Advertisement

KERANGKA ETNOGRAFI
Bahan mengenai kesatuan kebudayaan suku bangsa di suatu komunitas dari suatu daerah geografi ekologi, atau di suatu wilayah administratif tertentu yang menjadi pokok deskripsi sebuah buku etnografi, biasanya dibagi ke dalam bab-bab tentang unsur-unsur kebudayaan menurut suatu tata urut yang sudah baku. Susunan tata urut itu kita sebut saja “Kerangka Etnografi”.
Untuk merinci unsur-unsur bagian dari suatu kebudayaan, sebaliknya dipakai daftar unsur-unsur kebudayaan universal. Karena unsur-unsur kebudayaan itu bersifat universal maka dapat diperkirakan bahwa kebudayaan suku bangsa yang menjadi pokok perhatian ahli antropologi pasti juga mengandung aktivitas sosial dan benda-benda kebudayaan yang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari ketujuh unsur universal tadi.
Mengenai tata urut dari unsur-unsur itu, pars ahli antro-pologi dapat memakai suatu sistem menurut selera dan perhatian mereka masing-masing. Sistem yang paling lazim dipakai adalah sistem dari unsur yang paling konkret ke unsur yang paling abstrak.
Hal itu berarti bahwa kecuali unsur bahasa yang selalu diuraikan pada bab paling depan sebagai suatu unsur yang dapat memberi identifikasi kepada suku bangsa yang dideskripsi, unsur yang diuraikan dulu adalah sistem teknologi, sedangkan yang paling akhir adalah sistem religi. Tentang sistem teknologi misalnya, dapat dimasukkan deskripsi tentang benda-benda kebudayaan dan alat-alat kehidupan sehari-hari yang sifatnya religi termasuk gagasan dan keyakinan tentang roh nenek moyang dan sebagainya, yang bersifat abstrak.
Walaupun demikian, setiap ahli antropologi mempunyai fokus perhatian tertentu. Ada misalnya ahli antropologi yang memperhatikan sistem ekonomi sebagai pokok utama dari deskripsinya. Lainnya memfokus pada lingkungan kekerabatan, kepada sistem pelapisan masyarakat atau kepada sistem kepemimpinan; lainnya lagi memusatkan perhatian kepada kesenian atau lebih khusus lagi kepada suatu cabang kesenian yang tertentu; ada lagi ahli antropologi lain yang memfokuskan pada sistem religi.
Pengarang etnografi dengan satu fokus perhatian seperti itu biasanya mulai dengan unsur pokoknya, dan memandang unsur-unsur lainnya hanya sebagai pelengkap atau dari unsur pokok tadi. Bisa juga ia, mempergunakan susunan etnografi yang lain dari mulai unsur-unsur lainnya sebagai pengantar kebudayaan (cultural introduction) terhadap unsur pokoknya, yang diuraikan pada akhir karangan etnografinya, yang seolaholah merupakan klimaks dari deskripsinya.

Advertisement
Advertisement