Advertisement

Transportasi kereta api merupakan inovasi yang membawa perubahan besar dalam kebudayaan masyarakat. Teknologi mesin uap yang digabungkan dengan teknologi rancang bangun lokomotif, gerbong barang, penumpang dan rel dari baja merupakan penemuan yang luar biasa pada abad XIX (Gambar 8.25). Transportasi kereta api dapat membawa barang dan penumpang dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan angkutan gerobak atau kereta kuda yang sudah ada sebelumnya. Rancangan kereta api uap yang pertama dibuat oleh Richard Trevithick pada 1804, yang mengangkut batubara dan penumpang. Pada 1825 perusahaan umum kereta api didirikan di Inggris, yaitu perusahaan Stockton & Darlington Lines, dan sejak saat itu angkutan kereta api yang murah dan cepat makin digemari oleh masyarakat Inggris. Dalam dasawarsa berikutnya kereta api telah menjadi angkutan umum di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, kereta api mulai digunakan di wilayah Pulau Jawa sejak 1860an, ketika para pengusaha perkebunan Belanda yang berada di daerah Yogyakarta dan Surakarta membutuhkan angkutan cepat berdaya angkut besar. Pilihan jatuh pada teknologi transportasi kereta api karena memenuhi syarat bagi angkutan hasil perkebunan dari kedua daerah tersebut ke pelabuhan Semarang. Menurut para pengusaha perkebunan pada waktu itu angkutan dengan menggunakan gerobak yang ditarik oleh lembu ditempuh berhari-hari sampai di Semarang sehingga banyak produk perkebunan yang rusak dan membusuk. Sebenarnya pembangunan kereta api di sini tidak hanya dimaksudkan untuk pembangunan pertanian, terutama perkebunan tebu, tembakau, karet, dan kayu, tetapi juga untuk kepentingan militer. Untuk itulah para pengusaha perkebunan meminta izin kepada menteri jajahan agar diperbolehkan membangun jalur rel kereta api “Semarang-Solo-Yogyakarta”. Konsesi diberikan kepada perusahaan swasta Nederlandsch Indische StroomtramMaatschappij yang dipimpin oleh Poolman.

Advertisement

Sejarah perkeretaapian di Indonesia diawali dengan pembangunan jalan kereta api pertama di desa Kemijen (Jawa Tengah) pada 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr L.A.J. Baron Sloet van den Beele. Jalur kereta api tahap awal dibangun 1863 dari Semarang menuju Tanggung sejauh 26 km, kemudian dioperasikan sebagai angkutan umum pada 10 Agustus 1867. Pembangunan ini melibatkan banyak pekerja yang dibayar dengan upah, sehingga sangat membantu kesejahteraan para penduduk yang berada di sekitar lokasi jalur kereta api tersebut. Jalur kereta api ini juga dibangun bercabang ke arah Ambarawa yaitu ke Benteng Willem I, yang merupakan pesanan pemerintah untuk kepentingan pertahanan. Pada 1867 jalur kereta api berhasil dibangun sampai Kedungjati, kemudian diteruskan hingga mencapai kota Surakarta (Solo) pada 1870 sepanjang 110 km, dan pada 1873 jalur ini mencapai Yogyakarta.

Setelah itu pembangunan rel kereta api mengalami perkembangan pesat antara 1864 -1900. Pada 1867 panjang rel kereta api mencapai 25 km, kemudian pada 1870 menjadi 110 km, pada 1880 mencapai 405 km, pada 1890 menjadi 1.427 km, dan pada 1900 menjadi 3.338 km. Perlu juga dikemukakan bahwa pembakuan jarak antarrel (standardgauge) yang semula-berukuran-1.435 mm diperkecil menjadi 1.067 mm a,tas dasar pertimbangan ekonomis (Gambar 8.26). Sementara itu, dalam tahun 1873 jalur kereta api Batavia (Jakarta)-Buitenzorg (Bogor) juga diselesaikan. Karena jalur kereta api ini ternyata menguntungkan, pemerintah kemudian mendirikan perusahaan kereta api negara (Staat Spoorwagen) atau dikenal dengan singkatan SS. Pada 1878 SS membangun jalur kereta api Surabaya-PasuruanMalang, dan pada 1884 sudah tersambung jalur kereta api Surabaya-Madiun-SoloYogyakarta. Sejak 1894 dibangun jalur kereta api antara Batavia dan Surabaya lewat Yogyakarta-Tasikmalaya-Bandung. Dengan dibangunnya jalur kereta api Batavia-Cikampek-Cirebon-Kroya secara bertahap sejak 1912-1917, maka jarak tempuh Batavia-Surabaya semakin cepat.

