Advertisement

Metode lain yang pernah dikembangkan oleh para ahli antropologi untuk melukiskan suatu kebudayaan secara holistik terintegrasi adalah dengan memusatkan perhatian kepada kepribadian yang umum yang dominan dalam kebudayaan itu; artinya perhatian kepada kepribadian atau watak yang dimiliki sebagian besar warga kebudayaan yang bersangkutan.
Para pengarang etnografi abad ke-19 hingga tahun 1930-an sering mencantumkan lukisan tentang watak atau kepribadian umum claii para warga kebudayaan yang menjadi topik etnografi mereka. Pelukisan itu biasanya didasarkan pada kesan-kesan yang mereka peroleh dari pengalaman pergaulan yang sedang mereka teliti. Apabila seorang ahli antropologi dari zaman itu mengumpulkan data dan bahan tentang kebudayaan Bali, misalnya, dan ia mengalami hal-hal yang menyenangkan selama bergaul dengan orang Bali, maka akan terungkap kepribadian orang Bali yang bersikap ramah, setia, jujur, gembira, dan sebagainya. Sebaliknya, apabila pengalaman yang diperolehnya tidak menyenangkan, maka hal itu biasanya juga tercermin dalam buku etnografi yang ditulisnya, di mana ia menulis bahwa orang Bali bersifat judes, tidak setia, penipu, tidak bermoral, dan sebagainya.
Ketika metodologi penelitian di lapangan dalam ilmu antropologi berkembang dan dipertajam sejak abad ke-20, timbul keinginan untuk memperbaiki cara-cara melukiskan kepribadian umum warga kebudayaan yang tidak bersifat ilmiah yang dilakukan oleh para penulis etnografi kuno itu, dengan metode-metode yang lebih eksak. Maka sekitar tahun 1930 R. Linton mengembangkan penelitian terhadap hal itu; ia mencari bantuan para psikolog yang berminat terhadap proyek Linton itu. Salah seorang di antaranya adalah A. Kardiner. Bersama-sama mereka melakukan penelitian terhadap penduduk kepulauan Marquesas di bagian timur Polinesia, serta suku bangsa di bagian timur Pulau Madagaskar. Dalam usaha bersama itu, Linton mengusahakan bahan etnografi, sedangkan Kardiner menerapkan metode-metode psikologi terhadap bahan-bahan tersebut dan menganalisis data psikologinya. Hasil dari penelitian itu adalah sebuah buku berjudul The Individual and His Society (1938).
Dalam proyek bersama tersebut, konsep kepribadian umum itu dipertajam, sehingga diperoleh konsep kepribadian dasar atau basic personality structure, yaitu “semua unsur kepribadian yang dimiliki bersama oleh sebagian besar dari warga masyarakat tersebut”. Kepribadian dasar itu ada karena semua individu warga masyarakat itu mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama masa pertumbuhannya. Metodologi untuk mengumpulkan data kepribadian bangsa itu adalah dengan cara mengumpulkan sampel dari individu-individu warga masyarakat yang menjadi objek penelitian, kemudian tiap individu dalam sampel itu diteliti kepribadiannya dengan testes psikologi. Hasilnya tentu berupa suatu daftar ciri-ciri watak, yang merupakan bagian terbesar dari individu-individu dalam sampel tadi.
Tentu saja, kecuali ciri-ciri watak umum tadi, setiap individu juga memiliki ciri-ciri wataknya sendiri, dan ada juga individu-individu dalam sampel yang tidak memiliki unsurunsur kepribadian umum tadi, namun mereka hanya merupakan bagian yang kecil dalam sampel.
Pendekatan dalam penelitian kepribadian suatu kebudayaan juga dilakukan dengan metode lain, yang didasarkan pada pendirian dalam ilmu psikologi bahwa ciri-ciri dan unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah ditanamkan benihnya sejak ia masih kanak-kanak. Pembentukan watak dalam jiwa individu banyak dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai anak, sewaktu ia masih diasuh oleh orang-orang di dalam lingkungannya, yaitu ibu, ayah, kakak-kakak, serta individu-individu lain yang biasa mengelilinginya.
