Advertisement

PENGERTIAN KEDAULATAN RAKYAT – Surat kabar daerah tertua yang terbit tidak lama sesudah proklamasi kemerde­kaan Indonesia dan tetap bertahan sampai sekarang. Surat kabar ini mulai terbit di Yogyakarta pada tang­gal 27 September 1945. Pendirinya adalah Bramono, Soemantoro, dan Samawi, yang masing-masing men­jabat pemimpin umum, pemimpin redaksi, dan wakil pemimpin redaksi.

Soemantoro dan Samawi sebelumnya bekerja di harian Sinar Matahari, yang diterbitkan oleh pengu­asa militer Jepang di Yogyakarta pada masa pendu­dukan. Surat kabar itu berhenti terbit sesudah Jepang menyerah, dan sejak itu terjadilah kekosongan pener­bitan pers di kota tersebut, sampai Kedaulatan Rakyat lahir. Penerbit harian ini kemudian mendirikan dua anak penerbitan, majalah mingguan Minggu Pagi pa­da tanggal 5 Desember 1948 dan majalah dwiming- guan Mekar Sari pada tanggal 1 Januari 1957.

Advertisement

Ketiga pendiri harian ini adalah aktivis politik. Soemantoro merupakan pengikut Tan Malaka dan terlibat dalam kegiatan Partai Murba serta Persatuan Perjuangan yang mengecam arah perundingan yang ditempuh pemerintah Republik Indonesia dengan pi­hak Belanda. Akibat keterlibatannya dalam kasus penculikan Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada tahun 1946, yang dikenal dengan sebutan Peristiwa 3 Juli, Soemantoro termasuk di antara yang ditahan oleh pe­merintah pada waktu itu. Samawi adalah ketua Parin- dra (Partai Indonesia Raya) di Cianjur, Jawa Barat, dan juga merupakan anggota Indonesia Muda di Ja­karta tahun 1941-1942.

Perubahan Pimpinan. Tatkala Kedaulatan Rakyat menginjak usia dua tahun, Samawi mengambil alih jabatan pemimpin redaksi, sedangkan Soemantoro meninggalkan harian ini setelah keluar dari penjara. Pada tahun 1948 terjadi lagi perubahan pimpinan, Sa­mawi naik menjadi pemimpin umum dan jabatan pe­mimpin redaksi diserahkan kepada Madikin Wono­hito. Wonohito semula tinggal di Bogor, mengasuh majalah Pradjoerit dan mendirikan surat kabar Gelo­ra Rakjat selain menjadi koresponden Kedaulatan Rakyat. Tetapi ketika kota itu diduduki tentara Belan­da, ia mengungsi ke Yogyakarta.

Sewaktu Belanda melancarkan Aksi Militer II dan menduduki Yogyakarta pada bulan Desember 1948, Kedaulatan Rakyat dilarang terbit dan para pe­mimpinnya dipenjarakan. Surat kabar ini baru terbit kembali setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Dalam asuhan Samawi dan Wonohito, Ke­daulatan Rakyat mampu menjadi koran terkemuka di kotanya dan mengungguli harian Nasional (kini Beri­ta Nasional) yang diterbitkan oleh Soemanang Soeriowinoto sejak 15 November 1946.

Pada tahun 1964, harian ini termasuk penyokong Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS) dalam perten­tangannya dengan kubu pers Partai Komunis Indone­sia (PKI). Ketika Presiden Sukarno melarang BPS, harian ini mendapat perlindungan dari kalangan mili­ter dan terbit dengan nama baru, Dwikora. Setelah pe­numpasan Gerakan 30 September 1965, Kedaulatan Rakyat kembali terbit dengan nama aslinya.

Pada tahun 1980 Samawi mengundurkan diri dari jabatan pemimpin umum dan menyerahkan jabatan itu kepada Wonohito, sedangkan pemimpin redaksi adalah Iman Soetrisno. Setelah Wonohito meninggal pada tahun 1984, kedua jabatan itu sepenuhnya dipe­gang oleh Iman Soetrisno. Samawi meninggal pada tahun yang sama.

Incoming search terms:

  • majalah kedaulatan rakyat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • majalah kedaulatan rakyat