Advertisement

Kemiripan atau kesamaan yang dapat mempererat hubungan antarpribadi adalah dalam hal pardangan atau sikap. Dalam kasus Yansen, ia cenderung menjadi lebih akrab kepada Leo daripada Dedet karena adanya kemiripan sikap dan pandangan antarmereka (Schiller, 1932; Byrne & Nelson, 1965). Akan tetapi, Rosenbaum (1986) menemukan bahwa bukan kemiripannya yang menyebabkan makin akrabnya hubungan, melainkan ketidakmiripanlah yang menjauhkan hubungan. Manusia, menurut Rosenbaum, cenderung menyukai setiap orang (seperti Yansen pada awalnya pun mgncoba menyukai Dedet), tetapi ketika muncul ketidaksamaan, penilaian terhadap orang lain itu menurun dan hubungan pun merenggang (seperti Yansen yang makin renggang dari Dedet setelah mengetahui bahwa pandangan mereka berbeda). Gejala ini disebut hipotesis repulsi(repulsion hypothesis).

Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan adalah kebudayaan. Perbedaan ini tidak akan hilang sampai kapan pun, karena hal tersebut adalah kenyataan hidup. Kebudayaan kulit hitam (black-culture), misalnya, lebih menekankan pada masa kini, cenderung emosional dan mengungkapkan emosi itu (expresive) dan spiritual. Sebaliknya kebudayaan kulit putih (white-culture) cenderung berorientasi ke masa depan, individualistik, materia-listik, dan berdasarkan materi. Perbedaan inilah yang menyebabkan lebih sulit terjadi hubungan akrab antarorangorang yang berbeda warna kulit daripada yang sama (Jones, 1988). Di Indonesia gejala ini terasa pada hubungan antarpribumi (kulit cokelat) dan keturunan Cina (kulit kuning) (lihat bab VII).

Advertisement

Akan tetapi, penelitian lain membuktikan bahwa perbedaan pun dapat merupakan faktor yang makin mendekatkan hubungan (Jacoby, 1986). Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita melihat orang kulit putih (orang Indonesia menyebutnya “bule”) menikah dengan orang Asia yang berkulit sawo matang atau kuning. Hanya saja sejauh mana perbedaan lebih kuat dari persamaan sebagai faktor daya tarik dalam hubungan antarpribadi masih menjadi pertanyaan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa yang menyebabkan saling ketertarikan itu bukanlah perbedaannya, melainkan saling melengkapinya, misalnya, orang yang pendiam tertarik kepada yang banyak bicara, yang sulit bergaul dengan yang lincah dan sebagainya (Berscheid & Walster, 1978; Buss, 1984; Fishbein & Thelen, 1981). Akan tetapi, penelitian lain lagi membuktikan bahwa sifat-sifat yang saling melengkapi ini hanya terjadi pada hubungan heteroual, jadi tidak terdapat pada persahabatan biasa (sesama jenis yang non-ual). Dalam hal yang terakhir ini persamaanlah yang tetap lebih berpengaruh (Buss, 1985).

Penelitian di Indonesia sendiri lebih condong ke arah persamaan sebagai ikatan ketertarikan pada hubungan yang akrab. Dalam penelitian terhadap 50 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, terbukti bahwa mahasiswa keturunan Cina yang beragama Islam dan secara fisik mirip dengan pribumi lebih mudah membaur dalam pergaulan dengan mahasiswa-mahasiswa yang pribumi. Demikian pula yang secara fisik mirip pribumi, walaupun agamanya bukan Islam. Akan tetapi, yang fisiknya sangat berbeda dari pribumi, apalagi yang non-Islam lebih sulit membaur dengan mahasiswa yang pribumi (Sandra, 1984).

Agak berbeda dari penelitian Sandra adalah penelitian Mauludi (1989), juga tentang non-pribumi. Dalam penelitiannya, ia mendapatkan bahwa agama merupakan persyaratan utama dalam pembauran dan ras nomor dua. Dengan menggunakan skala Bogardus,ia mendapatkan bahwa WNI keturunan Cina (WNI KC) yang Islam dan pribumi yang Islam mempunyai jarak sosial yang dekat, demikian pula sebaliknya. Golongan WNI KC yang Islam ternyata juga dekat pada WNI KC yang non-Islam. Akan tetapi, WNI KC yang non-Islam menilai jarak sosialnya jauh dari WNI KC yang Islam dan pribumi Islam.

“Mengapa dalam beberapa penelitian kesamaan sikap dan pendapat lebih penting daripada persamaan fisik”. satu elemen kognitif dan kognitif lainnya (Newcomb, 1961) dan dengan tcori pengabsahan konsensus (consensual validation), yaitu bahwa satu elemen kognitif hendaknya ditunjang oleh elemen kognitif lainnya (Festinger, 1954). Sebaliknya, pendapat yang mengatakan bahwa persamaan fisik adalah yang terpenting mungkin didasarkan pada teori bahwa manusia cenderung mencari toman vang mempunyai persamaan-persamaan genetika dengan dirinya sendiri (Rushton, 1989).

Incoming search terms:

  • pengertian kemiripan
  • pemgertian repulsion

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kemiripan
  • pemgertian repulsion