PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN ADAPTASI MANUSIA – Konsep kebudayaan tidak dapat diabaikan dalam pengkajian perilaku manusia dan masyarakat manusia. Sayangnya, tidak ada kesepakatan universal tentang makna konsep ini. Sebagian ilmuwan sosial yang menggunakannya merujuk kepada makna simbolik yang dilekatkan individu kepada perilaku mereka, sehingga tidak mempertimbangkan perilaku itu sendiri sebagai satu bagian dari kebudayaan (cf. Goodenough,1969; D.M. Schneider,1968). Buku ini mengambil posisi bahwa konseptualisasi semacam itu terlalu sempit, karena ia terbatas hanya kepada salah satu dari semua aspek yang relevan dengan kehidupan sosial manusia. Dengan demikian, kami akan mendefinisikan kebudayaan secara lebih luas sebagai seluruh karakteristik para anggota sebuah masyarakat, termasuk peralatan, pengetahuan, dan cara berpikir dan bertindak yang telah terpolakan, yang dipelajari dan disebarkan serta bukan merupakan hasil dari pewarisan biologis. Definisi kebudayaan ini menekankan bahwa sebuah totalitas kompleks yang memuat tiga rangkaian gejala yang saling berhubungan: peralatan dan teknik-ringkasnya, teknologi — yang telah ditemukan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya; pola perilaku yang diikuti para individu sebagai anggota masyarakat; dan berbagai kepercayaan, nilai dan aturan yang diciptakan manusia sebagai alat untuk mendefinisikan hubungan mereka satu dengan lainnya dan dengan lingkungan alamnya.

Ada empat karakteristik utama kebudayaan. Pertama, kebudayaan mendasarkan diri kepada sejumlah simbol. Simbol sangat essensial bagi kebudayaan karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan tidak tergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga, Kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota suatu masyarakat; yakni, ia merupakan representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif daripada secara individual. Walaupun ada perbedaan tingkat penerimaan berbagai anggota masyarakat terhadap pola kebudayaan mereka, kebudayaan secara definisi adalah representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang secara kolektif. Terakhir, kebudayaan cenderung terintegrasi. Berbagai bagian atau komponen kebudayaan cenderung menyatu sedemikian rupa sehingga konsisten satu dengan lainnya, disamping konflik, friksi dan kontradiksi yang juga ada.

Perhatian yang besar telah diberikan baik oleh sosiolog maupun antropolog untuk membedakan antara konsep masyarakat dan konsep kebudayaan. Secara umum, masyarakat digunakan untuk menunjukkan kepada “hubungan-hubungan yang terpolakan yang dicapai di antara orang-orang”, sementara kebudayaan seringkali dianggap sebagai “hasil dari hubungan yang terpolakan tersebut” (yakni, berbagai teknologi, kepercayaan, nilai dan aturan yang berfungsi sebagai pedoman, sekaligus sebagai hasil dari, hubungan yang terpolakan tersebut). Walaupun pembedaan ini mungkin berguna untuk berbagai tujuan analisis, ia sangat artifisial dan sangat terpisah dari realitas kongkret kehidupan manusia. Karena itu, pembedaan ini tidak banyak menolong, dan-barangkali lebih membahayakan daripada mendatangkan kebaikan. Dengan demikian, ada gunanya menghindari pembedaan ini untuk selanjutnya mengikuti mereka yang menggunakan istilah baru, sistem sosio-kultural (Harris,1985b; Lenski and Lenski, 1987). Keuntungan nyata dari istilah ini adalah karena ia akan menolong menunjukkan semua faktor yang membentuk “sistem” di dalam mana para individu menjalani hidup mereka. Sifat sistem sosio-kultural dan cara bagaimana ia dapat dikomparmentalisasikan secara tepat.

Signifikansi riel kebudayaan adalah sifat adaptifnya. Kebudayaan telah menciptakan bagi manusia sebuah alat a daptasi baru terhadap kondisi kehi-dupannya, dan pola adaptasi ini jauh melebihi adaptasi biologis. Pada tingkat phylogenetik yang lebih rendah, masyarakat itu sendiri merupakan mekanisme adaptif yang berkembang dari proses evolusibiologis yang panjang. Ketika masyarakat berkembang ke tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, dan ketika berbagai kondisi dikembangkan untuk lahirnya sistem simbol dari sistem penyebutan, kebudayaan itu sendiri muncul sebagai sebuah hasil evolusioner. Ketika semua ini terjadi, tahapan telah sampai kepada perkembangan sosiokultural di mana kebudayaan menyaingi, dan akhirnya menggantikan, biologi sebagai basis utama adaptasi manusia.

Filed under : Bikers Pintar,