PENGERTIAN KEKUASAAN DAN WEWENANG

64 views

Kedudukan pada dasarnya merupakan suatu kompleks dari hak kewajiban, sedangkan peranan, yang merupakan aspek dinamis dari kedudukan, merupakan cara-cara berbuat bagi seseorang atau kedudukan. Menelaah hal ini, maka dapat dinyatakan bahwa di dalam konsep kedudukan dan peranan terkandung konsep tentang kekuasaan dan wewenang.

Kekuasaan sebagai suatu konsep, pada dasarnya tidaklah demikian mudah untuk dirumuskan dalam suatu batasan makna. Tetapi, dewasa ini – demikian Berry – telah ada konsensus yang agak luas di mana istilah tersebut harus digunakan untuk menunjukkan pada “kapasitas untuk atau dalam menguasai orang lain”. Max Weber misalnya, mendefinisikan kekuasaan sebagai “kemungkinan bagi seseorang dalam hubungan sosial berada dalam suatu posisi untuk melaksanakan keinginannya sendiri walaupun ada perlawanan”. Maurice Duverger merumuskan kekuasaan sebagai keseluruhan jaringan lembaga-lembaga (“insti-tutions”) yang mempunyai kaitan dengan otoritas, dalam hal ini, suasana dominasi beberapa orang atas orang-orang lain. Kalau kedua pendapat ini diambil sebagai contoh (“sampel”), maka apa yang disebut oleh Berry sebagai konsensus yang agak luas dapat diterima. Dan, memang apabila dilihat kekuasaan seseorang atau sekelompok orang di dalam mengawasi seorang atau sekelompok lain, maka terlihat adanya unsur dominasi atau unsur kapasitas untuk menguasai; dan adanya sesuatu yang menjadi nilai bagi seorang atau kelompok lain itu.

Unsur kekuasaan menjadi tampak di dalam peng-ambilan keputusan. Tindakan di dalam suatu sistem sosial timbul bila keputusan-keputusan sudah dicapai dan diusulkan untuk dilaksanakan oleh pemegang kekuasaan. Hal yang demikian ini terjadi oleh karena mereka atau pemegang kekuasaan itulah yang mempunyai wewenang dan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Dengan demikian kekuasaan muncul sebagai su- atu hal yang cukup menentukan dalam berbagai masalah penting dalam masyarakat. Tetapi, janganlah kita melihat kekuasaan itu sebagai faktor eksternal, yang bersifat fisik, atau material yang menentukan hubungan sosial; dan memang kekuasaan bukanlah hanya kekuatan yang bersifat fisik, akan tetapi terutama menunjuk pada hubungan sosial. Sebagai suatu hubungan sosial, penggunaan kekuasaan tergantung pada pengakuan (jadi merupakan fenomena psikologis) dari mereka yang dikenai kekuasaan tersebut, dan bukan datang dari laras senjata, seperti kata Mao Tse Tung bahwa kekuasaan itu muncul dari laras senjata.

Kadang-kadang para ahli sosiologi membedakan antara kekuasaan potensial, reputasi kekuasaan dan penggunaan kekuasaan yang sebenarnya, demikian menurut Berry. Studi tentang kekuasaan kalam komunitas menunjukkan bahwa beberapa individu tertentu dalam suatu masyarakat mungkin dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuasaan, dalam kenyataannya mungkin mereka tidak ambil bagian, apalagi mencari pengaruh. Inilah yang dimaksud dengan “kekuasaan potensial.” Kadang-kadang seseorang kelihatannya berkuasa hanya karena ia yakin bahwa ia berkuasa dan bukan karena alasan lain. Reputasi kekuasaan, akan menjelma menjadi penggunaan kekuasaan, jika karena reputasi itu seseorang disegani, dimintai pendapat dan nasehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *