PENGERTIAN KEPRIBADIAN DAN GANGGUAN MAKAN – Kita telah melihat bahwa berbagai perubahan neurobiologis dapat diakibatkan olel gangguan makan. Juga penting untuk diingat bahwa gangguan makan itu sendin dapat memengaruhi kepribadian. Suatu studi yang meneliti kondisi semi kelaparar. pada para objektor laki-laki yang dilakukan pada akhir tahun 1940-an memperkua: pemikiran bahwa kepribadian para penderita gangguan makan, terutama anoreksia terpengaruh oleh penurunan berat badan mereka (Keys dkk., 1950). Selama enar, minggu para laki-laki tersebut diberi makan dua kali sehari, dengan total kalon 1.500, untuk menyamai makanan yang diberikan di suatu kamp konsentrasi. Ratarata mereka kehilangan 25 persen berat badan. Dalam waktu singkat pikiran semua laki-laki tersebut tersedot pada makanan. Mereka juga menuturkan mengalami rasa lelah yang semakin meningkat, rendahnya konsentrasi, kurangnya minat terhadap seks, mudah tersinggung, mudah mengalami perubahan perasaan, dan insomnia Empat orang menjadi depresi dan seorang mengalami gangguan bipolar. Penelitian ini dengan jelas menunjukkan bagaimana asupan makanan yang sangat terbatas dapat berpengaruh besar pada kepribadian dan perilaku, yang perlu kita pertimbangkan bila mengevaluasi kepribadian para pasien yang menderita anoreksia dan bulimia. Sebagian karena dipicu oleh berbagai temuan di atas, beberapa peneliti mengum-pulkan penuturan kepribadian oleh diri sendiri sebelum terjadinya gangguan makan.
Penelitian ini menggambarkan para penderita anoreksia sebagai orang yane perfeksionistis, pemalu, dan patuh sebelum mengalami gangguan. Deskripsi tentanE para penderita bulimia juga mencakup karakter histrionik, ketidakstabilan perasaan dan mudah bergaul (Vitousek & Manke, 1994). Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa penuturan oleh diri sendiri dan keluarga mengenai kepribadiar. pasien sebelum penegakan diagnosis bisa saja tidak akurat dan menjadi biaskesadaran akan masalah pasien saat ini.

Data tersebut cukup bertentangan dalam hal apakah para penderita anoreksia memiliki perfeksionisme tinggi, mungkin karena perfeksionisme bersifat multi dimensional dan penelitian terdahulu tidak mempertimbangkan hal tersebut. Perfeksionisme dapat beriorientasi pada diri sendiri (menentukan standar tinggi pada diri sendiri), berorientasi pada orang lain (menentukan standar tinggi pada orang lain), atau berorientasi sosial (berusaha menyesuaikan diri dengan standar tinggi yang ditentukan orang lain). Suatu studi multinasional menemukan bahwa terlepas dari subtipenya, para penderita anoreksia memperoleh skor lebih tinggi dalam perfeksionisme bertipe orientasi pada diri dan orientasi pada orang lain dibanding kelompok kontrol yang tidak menderita anoreksia (Halmi dkk., 2000). Para peneliti juga membedakan antara perfeksionisme normal (berjuang untuk mencapai keberhasilan) dan perfeksionisme neurotik (menentukan standar tinggi yang tidak realistis). Citra tubuh yang buruk pada pasien gangguan makan berhubungan dengan skor tinggi pada jenis perfeksionisme tersebut. Berbagai studi prospektif meneliti karakteristik kepribadian sebelum timbulnya gangguan makan. Dalam salah satu studi, lebih dari 2.000 pelajar di suatu sekolah di wilayah pinggiran Minneapolis menyelesaikan berbagai macam tes selama tiga tahun berturut-turut. Di antara tes tersebut adalah pengukuran karakteristik kepribadian dan juga indeks risiko mengalami gangguan makan berdasarkan Eating Disoders Inventory. Dalam tahun pertama studi tersebut, prediktor lintas bagian bagi gangguan makan mencakup ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, pengukuran kesadaran interoseptif, yaitu sampai sejauh mana orang dapat membedakan berbagai kondisi biologis tubuh mereka, dan kecenderungan untuk mengalami berbagai emosi negatif (Leon dkk., 1995). Pada tahun ketiga, berbagai variabel tersebut ternyata memicu gangguan makan yang secara prospektif telah diprediksi. Data dari beberapa studi mengenai kepribadian orang-orang yang menderita gangguan makan cukup konsisten dengan teori psikodinamika. Para penderita gangguan makan secara konsisten diketahui memiliki harga diri rendah (a.1., Garner dkk., 1983). Terlebih lagi, sejalan dengan teori Bruch, para penderita anoreksia nervosa cenderung patuh, terhambat, dan perfeksionis. Berbagai temuan oleh Leon dan para koleganya bahwa kurangnya kesadaran interoseptif memprediksi risiko gangguan makan menegaskan pemikiran Bruch bahwa orang-orang tersebut kurang mampu mengidentifikasi kondisi internal mereka sendiri.

Filed under : Bikers Pintar,