PENGERTIAN KERAHASIAAN DAN KOMUNIKASI ISTIMEWA

32 views

PENGERTIAN KERAHASIAAN DAN KOMUNIKASI ISTIMEWA – Bila seorang individu berkonsultasi dengan dokter, psikiater, atau psikolog klinis, ia dijamin oleh kode etik profesional bahwa apa yang terjadi dalam sesi akan tetap dirahasiakan. Kerahasiaan berarti bahwa tidak ada satu hal pun yang akan diungkapkan kepada pihak ketiga, kecuali kepada profesional lain dan mereka yang terlibat erat dengan penanganan seperti perawat atau sekretaris medis.

Komunikasi istimewa bermakna lebih jauh lagi. Ini merupakan komunikasi antara pihak-pihak yang terkait dalam hubungan rahasia yang dilindungi oleh hukum. Penerima komunikasi semacam ini secara hukum tidak dapat dipaksa untuk mengungkapkannya sebagai saksi. Hak komunikasi istimewa merupakan pengecualian besar atas akses yang dimiliki pengadilan ke berbagai bukti dalam proses persidangan hukum. Masyarakat meyakini bahwa dalam jangka panjang kepentingan masyarakat akan terjaga jika komunikasi ke pasangan dan ke beberapa profesional tertentu tetap berada di luar jangkauan mata dan telinga polisi, hakim, dan penuntut yang selalu ingin tahu. Keistimewaan tersebut berlaku dalam hubungan seperti hubungan antara suami istri, dokter dan pasien, pastor dan narapidana, pengacara dan klien, serta psikolog dan pasien. Istilah hukumnya adalah pasien atau klien “memiliki keistimewaan,” yang berarti bahwa hanya ia yang dapat mengizinkan orang yang bersangkutan untuk mengungkapkan informasi rahasia dalam sebuah .proses persidangan hukum.

Meskipun demikian, terdapat pembatasan penting dalam komunikasi istimewa. Contohnya, menurut hukum pemberian lisensi psikologi California yang berlaku sekarang (elemen-elemen yang sama juga terdapat dalam hukum negara bagian lain), hak ini dihapuskan dalam beberapa situasi berikut.

• Klien menuduh terapis melakukan malapraktik. Dalam kasus demikian, terapis dapat membuka informasi tentang terapi demi membela dirinya dalam setiap tindakan hukum yang dilakukan oleh klien.

• Klien berusia kurang dari 16 tahun dan terapis memiliki alasan untuk meyakini bahwa anak tersebut telah menjadi korban kejahatan seperti penganiayaan anak. Pada kenyataannya, psikolog diwajibkan untuk melapor ke polisi atau ke lembaga kesejahteraan anak dalam 36 jam sejak ia mencurigai terjadinya penganiayaan fisik pada klien anak-anaknya, termasuk kecurigaan mengenai penganiayaan seksual.

• Klien menjalani terapi dengan harapan menghindari hukum karena melakukan tindak kejahatan atau berencana melakukannya.

• Terapis menilai bahwa klien berbahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain dan jika pengungkapan informasi diperlukan untuk menghindari bahaya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *