Advertisement

Kerajaan tertua kedua sesudah Kutai, terletak di daerah Bogor, Jawa Barat Sumber sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya Kerajaan Tarumanegara, antara lain, beberapa prasasti dan berita Cina dari Dinasti Tang abad ke-7.

Prasasti dari Kerajaan Tarumanegara berjumlah tujuh buah; sebagian kini disimpan di Museum Jakarta dan sebagian lagi masih di tempatnya semula. Prasasti tersebut adalah: prasasti Ciaruteun, prasasti Kebon Kopi, prasasti Jambu, prasasti Muara Cianten, prasasti Pasir Awi (keempatnya ditemukan di daerah Leuwi- liang Bogor), prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), dan prasasti Muncul (Banten). Bahasa yang dipergunakan dalam prasasti-prasasti ini adalah bahwa Sanskerta dengan huruf Palawa, yang diduga berasal dari abad ke-4. Pada beberapa bagian terdapat tulisan dengan huruf ikal, yang sama artinya dengan nama Purna- warman. Berdasarkan bentuk hurufnya, prasasti pada masa Tarumanegara diperkirakan lebih muda daripada prasasti masa Kutai.

Advertisement

Dalam prasasti Ciaruteun terdapat jejak tapak kaki seperti tapak kaki Wisnu yang dinyatakan sebagai tapak kaki Purnawarman, raja pada masa itu. Prasasti lainnya menceritakan kebesaran Purnawarman. Menurut dugaan, raja Tarumanegara ini banyak mendapat pengaruh Hindu. Wilayah Kerajaan Tarumanegara meliputi Banten, Jakarta, sampai Cirebon. Sistem pemerintahannya sudah berjalan baik dan teratur, demikian pula kehidupan rakyatnya. Hal ini digambarkan dalam prasasti Tugu yang menceritakan pembangunan saluran air sepanjang 6.122 busur hanya selama 21 hari untuk pen gairah dan pencegah banjir. Dari tulisan mengenai pembangunan saluran air yang dapat diselesaikan dalam’ waktu sesingkat itu juga dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Tarumanegara di bawah pemerintahan Raja Purnawarman telah mengenal manajemen dan cara kerja yang rapi, serta pemimpin yang ditaati.

Berita Cina mengenai Tarumanegara berasal dari pendeta Fa-Hsien. Pada tahun 414 ia bertolak dari Sri Lanka untuk kembali ke Kanton setelah bertahun-tahun mempelajari agama Budha dan berziarah ke tempat-tempat suci agama Budha di India. Setelah dua hari berlayar, kapalnya diserang topan, sehingga berubah arah dan mendarat di Ye-po-ti. Ia menetap di daerah itu selama lima bulan. Ye-po-ti itu adalah ejaan Cina dari kata Jawadwipa, yang biasanya disamakan dengan Jawa. Mengingat letak Pulau Jawa yang berbatasan dengan Selat Malaka, dan mengingat pada waktu itu hanya Kerajaan Tarumanegara saja yang diketahui, diduga Ye-po-ti ini sama dengan Ta- ruma. Namun pendapat lain menyatakan Ye-po-ti harus dicari di bagian barat Semenanjung Malaka.

Catatan lain, dari sejarah Dinasti Tang, menyatakan bahwa kira-kira tahun 528-539 dan tahun 666- 669, datanglah utusan dari Kerajaan To-lo-mo ke Cina untuk menghadap kaisar. Kata To-lo-mo adalah ejaan Cina dari kata Taruma. Dengan demikian, Kerajaan Taruma masih ada sampai abad ke-7. Utusan dari To-lo-mo itu tidak datang lagi ke Cina setelah tahun 669. Diperkirakan Kerajaan Taruma kemudian dika-lahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Hal ini didasarkan pada salah satu prasasti dari Sriwijaya (prasasti Kota Kapur) tahun 686, yang menyatakan bahwa pada waktu itu di Pulau Jawa hanya ada Kerajaan Taruma saja. Dengan demikian, tidak mustahil bahwa yang diserang oleh Sriwijaya itu adalah Kerajaan Taruma.

Dengan lenyapnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7, riwayat kerajaan di Jawa Barat tenggelam, dan baru muncul lagi beberapa abad kemudian

Incoming search terms:

  • pengertian to-lo-mo
  • pengertian to lo mo
  • pengertian tolomo
  • arti tolomo
  • yepot
  • apa arti tolomo
  • apa yang di maksud taruma negara
  • siapa yang menyebutkan dengan istilah yepo-ti
  • tolomo

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian to-lo-mo
  • pengertian to lo mo
  • pengertian tolomo
  • arti tolomo
  • yepot
  • apa arti tolomo
  • apa yang di maksud taruma negara
  • siapa yang menyebutkan dengan istilah yepo-ti
  • tolomo