Advertisement

PENGERTIAN KELUARGA BERENCANA – Atau KB, secara resmi menjadi bagian program pembangunan Indonesia da­lam tahun 1970, semenjak Pelita I. Posisi program KB dalam Garis-garis Besar Haluan Negara menempati prioritas yang tinggi dan jelas, antara lain disebutkan “Agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kese­jahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat, harus dibarengi dengan pengaturan pertumbuhan dan jum­lah penduduk melalui program keluarga berencana, yang mutlak harus dilaksanakan dengan berhasil, ka­rena kegagalan pelaksanaan keluarga berencana akan dapat membahayakan generasi yang akan datang. Pe­laksanaan keluarga berencana ditempuh dengan cara- cara sukarela, dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu diperlukan pula usaha-usaha pe­nyebaran penduduk yang lebih wajar melalui trans­migrasi sebagai sarana dalam meningkatkan kegiatan pembangunan secara merata di seluruh tanah air.”

Lebih lanjut ditegaskan bahwa “Pengendalian per­tumbuhan penduduk terutama dilakukan melalui upa­ya penurunan tingkat kelahiran serta penurunan ting­kat kematian, khususnya kematian bayi dan anak. Penurunan tingkat kelahiran terutama dilakukan me­lalui gerakan keluarga berencana yang juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak da­lam rangka mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.”

Advertisement

Usaha-usaha KB sesungguhnya telah dimulai pada tahun 1950-an tatkala beberapa dokter dan anggota masyarakat yang prihatin tentang keadaan kesehatan ibu dan anak pada masa itu kemudian bergabung da­lam organisasi yang dinamakan Perkumpulan Keluar­ga Berencana Indonesia (PKBI) dan memberikan ber­bagai pelayanan kesehatan dan KB. Usaha mereka mendapat banyak sekali hambatan karena masyarakat dan pemerintah masih bersikap pronatalis, sehingga belum banyak anggota masyarakat Indonesia yang dapat menikmati pelayanan KB seperti dewasa ini.

Pada waktu Orde Baru mulai berkembang di Indo­nesia, Presiden Soeharto pada tahun 1967 menan­datangani Deklarasi Kependudukan Dunia bersama 29 pemimpin dunia lainnya.

Pada tahun 1970, program nasional KB dimulai de­ngan ditandai oleh pembentukan suatu badan KB yang mengurusi kegiatan KB, pelantikan Dewan Pembimbing KB yang terdiri atas para menteri dan pemimpin masyarakat. Dengan organisasi itu kemu­dian program KB mulai dikembangkan di Indonesia. Pada tahun 1972 lembaga ini lebih disempurnakan la­

gi, dan pada awal tahun 1973 program KB mulai dikembangkan di daerah pedesaan di Jawa dan Bali Pada tahun 1974 program ini diperluas lagi ke daerah daerah luar Jawa-Bali yang relatif padat penduduk- nya, dan baru pada tahun 1979 program ini secara res! mi mencapai seluruh Indonesia. Namun, secara operasional sesungguhnya baru pada tahun 1980 pro. gram ini bergerak di seluruh Indonesia.

Sekitar tahun 1976-1977, program yang makin mendapat minat masyarakat itu dikembangkan de­ngan tujuan yang jelas, yaitu melembagakan dan membudayakan “norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera” dan memperjelas pendekatannya de­ngan pendekatan kemasyarakatan yang dinamis. Ma­syarakat tidak saja dijadikan objek pembangunan KB tetapi sekaligus dijadikan subjek yang bertanggung jawab dalam pengembangan KB, dari program peme­rintah menjadi gerakan masyarakat yang dinamis.

