reference groups (kelompok-kelompok acuan)

Kelompok acuan (referensi) mengacu seorang individu atau kelompok sosial yang baik membentuk atau mempertahankan berbagai pembakuan bagi individu, atau yang bertindak sebagai kerangka perbandingan yang relatif dengan apa yang diperbandingkan oleh individu-individu itu sendiri.

Teori dan penelitian kelompok acuan berkembang dari tradisi interaksionis simbolik dalam ilmu sosial di Amerika. Ia terkait dengan pandangan Charles Cooley bahwa kepribadian timbul dari gagasan-gagasan yang dipertunjukkan oleh orang- orang lain mengenai individu yang ada. Gagasan itu juga muncul dalam analisis G. H. Mead mengenai perbedaan-perbedaan antara pengambilan peran, “orang lain yang penting” di panggung sandiwara, dan “orang lain yang dirampakkan” di arena permainan perkembangan manusia. Mampu mengambil peranan orang lain yang dirampakkan berarti bahwa individu-individu mampu mengembangkan ciri-ciri kemanusiaan secara sempurna, pribadi-pribadi yang efektif mampu mengamati, menguji, mengendalikan dan mengarahkan tindakan-tindakan mereka. Keberadaan orang lain yang ditampakkan berarti bahwa individu-individu bisa menjadi sasaran kesadaran refleksif mereka sendiri. Selain itu, pembahasan Mead berarti bahwa karena manusia mampu mengambil peranan orang lain melalui lambang- lambang maka mereka dapat merujuk sikap-sikap dan perilaku mereka kepada kelompok-kelompok sosial yang mereka tidak terlibat langsung di dalamnya. Dengan demikian analisis mengenai kelompok acuan mengembangkan pengenalan fakta bahwa orang-orang bisa merujuk untuk memberikan penilaian kepada kelompok-kelompok di mana mereka tidak dan barangkali malah tidak dapat menjadi anggota-anggotanya.

H. H. Hyman pertama kali mempergunakan istilah kelompok acuan pada tahun 1942 (Hyman dan Singer 1968). Dia membedakan dua macam orientasi yang mungkin bisa diambil untuk kelompok seperti itu yakni [orientasi-orientasi] identifikatorik dan judgmental. Pada kasus yang disebut pertama, orientasi ini menimbulkan keterikatan normatif kepada kelompok yang dipermasalahkan; sedangkan pada kasus yang disebut belakangan, ia mendorong para aktor (pelaku tindakan) untuk mengevaluasi diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan penghasilan, status, pendidikan, dan sebagainya dengan memperbandingkannya dengan perolehan-perolehan kelompok lain. Perbedaan ini dijelaskan oleh H. H. Kelly yang membedakan antara fungsi normatif dan komparatif dari setiap kelompok acuan dan ini pada gilirannya berkembang menjadi perbedaan yang dikenai secara umum sekarang antara kelompok acuan normatif dan kelompok acuan komparatif.

Empat hal lain perlu mendapatkan perhatian. Pertama, kita harus membedakan antara bermacam-macam bentuk obyek sosial yang dijadikan acuan, yakni, apakah ia merupakan kategori individu, kelompok, kolektivitas atau sosial. Kedua, acuan kepada obyek sosial mana pun semacam itu harus dipandang positif atau negatif, sebagaimana dalam kasus kelompok acuan normatif yang secara berurutan melibatkan identifikasi dengan atau pemisahan dari obyek sosial yang ada. Ketiga, kita juga harus membedakan kelompok-kelompok acuan pendengar, yaitu obyek-obyek sosial yang berfungsi sebagai sumber evaluasi dan appraisal bagi pelaku sosial tetapi yang bukan merupakan dasar-dasar identifikasi normatif atau perbandingan sosial. Keempat, ada hubungan-hubungan sangat rumit dan bisa berubah-ubah yang mungkin di antara seorang individu dan sebuah kelompok yang ada, yang berkisar mulai dari keanggotaan formal, keanggotaan psikologik, antaraksi secara teratur, antaraksi secara berkala, hingga sampai sama sekali tidak ada kontak (Merton 1957).