Untuk wilayah Batavia (Jakarta) jalur kereta api mulai dibangun pada 1871 ke arah selatan sampai Bogor. Jalur ini dimulai dari Pasar Ikan-Jakarta Kota-Sawah Besar-Pintu Air-Gambir-Pegangsaan-Jatinegara-Pasar Minggu-Lenteng AgungPondok Cina-Depok-Citayam-Bojong Gede-Cilebut dan berakhir di Bogor. Kemudian disusul pembangunan jalur Pasar Ikan-Tanjung Priok pada 1876-1877, dan pada 1884 perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) membangun jalur ke arah timur dari Stasiun Kota ke arah timur menuju Jatinegara (Meester Cornelis) melalui Pasar Senen, dan berakhir di Bekasi 1887. Pembangunan dilanjutkan dengan jalur Bekasi-Cikarang-Kedunggede-Karawang yang diselesaikan pada 1898.

Di wilayah lain yang dikuasai Belanda dibangun juga jalur kereta api di Sumatra Timur dan di Aceh. Untuk kepentingan pertahanan dan ekonomi dibangun jalur rel dari Kutaraja-Medan sejauh 569 km sejak 1876 sampai 1897. Di Aceh jalur dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, sementara di Sumatra Timur dibangun oleh Deli Stoomtram Maatschappij (DSM). DSM juga membangun jalur ke selatan Medan ke arah Pematangsiantar dan Tanjungbalai sampai 1918. Jalur kereta api dibangun juga di Sumatra Selatan yang menghubungkan PalembangTeluk Betung dengan cabangnya ke Lahat, dan selesai pada 1925. Sementara itu, di Sulawesi Selatan pembangunan jalur jarak pendek antara Makassar-Takalar sejauh 47 km diselesaikan pada 1922.

Selain di Pulau Jawa, pembangunan rel kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatra Utara (1886), Sumatra Barat (1891), dan Sumatra Selatan (1914). Kemudian pembangunan rel kereta api diteruskan di Sulawesi pada 1922 sepanjang 47 km antara Makassar-Takalar, yang pengoperasiannya mulai 1 Juli 1923. Sementara di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, jalan kereta api Pontianak-Sambas (220 km) sudah dipelajari. Demikian juga kajian semacam ini dilakukan di Pulau Bali dan Lombok.

Hingga 1939, panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 km. Namun pada 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km. Hilangnya rel sepanjang ± 900 km itu diduga dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan kereta api di sana. Dalam kurun waktu setahun (1942-1943) rel yang dibongkar panjangnya 473 km. Sementara itu, jalan kereta api yang dibangun Jepang hanya sepanjang 83 km antara Bayah-Cikara, dan 220 km antara Muaro-Pekanbaru, yang pembangunannya menelan ribuan korban jiwa para romusha.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang pada 28 September 1945. Tanggal itulah yang dijadikan sebagai Hari Kereta Api di Indonesia. Bersamaan dengan itu dibentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Sejak 15 September 1971 nama jawatan itu diubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), yang kemudian diganti lagi menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Pada 2 Januari 1991, PJKA diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), dan sejak 1 Juni 1999 menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Incoming search terms:

  • pengertian kereta api
  • definisi kereta api
  • pengertian kereta
  • Deskripsi tentang kereta api
  • materi tentang kereta api
  • materi kereta api
  • apa yang dimaksud dengan jalan kereta api
  • pengertian rel kereta api
  • rangkuman tentang kereta api
  • definisi singkat tentang kereta api

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kereta api
  • definisi kereta api
  • pengertian kereta
  • Deskripsi tentang kereta api
  • materi tentang kereta api
  • materi kereta api
  • apa yang dimaksud dengan jalan kereta api
  • pengertian rel kereta api
  • rangkuman tentang kereta api
  • definisi singkat tentang kereta api