Watak seseorang juga sangat ditentukan oleh cara-cara yang diajarkan kepadanya sewaktu ia masih kecil, seperti cara makan, kebersihan, disiplin bermain dan bergaul dengan anak-anak lain, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam tiap kebudayaan cara pengasuhan anak menunjukkan keseragaman pola-pola adat dan norma-norma tertentu. Maka apabila seorang anak menjadi dewasa, beberapa unsur watak yang seragam itu akan tampak menonjol pada banyak individu tersebut. Atas dasar konsep psikologi tersebut para ahli antropologi berpendirian bahwa dengan mempelajari adat istiadat pengasuhan anak yang khas itu kita dapat menduga adanya berbagai unsur kepribadian yang merupakan akibat dari pengalaman sejak masa kanak-kanak dari sebagian besar warga masyarakat yang bersangkutan.
Metode penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat pengasuhan anak dalam suatu kebudayaan, terutama dikembangkan ahli antropologi Margaret (di Papua Nugini dan Bali). Buku-buku di mana Mead menguraikan pengembangan metode penelitian kepribadian umum berdasarkan adat pengasuhan anak itu, adalah Growing Up in New Guinea (1930) dan Children Ritual in Bali (1955). Sebuah buku yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Bali bersama G. Bateson adalah Balinese Character. A Photografhic Analysis (1942).
Dalam uraian di atas telah kita pelajari dua istilah, yaitu kepribadian dasar dan kepribadian umum, untuk meng-gantikan istilah Bahasa Inggris basic personality. Kita sebaiknya memilih satu saja dari kedua istilah itu, yaitu kepribadian umum, karena apa yang kita maksud dengan konsep itu adalah watak atau kepribadian dari sebagian warga masyarakat. Istilah itu dapat kita lebarkan, apabila kesatuan manusia yang kita maksud itu bukan hanya satu masyarakat (komunitas atau kelompok), tetapi lebih dari itu, misalnya satu suku bangsa atau bahkan satu bangsa. Dalam hal itu, kita dapat mempergunakan kepribadian suku bangsa atau kepribadian bangsa. Apabila kita ingin melebarkan konsep itu sehingga menjadi kepribadian dari wahana suatu negara, maka kita dapat menggunakan istilah kepribadian nasional.
Penelitian pertama mengenai etos kebudayaan dan kepribadian umum yang pertama-tama dipakai oleh tokoh-tokoh antropologi R. Benedict, R. Linton dan Mead. Kemudian ditiru dan dikembangkan oleh para ahli antropologi lain, yang terkenal dengan nama penelitian kepribadian dan kebudayaan atau personality and culture (Harsojo 1967 : 21 – 22). Karena dalam sub-ilmu spesialisasi ini seorang ahli antropologi harus mempunyai pengetahuan yang luas mengenai ilmu psikologi, maka sub-ilmu ini sekarang umumnya disebut antropologi psikologi.
Ahli antropologi biasanya menganalisa suatu kebudayaan dengan merincinya ke dalam unsur-unsur dan sub-sub unsurnya, di samping mereka juga harus mampu melihat keseluruhan dengan memahami kaitan yang ada dari unsurunsur bagian itu sebagai suatu kesatuan holistik yang terintegrasi.
Di antara berbagai metode integrasi holistik itu ada beberapa fungsi yang penting, yaitu:
1. Metode mencari hubungan fungsi dari unsur-unsur kebudayaan.
2. Metode membuat deskriptif dari etos kebudayaan.
3. Metode membuat deskriptif dari fokus kebudayaan.
4. Metode membuat deskriptif dari kepribadian umum kebudayaan.
Definisi tentang konsep “kebudayaan” sulit disusun karena kebudayaan menyangkut segala hal yang berkaitan dengan manusia, yang harus dibiasakan olehnya dengan belajar.

Advertisement
Advertisement