Advertisement

PENGERTIAN KAIN – Salah satu benda budaya hasil karya manusia yang secara umum dikenal sebagai hasil tenunan yang dibuat untuk pakaian. Namun ada juga pakaian yang tidak dibuat dari hasil tenunan, melainkan dari kulit kayu yang dipukul-pukul dengan alat tertentu sehing­ga menjadi tipis dan melebar, lalu dipotong sesuai de­ngan kebutuhan dan dijahit dengan benang serat daun nanas, daun anggrek tanah, dsb. Bahan pakaian dari kulit kayu ini pun biasa digolongkan sebagai kain ju­ga. Selain untuk pakaian, kain digunakan pula untuk berbagai kebutuhan lain.

Pada mulanya kain berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca panas atau dingin. Ke­mudian fungsi kain menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upaca­ra yang menyandang nilai tertentu, sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Macam-macam kebutuhan yang dapat terpenuhi dengan menggunakan 1 kain menyebabkan timbulnya gagasan yang melahirkan warna-warni, bentuk, ukuran, hiasan dengan be­ragam motif. Kain sebagai simbol dititipi harapan, kepercayaan, nilai keindahan, atau makna lain yang terkait dengan upacara, status sosial, gengsi, dsb. Berbagai masyarakat suku bangsa di Indonesia telah mengembangkan pengetahuan untuk membuat kain sejak jaman prasejarah. Bahan untuk membuat kain juga bermacam-macam. Ada suku bangsa yang menggunakan aneka macam serat pohon, seperti serat pohon pisang, serat pohon dan daun anggrek tanah, serat rumput-rumputan, kapas, sutera, bulu binatang, benang emas murni, bahan sintetis, dll.

Advertisement

Kepandaian membuat tenun ikat sudah bermula da­ri abad ke-2 SM. Keterampilan ini masih berlanjut sampai sekarang, seperti dapat disaksikan, misalnya, pada berbagai suku bangsa di Nusa Tenggara. Kain tenun dengan bahan benang dari kapas sudah dimulai sejak abad ke-7, sebagai pengetahuan yang berasal da­ri India. Sejak jaman itu, benang serat tumbuh-tum­buhan menjadi terdesak penggunaannya. Namun ma­sih ada saja suku bangsa yang tetap membuat kain dari serat tumbuh-tumbuhan, misalnya orang Dayak Kan­tuk dan orang 3angir-Talaud. Kepala adat suku bang­sa Dayak di Kalimantan Tengah ditandai dengan penggunaanvkain yang dibuat dari daun anggrek (daun lemba). Benang sutera diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Islam dari Arab dan India sejak abad ke-13. Bahkan ada pendapat bahwa benang sutera yang ber­asal dari Cina sudah mulai ditenun pada abad ke-10 di Kerajaan Sriwijaya/Masyarakat yang menenun kain sutera terlihat di jalur perdagangan Selat Malaka, se­perti Riau, Jambi, Palembang, dll.

Indonesia terkenal sebagai salah satu negeri terbe­sar penghasil kain tradisional yang indah, bervariasi, penuh kreasi, dan terkait dengan berbagai unsur sis­tem budaya suku bangsa masing-masing. J. Fischer, seorang ahli tentang kain tradisional, berpendapat bahwa seni tenun tradisional paling canggih yang per­nah dihasilkan dunia berasal dari Indonesia, misalnya kain tenun ikat (lihat Tenun), kain songket (lihat Songket), kain batik (lihat Batik), dll. Pada tahun 1901, kain tradisional Indonesia pernah diperkenal­kan kepada masyarakat Eropa melalui pameran yang diadakan oleh G.P. Rouffaer di Den Haag.

Keterkaitan kompleks kain tradisional Indonesia dengan sistem kepercayaan, mulai dari proses pem­buatannya, pemakaiannya, dan fungsi lainnya, dapat disimak pada budaya berbagai suku bangsa. Misalnya pembuatan kain geringsing dari Tenganan, Bali, di­sertai proses ritual. Pembuatannya memakan waktu lama (enam tahun) karena proses pewarnaan dan pe­nenunan yang sulit. Kain ini dipakai semata-mata da­lam rangka upacara adat dan agama. Mereka percaya bahwa kain ini dapat menolak gangguan setan dan menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Harga kain ini sangat mahal.

Ulos, kain tenun tradisional Batak, dianggap mem­punyai nilai sakral, dan dipercaya mempunyai fungsi sebagai pelindung bagi roh dan jiwa pemiliknya. Ulos parompa sadun adalah sejenis ulos dengan ukuran dan ragam hias tertentu, yang digunakan sebagai kain penggendong anak. Bagi orang Batak Angkola, ulos ini merupakan perlambang yang mengandung hara­pan agar sang anak selalu sehat, panjang umur, dan murah rejeki. Kain batik mengenal bermacam-macam motif hiasan, seperti truntum, parang rusak, kawung kembang cengkeh, sido mukti, dll. Batik dengan motif sido mukti hanya boleh dipakai oleh pengantin yang sedang mengikuti upacara pernikahannya. Melalui motif ini tersirat harapan agar kedua pengantin hidup makmur dan mulia. Variasi kain tradisional dapat menjadi salah satu unsure identitas setiap suku bangsa. Di pihak lain, ber­bagai jenis kain, seperti kain batik dan tenun ikat, de­ngan keindahan dan kekayaan variasinya, serta mutu­nya yang tinggi, telah menjadi unsur identitas bangsa Indonesia.

Incoming search terms:

  • pengertian kain
  • Definisi kain
  • pengertian kain tradisional
  • pengertian motif kain
  • arti kain
  • kain adalah
  • apa yang dimaksud dengan kain
  • fungsi kain
  • Apa itu kain
  • apa yang dimaksud kain

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kain
  • Definisi kain
  • pengertian kain tradisional
  • pengertian motif kain
  • arti kain
  • kain adalah
  • apa yang dimaksud dengan kain
  • fungsi kain
  • Apa itu kain
  • apa yang dimaksud kain