Advertisement

PENGERTIAN KALIGRAFI – Dari bahasa Yunani kallos yang berar­ti keindahan dan graphein yang berarti menulis, ada­lah suatu seni menulis indah. Tulisan terdiri atas dua kategori, yaitu (1) tulisan fungsional, yang digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mengung­kapkan pikiran, mencatat kejadian, melaporkan se­suatu; (2) tulisan dekoratif, yang digunakan untuk tujuan keindahan dengan gaya penulisan tertentu, sehingga menghasilkan tulisan indah dan bagus di­pandang mata. Kaligrafi termasuk dalam kategori ke­dua. Pembagian ini sudah dikenal sejak abad ke-3. Filostratus pada abad itu mengatakan bahwa seorang bernama Apollonius dari Tyana mengadakan perja­lanan dengan ditemani dua orang keluarganya yang ahli dalam hal tulis-menulis. Salah seorang di antara­nya mencatat semua hal yang ditemui selama perja­lanan, yang seorang lagi menuliskan catatan tersebut dengan huruf yang indah.

Kaligrafi menuntut suatu keahlian menulis dan da­ya cipta yang tinggi, agar hasil karya seorang ahli kaligrafi dapat memuaskan orang yang melihatnya. Ada juga ahli kaligrafi yang hanya mempunyai keahlian menulis, dan tidak menciptakan gaya tulisan baru, melainkan menggunakan gaya tulisan yang sudah ada.

Advertisement

Kaligrafi Eropa menggunakan huruf Latin sebagai objek tulisan. Pada abad ke-I sudah terdapat naskah yang ditulis di atas daun lontar yang berupa karya sastra dan berisi ajaran agama Kristen.

Pada abad ke-4 gaya kursif ini tergeser oleh gaya uncial, yaitu gaya menulis huruf besar secara terpisah. Kelebihan gaya ini ialah bentuk yang lebih bundar dan lebih jelas daripada gaya kursif. Berkembang pu­la cara menulis dengan menggabungkan huruf besar dan huruf kecil, yang disebut gaya setengah uncial. Penulisan huruf kecil secara kursif disebut kursif kecil {cursive minuscule). Gaya uncial, setengah uncial dan kursif kecil bertahan sampai abad ke-9. Setelah abad ke-9 gaya ini hanya digunakan untuk menulis judul naskah dan pada abad ke-12 tidak digunakan lagi. Berikut ini adalah contoh ketiga gaya tersebut.

Pada abad ke-9 muncul gaya Caroline yang hanya menggunakan huruf kecil. Gaya ini bertahan sampai abad ke-12 sebelum digantikan dengan gaya gotik. Sekitar abad ke-8 dan ke-9 di Inggris dan Irlandia ber­kembang gaya insular. Gaya insular terdiri atas (1) in­sular setengah uncial, yaitu gaya penulisan yang menggabungkan huruf besar dan hururtcecil; (2) insu­lar kecil, yaitu gaya penulisan dengan huruf kecil.

Gaya gotik berkembang selarr^a abad Ve-9-15. Ba­nyak gereja di Eropa yang dindingnya dihiasi kata-ka­ta atau kalimat yang ditulis dengan gaya ini. Gaya go­tik berkembang pesat di Perancis dan Jerman selama abad ke-11-12.

Gaya gotik digantikan oleh gaya humanisme yang berkembang antara abad ke-14 dan 16. Kelahiran ga­ya humanisme merupakan kebangkitan kembali akan penghargaan terhadap hal-hal kuno, karena gaya ini merupakan tiruan gaya Caroline. Pada masa itu ba­nyak ahli mengadakan penelitian terhadap buku kuno berbahasa Latin dan peninggalan dari jaman Kekai­saran Romawi. Pada akhir abad ke-14, Colluccio Salutati mengikuti jejak pendahulunya, Petrarch, mene­ruskan penelitian. Para penganut gaya ini menamakan hurufnya lettera antica, sedangkan huruf gaya gotik dinamakan lettera moderna. Karena tujuan utamanya adalah menghasilkan tulisan yang mudah dibaca, je­las dan rapi, sedangkan segi keindahan kurang men­dapat perhatian, maka gaya ini kurang dianggap sebagai kaligrafi. Salah seorang murid Caluccio Salutati mengembangkan tulisan ini menjadi huruf miring yang dinamakan lettera cancellaresca seperti gambar berikut.

Pada jaman Renaisans (abad ke-15), kaligrafi Italia mengalami masa keemasan. Pada masa itu muncul ahli kaligrafi, seperti Antonio Sinibaldi, Gianrialdo Mennio, Matteo Contugi, Sigismondo de Sigismondi, dan Pierantonio Sallando. Pada tahun 1460 Felice Felicianno dari Verona memprakarsai kaligrafi yang di­pelajari secara sistematis, yaitu membuat huruf Latin dengan prinsip geometri, Tahun 1522 Lodovico Arrighi dari Vicenza menerbitkan buku berjudul Operina da imparare di Scriverelitera Cancellaresca. Buku ini berisi petunjuk mengenai cara mencetak buku de­ngan balok kayu. Dengan terbitnya buku ini mulailah prakarsa Arraghi dalam pencetakan buku dengan wri­ting master. Ia dianggap sebagai pelopor peng­gabungan dunia kaligrafi dan dunia usaha. Arraghi menerbitkan buku kedua yang ditujukan kepada para penulis indah, berisi pelbagai jenis gaya tulisan untuk kegiatan kaligrafi. Guliantonio Hercolari pada tahun 1571 menerbitkan buku kaligrafi di atas tembaga. Pengikut Hercolani meneruskan usahanya dan me­nyebarkannya ke Amerika Serikat.