Sudah ada sejumlah usaha untuk mengidentifikasi penjelasan-penjelasan universalistik mengenai seleksi kelompok-kelompok acuan normatif itu. Sejumlah penulis menyatakan bahwa pengakuan atas kelompok acuan tergantung pada kemudahan yang memungkinkan dilakukannya kontak-kontak interpersonal yang memuaskan . Penulis-penulis lain menyanggah bahwa pilihan terhadap kelompok-kelompok acuan tergantung pada citra status seseorang individu dan fungsi kelompok acuan dalam proses komunikatif status itu. Penulis-penulis lainnya lagi membantah bahwa seleksi acuan-acuan informatif itu akan tergantung pada tingkat saling ketergantungan yang dipahami antara individu dan kelompok yang dipermasalahkan. Akhirnya, dinyatakan bahwa individu-individu lebih besar kemungkinannya untuk mengacu kelompok yang ada sehingga individu-individu itu dianggap bernilai secara sosial bagi kelompok yang dipersoalkan. Meskipun semua ini merupakan hipotesis-hipotesis yang bermanfaat, namun tidak ada satu pun yang dianggap sah secara universal.

Pembahasan yang terkenal mengenai konsekuensi-konsekuensi seleksi kelompok acuan normatif adalah kajian Theodore Newcomb dari Bennington College (Hyman dan Singer 1967). Dia mengamati bahwa selama empat tahun berturut-turut, para mahasiswa yunior dan senior ternyata tidak begitu konservatif dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa tahun pertama dalam kaitan dengan masalah-masalah publik; suatu kajian terhadap sepersepuluh legiun pasukan [di masa Romawi kuno] selama kurun waktu yang sama menunjukkan kecenderungan yang sama. Selain itu, non-konservatisisme berkaitan dengan partisipasi, keterlibatan dan status yang tinggi dalam perguruan tinggi. Karena itulah, bila perguruan tinggi bertindak sebagai kelompok acuan normatif maka sikap-sikap para mahasiswa jadi kurang begitu konservatif; bila hal ini tidak terjadi dan rumah serta keluarga tetap merupakan kelompok-kelompok acuan normatif yang penting maka sikap-sikap itu tetap lebih konservatif. Namun, ada beberapa kesulitan untuk menghindari argumen yang berputar-putar ini, karena perubahan sikap itu merupakan explicandum (penafsiran) dan juga merupakan bukti atas pemolaan seleksi kelompok acuan itu. Kedua, perlu dianalisis juga tentang penjelasan pelaku (aktor) mengenai kelompok-kelompok acuan normatif yang saling bersaing, bukan mengasumsikan bahwa beberapa konsekuensi tertentu pasti mengikutinya. Ketiga, pola-pola seleksi kelompok acuan yang berubah-ubah harus dikaitkan dengan perkembangan temporal kejiwaan dan terutama dengan perubahan-perubahan dalam lingkaran kehidupannya karena itu pilihan-pilihan kelompok acuan bisa secara historik tergantung pada kelompok lain, sebagaimana dikemukakan dalam analisis Merton (1957) mengenai sosialisasi antisi-patorik.

Analisis komparatif terhadap kelompok acuan didasarkan atas argumen bahwa sekali kebutuhan-kebutuhan nyata yang bersifat fisiologik telah dipenuhi, maka manusia memerlukan landasan-landasan lain yang digunakan untuk menguji perolehan-perolehan dan kepuasan-kepuasan mereka. Secara khusus, demikian dikatakan, manusia menderivasikan pengujian-pengujian semacam itu dengan memperbandingkan mereka sendiri dengan orang-orang lain. Banyak filsuf sosial semenjak dari Aristoteles dan seterusnya telah memahami proses-proses ini (Urry 1973). De Tocqueville menganalisis bagaimana massa warga lama mulai memperbandingkan mereka sendiri dengan kelas menengah yang baru saja muncul yang “sama sekali tidak memiliki hak-hak istimewa yang mencolok, dan bahkan kekayaan mereka … tidak terbayangkan dalam pikiran dan, seperti di masa lampau, tidak terlihat”. Sebaliknya Marx menentang keterangan ini, dengan menyatakan bahwa “meskipun kesenangan-kesenangan pekerja telah meningkat, namun gratifikasi sosial yang mereka berikan semakin menurun dibandingkan dengan kesenangan-kesenangan para kapitalis yang semakin meningkat”. Dia berkesimpulan bahwa karena keinginan-keinginan dan kesenangan-kesenangan kita “merupakan sifat sosial, maka keduanya merupakan sifat yang relatif”. Dan dari tradisi yang berbeda, Max Scheler menegaskan bahwa:

Petani abad pertengahan sebelum abad ke-13 tidak memperbandingkan diri mereka sendiri dengan tuan-tuan tanah feodal, dan para pengrajin juga tidak memperbandingkan mereka sendiri dengan bangsawan … setiap perbandingan terjadi dalam kerangka acuan yang secara ketat terbatasi. … Dalam “sistem kompetisi bebas”, di pihak lain … aspirasi-aspirasi secara intrinsik tanpa ikatan, karena aspirasi-aspirasi itu tidak terikat lagi dengan obyek atau sifat tertentu mana pun juga.

