Advertisement

KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA
Kita sering bangga bahwa 210 juta orang Indonesia yang mendiami kepulauan nusantara kita ini menunjukkan suatu keanekaragaman dalam hal kebudayaan dan bahasa; kita bangga akan slogan yang melambangkan aneka wama bangsa kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu juga, diambil dari Kakawin Sutasomo karangan Mpu Tantular. Makna harfianya: Berbeda itu, satu itu.
Walaupun di satu pihak kita bangga akan sifat aneka wama masalah yang timbul karena sifat itu. Masalah yang paling besar yang bersangkut-pangkut dengan sifat tersebut adalah masalah kebudayaan nasional Indonesia. Masalah itu bukan hanya suatu masalah cita-cita saja, mengenai suatu kebudayaan kesatuan yang kita bayangkan untuk kelak kemudian hari, melainkan menurut hemat saya adalah suatu masalah yang amat nyata.
Hal itu disebabkan karena masalah kebudayaan nasional menyangkut masalah kepribadian nasional, tidak hanya langsung mengenai identitas kita sebagai bangsa, tetapi juga menyangkut soal tujuan kita dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun, dan menyangkut soal motivasi kita untuk membangun. Dalam Repelita II memang ada perhatian khusus terhadap kebudayaan nasional (yaitu: buku Repelita II.Bag.3, bab 24, dimuat dalam Kompas). Kalau kita perhatikan isinya, maka bab tentang Kebudayaan Nasional Indonesia itu mengenai rencana-rencana program pengembangan kesenian (yang kuno, yang merupakan warisan sejarah, maupun yang daerah), dan juga ilmu pengetahuan (bukan aspek penelitiannya melainkan soal pendidikan, buku-buku, dan majalah ilmiah).
Masih ada usaha-usaha penting lain yang sebenarnya harus dilibatkan dengan pengembangan kebudayaan nasional itu, yaitu:
1. Program kampanye dan penerapannya besar-besaran agar rakyat Indonesia mulai menghargai barang hasil industri nasionalnya, dan berhenti untuk lebih menyukai barang-barang made in Hongkong, made in Japan, made in USA.
2. Usaha lebih serius untuk mengembangkan hukum nasional. Namun, orang mengasosiasikan kebudayaan dengan kesenian, dan tidak dengan barang-barang hasil produksi industri atau hukum, maka kedua hal tersebut dikeluarkan dari daftar semula dari bab 24 Repelita II.
Agar suatu kebudayaan nasional dapat didukung oleh sebagian besar dari warga suatu negara, maka sebagai syarat mutlak sifatnya hams khas dan hams dapat dibanggakan oleh warga negara yang mendukungnya. Hal itu perlu karena suatu kebudayaan nasional hams memberi identitas kepada warga negara tadi.
Sifat khas suatu kebudayaan memang hanya bisa dimanifestasikan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu dalam bahasanya, dalam keseniannya (yang kuno warisan nenek moyang maupun yang baru).
Untuk menonjolkan sifat yang khas yang memberi identitas itu dalam unsur-unsur lain dari suatu kebudayaan. Sulit, misalnya untuk memberi identitas dalam sistem teknologi (karena teknologi itu bersifat universal), dalam ekonominya (karena ekonomi itu harus dicocokkan dengan sistem ekonomi di negara-negara rinaju), dalam sistem kemasyarakatannya, ilmu pengetahuannya juga dalam agama.

Advertisement
Advertisement