Advertisement

PENGERTIAN KARMELIT – Sebutan anggota Ordo Karmel yang di­dirikan oleh sekelompok pertapa di Gunung Karmel, Palestina, sekitar tahun 1154. Para rahib meneladani Nabi Elia, yang hidup bersemuka dengan Allah dan berjuang supaya Yah we saja Yang disembah rakyat dan tidak dewa Baal (bdk 1 Raja 17 dan 18). Nabi ini hidup dalam kesunyian Pegunungan Karmel. Akibat runtuhnya negara-negara Perang Salib pada abad ke- 13, banyak Karmelit terpaksa mengungsi ke Eropa dan mendirikan biara baru. Aturan hidup ordo perta­ma itu ditetapkan oleh S. Albertus, Batrik dari Yeru­salem (1209). Ia menuntut kemurnian mutlak, pan­tang daging untuk selamanya dan bertapa secara ke­ras. Aturan ini kemudian diperlunak, misalnya kehe­ningan dijaga pada jam-jam tertentu saja, sehingga pada abad ke-16 ketertiban para rahib dan rubiah (yang berdiri tahun 1452) mengalami kemunduran.

S. Teresia dari Avila bertekad menghidupkan kem­bali hidup kontemplatif asli (1562). Dalam waktu 15 tahun, Teresia berhasil mendirikan 16 pertapaan wa­nita yang hidup menurut aturan hidup kontemplatif keras. Teladan hidup para rubiah dan karangan-ka­rangan S. Teresia menimbulkan pertentangan, tetapi juga daya tarik bagi mereka yang sungguh-sungguh berminat. Di antara mereka, S. Yoanes dari Salib membawa semangat pembaharuan bagi para Karmelit pria. Akhirnya pada Ordo Karmel terjadi pemisahan (1592), yaitu Karmelit “berkasut” (O. Carm) dengan aturan hidup lebih terbuka dan Karmelit “tidak berka­sut” (OCD) dengan aturan hidup kontemplatif yang lebih ketat.

Advertisement

Ordo Karmel mengalami kejayaan pada abad ke-18 dengan 17.000 anggota, tetapi hampir punah akibat Revolusi Perancis, Sekarang, Karmelit berkasut terdi­ri atas 23 propinsi di seluruh dunia. Dua Karmelit, yai­tu Beato Dionysius dan Redemptus, mati sebagai roartir di Aceh pada abad ke-16.

Ordo Karmel mulai berkarya di Indonesia pada ta­hun 1923 dan kepadanya dipercayakan Keuskupan Malang. Tetapi imam Karmelit berkarya juga di Keus­kupan Agung Medan (1965), Ende (1970) dan Jakarta (1972). Pada tahun 1949 dibuka novisiat di Malang yang pada tahun 1951 pindah ke Batu. Pada tahun 1960 dibentuk Komisariat Karmel Indonesia yang pa­da tahun 1967 menjadi propinsi tersendiri. Studi teo­logi dimulai di Batu (pada tahun 1960-an untuk sementara pindah ke Pematangsiantar, Sumatra) dan sejak tahun 1971 berlangsung di STF Widya Sasana, Malang.

Karmelites sebutan populer bagi para suster dan rubiah Ordo Karmel. Pada pertengahan abad ke-15, semua komunitas wanita diharuskan oleh Roma me­nerima aturan ordo yang sudah ada dan berafiliasi pa­da sebuah ordo pria. Karena aturan ini, maka para suster Begijn dari Belgia meminta provinsial Karmelit di Koeln, agar menerima mereka dalam Ordo Karmel. Permintaan tersebut direstui oleh Paus Nikolaus V pa­da tahun 1452. Setelah itu biara suster Karmelit tum­buh dengan cepat. S. Teresia dari Avila (Spanyol) mulai memperbaharui hidup biara rubiah pada tahun 1562 dengan mendirikan biara baru, yang berkem­bang menjadi “Ordo Rubiah Tak-bersepatu S. Maria di Gunung Karmel” (OCD), yang kini berpusat di Ro­ma. Dalam satu biara Karmelit jumlah suster tidak bo­leh melebihi 21 orang yang terikat klausura ketat, ditambah empat suster untuk urusan luar. Di Indone­sia terdapat tiga biara, yaitu biara S. Maria dari Betle­hem di Lembang (1939), biara Karmel Bajawa di Flores, Nusa Tenggara Timur, dan biara S. Teresia di Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara.

Dari biara yang tidak mengikuti haluan baru S. Te­resia dari Avila, tumbuh “Ordo Rubiah Bersepatu” (O. Carm). Rubiah ini mendirikan biara “Flos Carme- li” di Batu, Jawa Timur, pada tahun 1961. Terdapat juga “Kongregasi para Suster S. Perawan Maria dari Gunung Karmel” (H.Carm) dengan klausura tidak be­gitu ketat yang berkarya di Bobonaro dan Dili, Timor Timur (sejak 1974). Novisiat mereka, “Maria Bunda Karmel”, dibuka di Malang (1985). Kapitel Provinsi Ordo Karmel Indonesia pada tahun 1985 memutuskan mendirikan kelompok “Karmelit Awam” yang meng­hayati spiritualitas Karmel dalam hidup sehari-hari di masyarakat.

 

Incoming search terms:

  • suster karmelit
  • biara kontemplatif di bajawa
  • sebutan carm dan artinya
  • perbedaan ordo suster
  • perbedaan ocarm dn ocd
  • Ordo OCD Indonesia
  • Ordo ocarm
  • karmelit awam
  • karmel bajawa
  • h carm

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • suster karmelit
  • biara kontemplatif di bajawa
  • sebutan carm dan artinya
  • perbedaan ordo suster
  • perbedaan ocarm dn ocd
  • Ordo OCD Indonesia
  • Ordo ocarm
  • karmelit awam
  • karmel bajawa
  • h carm