Advertisement

Kebebasan atau kemerdekaan adalah nilai utama dalam kehidupan politik Eropa yang senantiasa diagung-agungkan sekalipun tidak selamanya dipraktekkan. Arti penting kebebasan ini dapat dilihat pada ketentuan yang mengatur hak-hak orang merdeka dan budak, di mana setiap orang yang tidak memiliki kebebasan praktis tidak memiliki tempat di mata hukum. Prinsip ini pula yang digunakan sebagai ukuran Eropa untuk menilai masyarakat sipil di wilayah lain terutama Asia, dan dari hal itulah sering terjadi pertentangan. Di kalangan penduduk Yunani kuno, kebebasan menjelma pada konsep eleutheria yang hanya dimiliki oleh pria dewasa sehingga hanya mereka pula yang memiliki tempat dalam kehidupan publik atau agora. Bagi bangsa Romawi kuno kebebasan dijelmakan sebagai konsepsi libertas yang menjadi kunci status atau dignitas seseorang. Aturan tentang kebebasan atau kemerdekaan bangsa Romawi kuno tersebut dinyatakan dalam konstitusi mereka yang juga dijadikan sumber motivasi selama berabad-abad dalam menaklukkan bangsa lain. Ketika para tokoh humanis sipil di Italia pada abad pertengahan muiai memunculkan ide republik, Julius Caesar tampil sebagai tokoh utama dalam membeia konsepsi kebebasan kuno yang menempatkan bangsa Romawi sebagai penguasa.

Eropa pada abad pertengahan memiliki sumber-sumber kebebasannya sendiri yang antara lain diinspirasikan oleh ajaran Kristen yang dikontraskan dengan praktek pemerintahan bangsa asing yang mereka sebut bangsa bar-bar yang menggusur bangsa Romawi kuno. Penguasaan seseorang atas orang lain atau omne potestas est a deo masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar meski pun hal itu sesungguhnya bertentangan dengan hakikat pengagungan kebebasan, dan dari kondisi seperti itulah muncul konsepsi demokrasi. Pada awal zaman modern di Eropa, konsepsi kebebasan menjadi pokok pertentangan antara lembaga-lembaga monarki dan tradisi republik yang mulai muncul di masa irj Masing-masing pihak memiliki penafsiran sendiri tentang makna kebebasan. Bagi mereka yang mendukung monarki, kebebasan hanya berlaku daiam kehidupan pribadi namun tidak dalam kehidupan publik. Sementara itu bagi para ilmuwan politik seperti Thomas Hobbes, kebebasan adalah mutlak, roh hukum, dan harus dimiliki oleh setiap individu. Dari pemikiran ini berkembanglah paham individualisme yang menyatakan bahwa setiap individu berhak mengejar kepentingannya sendiri. Kalangan yang mendukung ide-ide republik mengutamakan aspek moral kebebasan yang mereka artikan sebagai peluang bagi siapa saja untuk berpartisi¬pasi dalam kehidupan publik. Tokoh-tokohnya banyak bermunculan dari Perancis khususnya setelah terjadinya revolusi. Sejak zaman Montesquieu para ilmuwan menilai kebebasan moderen sebagai individualisme yang agak berbeda dengan kebebasan sipil yang diagungkan pada masa-masa sebelumnya. Namun gagasan perlunya partisipasi bagi semua pihak tidak pernah terlepas dari pemikiran politik Eropa sejak saat itu. Rousseau adalah tokoh utama yang mengembangkan pandangan terakhir mengenai kebebasan itu. Seseorang baru bisa dikatakan bebas jika ia dapat melakukan apa saja, dan agaknya pandangan ini bertentangan dengan pandangan modern tentang kebebasan yang melihat kebebasan harus diimbangi dengan tanggung jawab. Isaiah Berlin (1969) mencoba menjelaskan kerancuan makna kebebasan itu dengan memilahnya menjadi pandangan kebebasan yang bersifat negatif dan positif. Pandangan negatif erat kaitannya dengan pandangan yang beredar di kalangan masyarakat Anglo-Saxon, sedangkan pandangan positif lebih berkembang di Eropa kontinental. Kerancuan ini sangatlah penting karena di satu sisi kebebasan selalu dinyatakan sebagai pijakan perkembangan sosial politik Eropa. Sedangkan di sisi lain belum pernah ada kesepakatan yang benar-benar kuat mengenai makna kebebasan itu sendiri. Para filsuf dan politisi sering terjebak dalam pemanfaatan istilah itu dalam berbagai slogan, sementara itu dalam waktu bersamaan mereka memiliki budak dan merasa sah memperlakukan orang lain sebagai hamba sahaya. Di awal karyanya yang sangat terkenal, Social Contract (1762), Rousseau mengatakan “setiap orang selalu dilahirkan bebas”, sementara Marx dan Engel mengakhiri karya mereka yang sangat menghebohkan yakni The Communist Manifesto (1848) dengan melontarkan ajakan kepada para pekerja bahwa mereka memiliki kebebasan penuh untuk melakukan apa saja sesuai dengan kepentingan mereka. Hegel dalam Philosophy of History (1837) juga mengatakan adanya kebebasan universal yang pernah tercipta di Jerman pada era modern. Jadi sejak bangsa Yunani dan Romawi kuno dengan para ilmuwan Eropa modern, kebebasan selalu diagung-agungkan meskipun maknanya selalu berubah-ubah dan tidak pernah disepakati. Bahkan setelah beberapa puluh ta-hun sejak kematian Hegel di tahun 1831, bangsa-bangsa Eropa masih memperdagangkan budak. Dari kenyataan ini kita bisa berspekulasi bahwa kebebasan yang dianut oleh bangsa-bangsa Eropa adalah kebebasan yang selektif atau terbatas. Ironisnya bangsa-bangsa Eropa sampai sekarang berusaha menyebarkan semangat kebebasan ke wilayah-wilayah lain yang mereka anggap tidak cukup menghormati kebebasan. Jelas ini merupakan suatu proyek ambisius yang agaknya tak akan mungkin tercapai.

Advertisement

Incoming search terms:

  • disnitas
  • pengertian dignitas
  • disnitas adalah
  • apa itu disnitas?
  • kebebasan dan kemerdekaan di eropa
  • pengertian disnitas

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • disnitas
  • pengertian dignitas
  • disnitas adalah
  • apa itu disnitas?
  • kebebasan dan kemerdekaan di eropa
  • pengertian disnitas