Abad ke-20 merupakan masa kebangkitan kembali kaligrafi kuno. Pada tahun 1899 Edward Johnston mengajar kaligrafi di Central School of Arts and Crafts dan Royal College of Art. Sekolah ini mengha­silkan beberapa ahli kaligrafi, seperti Anna Simons, Eric Gill, Noel Rook. Anna Simons mempromosikan cara pengajaran Johnston di Austria, Swis dan Belan­da, sehingga di negara-negara tersebut juga didirikan sekt , ‘i seni.

Di Amerika Serikat Owen Jones (1809-1874) mempelopori penulisan naskah dengan menggunakan gaya gotik. Caranya ialah lebih dulu membuat kerang­ka huruf dengan pena baja tipis, lalu mengisinya de­ngan kuas. Selain itu William Morris (1834-1896) menulis naskah jaman Renaisans dengan bulu ayam. Pekerjaan Morris ini merupakan hal istimewa, karena waktu itu kebanyakan orang tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan Abad Pertengahan.

Kaligrafi Cina menggunakan huruf Han. Perkem­bangan kaligrafi Cina sejalan dengan perkembangan hurul Han. Huruf Han sekarang berbeda bentuknya dengan huruf Han pada saat diciptakan. Sejak dicipta- kan, huruf ini mengalami beberapa kali penyera­gaman, sehingga dicapai bentuk sekarang.

Perkembangan huruf dan kaligrafi Cina dibagi da­lam beberapa tahap. Tahap awal merupakan asal mul”a huruf Han. Kapan dan siapa pencinta huruf ini belum dapat ditentukan secara pasti, karena kurangnya bukti peninggalan kuno. Konon, huruf ini diciptakan oleh Cang Jie, seorang ahli sejarah Kaisar Huang Di yang memerintah sekitar tahun 2000-3000 SM. Menurut centa, ia sangat terkesan akan kejelasan bentuk serta guratan jejak telapak kaki binatang yang terdapat di tanah dan pasir, berpendapat, semua benda dapat digambar sesuai bentuk aslinya. Gambar benda inilah yang disebut huruf. Huruf jenis ini disebut huruf pik- tograf. Di samping itu terdapat juga huruf yang menggambarkan ide dan disebut huruf ideograf. Kedua je­nis huruf ini ditemukan pada benda peninggalan beru­pa kulit penyu dan tulang binatang. Karena itu huruf ini disebut jiaguwen, huruf di atas kulit penyu dan tu­lang binatang. Huruf ini diperkirakan sudah ada pada masa Dinasti Shang (1500-1027 SM).

Pada tahap berikutnya, huruf ditulis pada tembaga untuk upacara sembahyang kepada arwah nenek mo­yang. Huruf ini disebut jinwen, huruf di atas tembaga, atau dazhuan, tulisan besar. Dari peninggalan yang di­temukan ternyata huruf ini sudah ada pada masa Di­nasti Shang dan digunakan jaman sampai Dinasti Zhou (1027-221 SM). Huruf ini beraneka ragam, ka­rena setiap penulis mempunyai gayanya sendiri.

Pada masa pemerintahan Kaisar Qin Shi dari Dina­sti Qin (221-207 SM), Perdana Menteri Li Si bertugas menyeragamkan dazhuan, tulisan besar, yang disebut xiaozhuan, tulisan kecil. Lama-kelamaan huruf xiao- zhuan dirasakan kurang praktis, karena tidak dapat di­gunakan untuk menulis cepat. Lalu Cheng Miao memodifikasi huruf ini -menjadi huruf lishu, tulisan resmi. Huruf lishu mempunyai ciri bahwa semua garis lengkung huruf xiaozhuan diubah menjadi garis lurus dan lingkaran diubah menjadi persegi empat. Dengan demikian huruf dapat ditulis lebih cepat dan dunia ka­ligrafi mulai mengalami kemajuan.

Tahap selanjutnya ditandai dengan lahirnya kaishu, tulisan tetap, atau zhenshu, tulisan resmi, yang meru­pakan penyederhanaan huruf lishu. Siapa penciptanya belum diketahui, tetapi diperkirakan diciptakan seki­tar abad ke-I. Huruf kaishu ini terus digunakan sam­pai sekarang; huruf ini ditulis dengan guratan yang jelas batas ujung dan pangkalnya. Dari huruf ini diciptakan dua gaya yang sering digunakan dalam ka­ligrafi, yaitu gaya xingshu, tulisan ce­pat, dan gaya cao- shu, tulisan rumput.

