ini merupakan gejala umum di kalangan surat-surat kabar pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penentang PKI menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Jurnalistik Pelayanan Umum bertujuan menggu­gah pemerintah dan masyarakat agar menanggulangi hal-hal tak beres yang menjadi kepentingan orang ba­nyak. Misalnya, melaporkan secara terinci fakta ten­dang kurangnya perlindungan kepolisian bagi kese­lamatan masyarakat, atau pemungutan biaya tidak resmi dalam pengurusan surat-surat penting di kantor- kantor pemerintah.

Jurnalistik Pribadi mencerminkan sikap pemimpin redaksi dalam keseluruhan gaya penyajian informasi dan pendapat suatu media massa. Ini disebabkan oleh sangat dominannya pengaruh pemimpin redaksi da­lam penentuan kebijaksanaan media massa tersebut. Sarjana Perancis Henri Chambert-Loir dalam diser­tasinya, Mochtar Lubis: Une Vision de T Indonesie Contemporaine (Mochtar Lubis: Satu Pandangan ten­tang Indonesia Kontemporer) menyebut harian Indo­nesia Raya sebagai “surat kabar Mochtar Lubis”. De­mikian pula, Rosihan Anwar tidak dapat dipisahkan dari harian Pedoman, seperti halnya Burhanudin Mo­hamad (B.M.) Diah dari harian Merdeka.

Jurnalistik Sensasi tampil dalam beberapa ragam nama, di antaranya Jurnalistik Got {gutter journalism) dan Jurnalistik Kuning {yellow journalism). Kedua­nya menonjolkan berita seks, kejahatan, dan keke­rasan tanpa memperhatikan kode etik dan tanggrfhg jawab, sehingga disebut juga “jurnalistik tak berjiwa.” Jurnalistik Kuning dipelopori oleh pengusaha pers raksasa William Randolph Hearst di Amerika Se­rikat akhir abad ke-19. Istilah ini diambil karena to­koh komik yang secara tetap dimuat dalam surat ka barnya, World, diberi warna kuning pada bajunya dan dijuluki “Yellow Kid” (Anak Kuning). Jurnalistik sen­sasi lainnya ialah Jurnalistik Kasak-kusuk {gossip jour­nalism) yang mementingkan laporan desas-desus yang kebenarannya diragukan. Dikenal pula Jurnalistik Jazz {jazz journalism) yang muncul di Amerika Seri­kat pada tahun 1920-an dalam bentuk tabloid dengan banyak foto yang sama sensasionalnya dengan isi be­ritanya.

Incoming search terms:

  • penggertian journalims
  • pengertian journalism
  • pengertian praktik jurnalistik
  • pengertian junket journalism
  • pengertian jazz journalism
  • pengergian jurnalistik siaran
  • journalism pengertian
  • depinisi jurnalistik
  • publisistik dan jurnalistik adinegoro
  • definisi journalism

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • penggertian journalims
  • pengertian journalism
  • pengertian praktik jurnalistik
  • pengertian junket journalism
  • pengertian jazz journalism
  • pengergian jurnalistik siaran
  • journalism pengertian
  • depinisi jurnalistik
  • publisistik dan jurnalistik adinegoro
  • definisi journalism