Langkah-langkah penggarapan program dilakukan dengan strategi tiga dimensi, yaitu perluasan jang- kauan, pembinaan, dan pelembagaan pembudayaan. Untuk melengkapi penggarapan program itu, sasaran­nya dirumuskan dalam suatu sasaran pokok yang di- sebut Sasaran Panca Karya, yang ditujukan kepada: (1) pasangan usia subur muda, berusia di bawah 30 tahun dengan paritas rendah, yaitu mempunyai anak kurang dari dua orang, agar menjadi akseptor (peser­ta) KB yang setia dan mempunyai anak maksimum dua orang saja sebagai upaya untuk menurunkan fer­tilitas; (2) pasangan usia subur lainnya, yaitu pasang* an yang berusia 30 tahun atau lebih, dan mempunyai anak lebih dari dua orang, agar menjadi akseptor KB yang setia dan puas dengan jumlah anak yang telah mereka miliki sebagai upaya untuk mempertahankan > fertilitas; (3) generasi muda agar menyiapkan diri menjadi manusia yang tangguh untuk ikut serta mem­bangun di masa yang akan datang dengan kualitas pri­ma, sekaligus menikah pada usia yang matang dan bertekad untuk mempunyai anak maksimum dua orang saja, yaitu sebagai upaya untuk memproyeksi­kan fertilitas untuk masa yang akan datang; (4) pelem­bagaan usaha KB dalam berbagai institusi, baik desa, perusahaan, kelompok ibu-ibu, atau kelompok ma­syarakat lainnya sebagai upaya untuk membangun jar ringan pelayanan KB yang mandiri dan sanggup meneruskan pembangunan KB di kemudian hari, atau disebut juga usaha pelembagaan fisik; (5) usaha untuk membangun sikap yang positif, pendapat yang mendukung KB, dalam arti mengerahkan du­kungan psikologis buda­ya dan lain-lain, serta mengembangkan sikap dan pendapat umum yang positif terhadap norma keluarga kecil ba­hagia dan sejahtera, atau yang biasa disebut usaha pembudayaan.

Dengan strategi dan pendekatan tersebut, par­tisipasi masyarakat yang didukung oleh para pe­mimpin formal, pemimpin masyarakat yang menon­jol, para ulama, ibu-ibu dari berbagai organisasi pe­merintah maupun masyarakat, menentukan keberha­silan pelaksanaan program. Pelayanan kontrasepsi dengan dukungan tenaga dokter, bidan, dan parame­dis memungkinkan pilihan kontrasepsi yang cukup efektif dan mempunyai tingkat kelangsungan yang tinggi.

Dengan berbagai usaha itu, pada akhir tahun 1987 terlihat bahwa masyarakat Indonesia telah mampu mengubah sikap dari masyarakat pronatalis menjadi masyarakat yang bersikap positif terhadap KB; ting­kat pengetahuan tentang KB mencapai lebih dari 95 persen; keikutsertaan dalam KB mencapai sekitar 50 persen pasangan usia subur (Survai Prevalensi Indo­nesia 1987); lembaga-lembaga yang bergerak dalam pembangunan KB di seluruh pelosok tanah air tum­buh. Tingkat kelahiran kasar telah menurun drastis dari sekitar 44-46 per seribu menjadi sekitar 28 per Seribu penduduk. Demik’ian pula kualitas penduduk bertambah baik dengan menurunnya tingkat kematin bayi lebih dari 50 persen selama 15 tahun. Tahun 1988, Presiden Republik Indonesia menerima penghargaan dari Population Institute di Amerika berupa Global Statesman Award in Population”, tahun 1989 penerima “UN Population Award” yang diserahkan kngsung oleh Sekretaris Jenderal PBB di New York.

Incoming search terms:

  • definisi keluarga berencana
  • definisi keluarga berncana
  • gambar deklarasi program kb tahun 1967
  • Jelaskan pengertian Keluarga Berencana
  • keluarga berencana terrdiri
  • pengertian tenaga kerja dan KB
  • pngertian kb menurut tahun1950

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi keluarga berencana
  • definisi keluarga berncana
  • gambar deklarasi program kb tahun 1967
  • Jelaskan pengertian Keluarga Berencana
  • keluarga berencana terrdiri
  • pengertian tenaga kerja dan KB
  • pngertian kb menurut tahun1950