Cara menulis huruf kaishu dengan gaya xingshu dapat dila­kukan lebih cepat, karena penyam­bungan guratan yang dapat ditulis sekali­gus. Gaya caoshu mempunyai guratan lebih sederhana dari­pada gaya xingshu, seakan-akan meru­pakan rangkaian gu­ratan tak teratur, sehingga susahlah mengenali huruf yang ditulis.

Kaligrafi Arab dikenal juga dengan istilah Arab khat (baca khot), yang berarti garis. Yang dimaksud­kan dalam kaligrafi adalah garis atau tulisan indah. Dasar kaligrafi Arab adalah huruf dan tulisan Arab yang dikenal dalam Al-Quran. Di kalangan umat Islam, kaligrafi telah dikenal sejak jaman Nabi Adam. Namun ketika itu kaligrafi tidak diarahkan dalam bentuk seni yang indah. Ada yang berpendapat bahwa ka­ligrafi muncul sebagai bentuk seni pada masa Mesir Kuno. Pada masa Mesir Kuno, tulisan Arab disebut musnad dengan huruf terpisah satu sama lain. Kemu­dian huruf tulisan ini digantikan dengan tulisan nabati dengan huruf bergandengan. Tulisan ini belum me­ngenal tanda baca (harakat), dan di Indonesia disebut Arab gundul. Penulis atau pelukis kaligrafi disebut khattat atau kaligrafer. Seniman yang berkecimpung dalam bidang kaligrafi menganggap bahwa khat ada­lah seni arsitektur rohani yang dilahirkan melalui ob­jek jasmani. Kaligrafi Arab mempunyai dua gaya penulisan, yaitu (1) gaya kursif untuk penulisan hal- hal yang bersifat informal dan untuk komunikasi tu­lis-menulis sehari-hari; (2) gaya kufic untuk pe­nulisan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, dokumen pemerintahan dan penulisan kutipan Al- Quran pada dinding mesjid. Gaya kufic berbentuk si­ku-siku dan persegi.

Sejalan dengan penyebaran agama Islam, kaligrafi Arab juga mengalami perkembangan. Pada tahun 1000 diciptakan gaya naskhi yang didasarkan pada huruf kursif yang digunakan untuk menyalin Al-Qur- an. Gaya ini mempunyai variasi thuluth dan tumar.

Kaligrafi Arab ini mempengaruhi kaligrafi negara Islam di Timur Tengah. Di Persia pada abad ke-13 diciptakan gaya ta’liq. Pada waktu hampir bersamaan, Mir’Ali, ahli kaligrafi Persia dari Tabriz, mengem­bangkan kaligrafi Persia dengan menciptakan sebuah gaya bernama gaya nasta’liq, kombinasi gaya naskhi dan gaya ta’liq. Gaya nasta’liq ini digunakan untuk menulis karya sastra Persia.

Dalam kaligrafi Turki terdapat huruf sandi yang di­sebut tugra, khusus untuk para sultan Turki. Setiap ahli kaligrafi akan menciptakan gaya tugra yang ber­beda untuk setiap kaisar yang sedang memerintah.

Kini wujud kaligrafi sering diungkapkan dalam bentuk lukisan di atas kanvas dan lukisan dinding di mesjid. Di negara Timur Tengah karya kaligrafi me­sjid dianggap hasil karya seni yang tinggi. Hal ini ter­lihat di beberapa mesjid besar negara Arab, Mesir, Iran, Turki, dll. Bagi masyarakat Indonesia yang di­maksud dengan kaligrafi adalah kaligrafi Arab, maka tidak heran jika hampir setiap mesjid di Indonesia memiliki kaligrafi di dindingnya. Tampaknya kaligrafi I memberikan keindahan dan suasana tersendiri dalam mesjid. Sejak tahun 1985, Indonesia membentuk wadah yang menangani seni kaligrafi, yaitu Lembagai Kaligrafi Al-Quran (Lemka). Di samping itu kaligrafi! juga masuk salah satu kalender kegiatan dalam Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), baik tingkat daerah maupun tingkat nasional.

Incoming search terms:

  • pengertian kaligrafi
  • kaligrafi adalah tulisan yang menggunakan huruf
  • definisi kaligrafi
  • pengertian kaligrafi menurut para ahli
  • Kaligrafi adalah
  • arti kaligrafi
  • arti kaligrafi dan arab gundul
  • pengertian tulisan kaligrafi
  • arti kallos dalam kaligrafi
  • kaligrafi adalah tulisan indah dalam huruf

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kaligrafi
  • kaligrafi adalah tulisan yang menggunakan huruf
  • definisi kaligrafi
  • pengertian kaligrafi menurut para ahli
  • Kaligrafi adalah
  • arti kaligrafi
  • arti kaligrafi dan arab gundul
  • pengertian tulisan kaligrafi
  • arti kallos dalam kaligrafi
  • kaligrafi adalah tulisan indah dalam huruf