Salah satu versi dari pandangan ini dapat ditemukan dalam penafsiran terkenal mengenai “penemuan promosi” dalam hasil kajian American Soldier, yang menegaskan bahwa satuan-satuan di mana terdapat promosi tingkat tinggi yang diekspresikan lebih banyak ketidakpuasan mengenai kesempatan promosi di masa depan daripada satuan-satuan di mana tingkat-tingkat promosinya lebih rendah. Dari situlah. Robert Merton (1957) menyanggah bahwa tingkat mobilitas yang lebih tinggi menginduksi harapan-harapan berlebih-lebihan untuk promosi lebih lanjut, dan perbandingan-perbandingan yang lebih luas dilakukan. Pandangan ini dikembangkan lebih lanjut oleh W. G. Runciman (1972) yang juga, berdasarkan survai sampel nasional, berkesimpulan bahwa para pekerja manual di Inggris sedikit membatasi kelompok-kelompok acuan komparatif, terutama dalam kaitannya dengan berbagai dimensi ketidakadilan kelas. Para pekerja non-manual tertentu melakukan perbandingan-perbandingan yang lebih luas dan lebih didasari kesadaran kelas. Salah satu alasan penting mengenai hal ini adalah bahwa pada umumnya terdapat sejenis landasan atau kesamaan sejalan dengan berbagai dimensi ketidakadilan sosial, terlepas dari landasan di mana perbandingan terjadi, supaya perbandingan-perbandingan berjangkauan luas bisa dilakukan. Sebagai contoh, [suku] Amba di Afrika Timur bersedia bekerja pada orang-orang Eropa dengan upah yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bekerja pada suku lain, karena “orang Eropa berada pada tataran sosial yang jauh lebih tinggi, dan karena itu perbandingan-perbandingan tidak perlu dipersoalkan lagi”. Sama sekali tidak ada kesamaan lain atau landasan untuk melakukan perbandingan.

Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa para pelaku secara wajar bertindak dalam pola-pola perbandingan sosial yang agak terbatas. Hanya selama masa-masa terjadinya perubahan sosial dengan sangat cepat sajalah pola-pola yang sudah mapan bisa diubah. John Urry (1973) membedakan antara “perbandingan-perbandingan konvensional”, yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan disusun dalam pengertian jaringan sosial para pelaku, dan “perbandingan-perbandingan struktural”, yang selayaknya dilakukan di saat dunia sehari hari itu terpaksa porak poranda, dan perbandingan-perbandingan disusun dengan pola-pola stratifikasi sosial yang ada dalam lingkungannya.Urry juga menekankan bahwa deprivasi relatif melibatkan sejumlah fase perkembangan yang lain dari yang lain, pada khususnya, bahwa di situ terdapat berbagai kondisi di mana berbagai deprivasi yang terungkapkan dikutuk sebagai tidak adil, dan kutukan bisa dikenakan kepada kelompok-kelompok yang dominan atau kepada masyarakat lebih luas. Ted Gurr (1970) juga telah mengembangkan teori tentang kekerasan politik, di mana fase pertamanya, yaitu perkembangan rasa tidak puas, bersumber dari persepsi mengenai deprivasi relatif antara harapan-harapan nilai rakyat dan kemampuan-kemampuan nilai itu sendiri.

Secara keseluruhan, tidak ada apa pun yang bisa kita istilahkan sebagai “teori kelompok acuan”. Istilah itu, sebagimana ditegaskan oleh Runciman, berguna untuk menggambarkan proses-proses pembentukan sikap tertentu dalam ilmu sosial individualistik, yang didasarkan atas pandangan-pandangan kepribadian, identitas dan peranan yang terkait. Gagasan kuncinya, sebagamana ditegaskan oleh Thoreau, “Bila seseorang tidak menjaga langkah dengan teman-teman dekatnya barangkali hal itu terjadi karena dia mendengar pemukul genderang yang lain.”

Incoming search terms:

  • pengertian kelompok acuan
  • mengapa keberadaan kelompok acuan dianggap penting
  • contoh kelompok acuan
  • ciri ciri kelompok acuan
  • contoh kelompok keanggotaan dan acuan
  • kelompok acuan
  • contoh kelompok keanggotaan

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kelompok acuan
  • mengapa keberadaan kelompok acuan dianggap penting
  • contoh kelompok acuan
  • ciri ciri kelompok acuan
  • contoh kelompok keanggotaan dan acuan
  • kelompok acuan
  • contoh kelompok keanggotaan