PENGERTIAN KAPITALISME SEBAGAI SISTEM DUNIA – Pandangan yang agak berbeda mengenai perkembangan sejarah kapitalisme terdapat dalam buku Immanual Wallerstein, The Modern World-System (1974a,1980,1989). Ada dua perbedaan pandangan antara Wallerstein dan Dobb di dalam menganalisis perkembangan kapitalisme. Perbedaan pertama, Wallerstein tidak memberikan tekanan pada gejala-gejala yang justru oleh Dobb sangat ditekankan, gejala-gejala tersebut termasuk ekspansi kaum borjuis kota. Dobb juga berpandangan bahwa perkembangan awal kapitalisme sangat berhubungan dengan bidang pertanian. Sedangkan menurut Wallerstein, perkembangan awal kapitalisme pada periode pra-industri adalah kapitalisme pertanian. Perbedaan kedua, ini lebih penting, adalah Wallerstein menganggap kapitalisme sebagai perwujudan sistem dunia (World-system). Dugaan itu mengetengahkan pikiran Wallerstein yang memberikan pemahaman kepada kita mengenai munculnya pola produksi kapitalis.

Sistem dunia yang didefinisikan Wallerstein sebagai sistem sosial yang cukup besar mempunyai tiga ciri utama:

1. Tingkat otonomi yang tinggi, yaitu bahwa sistem tersebut berdiri sendiri dalam arti menjadi sistem dunia, karena eksistensinya tidak tergantung pada hal-hal di luar sistem tersebut.

2. Pembagian kerja yang luas, di dalamnya terdapat tingkat spesialisasi ekonomi yang tinggi yang berperan dalam sistem tersebut.

3. Keragaman budaya atau adanya berbagai kelompok yang berbeda tradisi, berbicara dengan bahasa yang berbeda, dan seterusnya.

Wallerstein mengidentifikasikan dua tipe dasar sistem dunia : Kekaisaran dunia (World-empire) dan ekonomi-dunia (World-economy). Kekaisaran dunia adalah suatu sistem dunia yang secara p olitis dipusatkan dan disatukan. Setiap kelompok dalam kerajaan menjadi bawahan pusat politik. Romawi kuno, Cina, dan India klasik, misalnya, diorganisasi menurut tipe sistem dunia ini. Ekonomi-dunia adalah sistem dunia yang tidak menerapkan sentralisasi dan penyatuan politik. Karena itu, ekonomi-dunia tidak hanya terdiri dari keragaman budaya, tetapi juga keragaman unit-unit politik. Di masa lalu, ada sejumlah ekonomi-dunia, walau kesemuanya telah runtuh dan berubah menjadi kekaisaran-dunia. Dalam dunia modern, hanya ada satu ekonomi-durtia, yaitu ekonomi-dunia kapitalis yang telah muncul dari abad xvi sampai sekarang. Wallerstein menyatakan bahwa ada usaha untuk mengubah ekonomidunia ini menjadi kekaisaran-dunia (terutama dilakukan oleh Spanyol pada abad xvi), namun usaha tersebut gagal, dan saat ini tinggal kapitalisme yang merupakan sistem yang terdesentralisasi secara politik. Wallerstein berkeras bahwa desentralisasi politik tersebut telah berperan besar dalam pengokohan kapitalisme, antara lain juga karena kekaisaran-dunia cenderung mencekik inovasi dan kreativitas individu, dua hal yang merupakan faktor dasar bagi organisasi produksi kapitalis.

Akan tetapi, apa sesungguhnya ekonomi-dunia itu? Apa yang diintegrasi dan dilaksanakan bersama? Ekonomi-dunia kapitalis ternyata lebih bisa dilaksanakan dengan seperangkat hubungan ekonomi, daripada diintegrasikan oleh struktur politik yang terlalu kaku. Seperangkat hubungan ekonomi tersebut yaitu, hubungan produksi dan pertukaran barang-barang bernilai, serta jasa-jasa. Hal ini berarti bahwa ekonomi-dunia tidak mempunyai “ikatan erat” seperti yang dimiliki kekaisaran dunia, ekonomi-dunia lebih merupakan jaringan hubungan ekonomi terstruktur yang agak longgar. Hubungan-hubungan tersebut mencakup wilayah geografis dan spesialisasi kerja yang luas. Berdasarkan spesialisasi itu, Wallerstein mengidentifikasi tiga tipe unit dasar ekonomi yang membentuk ekonomi-dunia. Pusat (core) terdiri dari wilayah-wilayah dan negara-negara yang mendominasi ekonomi-dunia kapitalis dan mengambil sejumlah besar surplus yang dihasilkan. Di pusat ini ditemukan masyarakat yang maju dan berkembang ekonominya, mempunyai tingkat kemajuan teknologi paling tinggi, serta mempunyai pemerintahan dan struktur militer paling kuat. Di pusat, tenaga kerja upahan dominan. Kerja dilakukan oleh karyawan dan ditawarkan majikan di bursa tenaga kerja. Wallerstein berpendapat bahwa, dalam satu kasus, bekerja di pusat harus lebih terampil daripada bekerja di tempat lain. Banyak pekerjaan yang menuntut kecakapan dapat dilakukan dengan lebih efisien (dan menguntungkan ), bila tenaga kerja upahan dipekerjakan. Kapitalis yang paling makmur di dunia berada di pusat, dengan mendirikan perusahaan di situ dan dibagian lain sistem dunia.

Pinggiran (periphery) adalah segmen ekonomi-dunia yang diarahkan secara ekstensif oleh pusat untuk pengambilan surplus. Ada hubungan ekonomi yang erat antara pusat dan pinggiran. Hubungan mana merupakan salah satu dominasi pusat terhadap dan yang membuat pinggiran tergantung kepada pusat secara ekonomi. Pinggiran mempunyai karakteristik yang berlawanan dengan karakteristik pusat. Masyarakat dan wilayah pinggiran yang lambat perkembangan ekonominya, mempunyai tingkat kemajuan teknologi paling rendah dan juga mempunyai pemerintahan dan unit-unit militer yang lemah (atau bahkan tidak mempunyai pemerintahan atau unit militer sama sekali). Pekerja paksa mendominasi pinggiran, bukan tenaga upahan. Kerja paksa merupakan sis tem perburuhan yang secara hukum melarang penjualan tenaga kerja di pasaran, dan karena itu dipaksa secara politis oleh anggota kelompok lain untuk bekerja pada mereka. Tipe historis utama kerja paksa adalah perbudakan dan perhambaan (serfdom). Dalam perbudakan, pekerja dimiliki dan sekaligus berada dibawah kontrol politik total majikan mereka. Dalam perhambaan, pekerja ditempatkan pada suatu daerah khusus tanpa kesempatan meloloskan diri. Wallerstein percaya bahwa banyak pekerja di pinggiran tidak terampil bila dibandingkan dengan pekerja di pusat, maka sistem kerja paksa lebih coc,.ok diterapkan di pinggiran karena lebih murah. Semi-Pinggiran (semi-periphery) adalah bagian ekonomi-dunia yang beroperasi di antara pusat dan pinggiran. Wallerstein memandang semi-pinggiran ini sebagai pengeksploitasi sekaligus dieksploitasi, yaitu sebagai pengeksploitasi pinggiran, tetapi juga dieksploitasi pusat. Teknologi dan ekonomi masyarakat semi-pinggiran lebihmaju daripada masyarakat pinggiran tetapi kalah maju bila dibandingkan pusat. Semi-pinggiran mempurtyai pemerintahan danunit-unitmiliter yang lebih kuat daripada yang dipunyai pinggiran, tetapi lebih lemah bila dibalidingkan dengan pusat. Cara Jain untuk menentukan semi-pinggiran adalah bahwa semi-pinggiran mempunyai karakteristik masyarakat pusat dan sekaligus karakteristik masyarakat pinggiran.Sebagai contoh, masyarakat semi-pinggiran telah mengkombinasikan, paling tidak secara historis, sistem buruh upahan dengan sistem kerja paksa. Dengan begitu, mereka menjalankan aktivitas ekonomi yang khas masyarakat pusat dan khas masyarakat pinggiran.

Perlu dicatat, menurut Wallerstein, bahwa kapitalisme adalah sistem pengambilan surplus yang tidak hanya terbatas dalam suatu negara, tetapi jauh melampaui batas negara. Marx memfokuskan perhatiannya pada peng-ambilan surplus yang berlangsung dalam masyarakat pusat, dengan Inggris sebagai model. Wallerstein kemudian memperluas model kapitalisme Marx menj adi kapitalisme level dunia. Bersama Marx, Wallerstein mendapatibahwa kaum kapitalis telah mengeksploitasi para pekerja di negara-negara berkembang Eropa. Akan tetapi, Wallerstein melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa ada hubungan ekonomi vital yang berlangsung di negara-negara tersebut, yaitu hubungan antaranegarapusat dan negara pinggiran. Wallerstein menganggap pinggiran mempunyai peranan vital dalam ekonomi-dunia kapitalis. Masyarakat pinggiran diorganisasikan oleh kaum kapitalis yang ada di pusat untuk menyediakan unit-unit bahan mentah yang produk-produknya kemudian diekspor ke masyarakat pusat dan diubah menjadi barang jadi. Wilayah yang dipilih untuk pengembangan pinggiran adalah wilayah yang paling cocok secara geografis untuk mengolah bahan-bahan mentah tertentu pada waktu yang tertentu juga. Juga penting diketahui anggapan Wallerstein yang agak revolusioner yang mengatakan kapitalisme telah mengangkat sistem dunia dari kelahirannya. Atau dengan kata lain, kapitalisme berperan dalam kelahiran sistemdunia. Sebelum Wallerstein, semua analisis mengenai sistem kapitalisme, termasuk Marx sendiri, membatasi analisis mereka pada satu per-satu negara. Akan tetapi Wallerstein percaya bahwa unit yang sesuai untuk menganalisis kapitalisme adalah dengan memandang. sistem-dunia sebagai satu kesatuan. Dia berpendapat bahwa orang takbisa mengerti apa yang terj adi di satu tempat dalam sistem-dunia, tanpa mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Waller– stein yakin bahwa untuk memahami dunia modern dari tahun 1500, tatanan masyarakatnya tidak bisa lagi dilihat secara terpisah sebagai unit yang independen. Sebaliknya, masyarakat tersebut harus dilihat peranannya dalam ekonomi-dunia. Ini merupakan ide yang sangat berani, dan sampai sejauh  mana ide Wallerstein itu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, masih ramai diperdebatkan (bandingkan: Skocpol, 1977; Brenner, 1977; Zolberg, 1981). Tentu saja, kita harus berhati-hati untuk tidak terlalu memaksakan konsep sistem-dunia Wallerstein ini. Akan tetapi, apapun batasannya, konsep tersebut tampaknya menjadi vital untuk memahami dunia modern dan evolu-sinya pada lima abad lampau.

Filed under : Bikers Pintar,