PENGERTIAN KERJA SAMA

147 views

Timbulnya kerja sama, menurut Charles H. Cooley adalah apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama, dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui keija sama

Pada masyarakat Indonesia, terdapat bentuk kerja sama yang dikenal dengan nama “gotong royong”. Mengenai hal ini, Koentjaraningrat membedakan anta-ra gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Selanjutnya, dikatakan bahwa “kecuali dalam sambatan dalam bentuk produksi pertani-an, aktivitas tolong menolong juga tampak dalam aktivitet kehidupan masyarakat yang lain, ialah:

  1. Aktivitet tolong menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan untuk pekeijaan-pekeijaan kecil sekitar rumah dan pekarangan, seperti menggali sumur, mengganti dinding bilik rumah, membersihkan rumah dan atap rumah dari hama tikus, dan sebagainya.
  2. Aktivitet tolong menolong antara kaum kerabat (dan kadang-kadang beberapa tetangga yang paling dekat) untuk menyelenggarakan pesta sunat, per-kawinan atau upacara adat lain sekitar titik-titik peralihan pada lingkaran hidup individu (hamil, tujuh bulan, kelahiran, melepas tali pusat, kontak pertama dari bayi dengan tanah, pemberian nama, pemotongan rambut untuk pertama kali, penga-sahan gigi, dan sebagainya).
  3. Aktivitet spontan tanpa permintaan dan tanpa pamrih untuk membantu secara spontan pada wak-tu seseorang penduduk desa mengalami kematian atau bencana.

Mengenai gotong royong kerja bakti sebaiknya kita bedakan antara (1) kerja bakti untuk proyek- proyek yang timbul dari inisiatif atau swadaya para warga komuniti sendiri, dan (2) kerja bakti untuk proyek-proyek yang dipaksakan dari atas. Kita dapat membayangkan bagaimana proyek-proyek semacam yang pertama, yang misalnya berasal dari keputusan rapat desa sendiri dan dirasakan benar-benar sebagai proyek yang berguna, dikerjakan bersama dengan aman, rela dan penuh semangat, sedangkan sebaliknya proyek macam kedua, yang seringkah tidak difahami gunanya oleh warga desa, dirasakan saja sebagai kewajiban rutine yang memang tidak dapat dihindari kecuali dengan cara mewakilkan giliran kepada orang lain dengan bayaran.

Soekanto dan Soeijono Soekanto menyatakan bahwa “gotong royong apabila dikutip rumusan dari bahan simposium Pembinaan Gotong Royong dalam rangka Pembangunan Desa (18 — 19 Januari 1978), diartikan sebagai bentuk keija sama yang spontan yang sudah terlembagakan yang mengandung unsur timbal-balik yang sukarela antara warga desa dan an-tara warga desa dengan kepala/Pemerintahan desa serta Musyawarah Desa, untuk memenuhi kebutuhan desa, yang insidentil maupun yang kontinue dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bersama, baik material maupun spritual.

Kalau sejenak diperhatikan teori-teori sosiologi, maka akan dapat ditemukan beberapa bentuk ‘keija sama yang biasanya diberi nama cooperation. Ada dibedakan antara spontaneous cooperation, directed cooperation, contractual cooperation dan traditional cooperation. Yang kedua merupakan hasil dari perintah atasan/penguasa, yang ketiga merupakan keija sama atas dasar hukum, dan yang keempat merupakan bentuk keija sama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial. Kiranya tidak mudah untuk menyangkal, bahwa keempat bentuk keija sama tersebut, terda-pat di dalam perumusan tersebut di atas; padahal go-tong royong secara analistis merupakan bentuk keija sama tradisional (saja).

Suatu tinjauan dari sudut hukum adat akan dapat diperoleh dari hasil analisa Ter Haar yang mem-bedakan antara “ordeling hulpbetoon” dengan “wederkering hulpbetoon.” Mengenai hal ini dinyatakan bahwa ordeling hulpbetoon wajib dilakukan dan seca-ra langsung didasarkan pada aturan hukum adat, dan tidak didasarkan pada prestasi di masa kini atau men-datang. Sedangkan wederkering hulpbetoon ada, mi-salnya apabila teijadi tolong-menolong kalau orang membuka tanah milik yang sebelumnya telah dipilih.

Di dalam bahasa Jawa, kegiatan yang pertama digam-barkan dengan istilah “gugur-gunung”, sedangkan kegiatan kedua disebut juga “sambat-sinambat.” Apabila teori Durkheim diterapkan di sini, maka gugur- gunung merupakan solidaritas mekanis, sedangkan sambat-sinambat merupakan solidaritas organis.

Apabila pendekatan menurut hukum adat terse-but di atas diterapkan terhadap perumusan yang diu-raikan di atas, maka terlihat pula adanya beberapa inkonsistensi. Gotong-royong, yang merupakan gugur- gunung, ditafsirkan sebagai genusnya; padahal, gotong-royong merupakan species (demikian pula sambat-sinambat atau tolong-menolong). Genusnya secara tradisional adalah apa yang dinamakan

Kerukunan sebagai genus dan masing-masing, gotong-royong dan tolong-menolong sebagai species, merupakan suatu bentuk dari proses interaksi sosial yang tradisionalsifatnya. Aktivitas yang mempunyai sifat tolong meno-long atau sifat keija sama, rupanya dianggap suatu ak-tivitas yang mempunyai nilai yang tinggi dalam ma-syarakat Gayo pada masa yang lalu. Adapun yang di-maksud masa lalu, ialah ketika masyarakat Gayo be-lum banyak digoncangkan oleh unsur-unsur pengaruh luar, sehingga aturan-aturan adat masih diamalkan dengan baik, demikian M. Junus Melalatoa. Bahwa sifat tolong menolong mempunyai nilai yang tinggi pada masa lalu itu, antara lain dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan atau pepatah adat yang hidup di dalam masyarakat. Ungkapan adat itu misalnya:

Di dalam bahasa Jawa, kegiatan yang pertama digambarkan dengan istilah “gugur-gunung”, sedangkan kegiatan kedua disebut juga “sambat-sinambat.” Apabila teori Durkheim diterapkan di sini, maka gugur-gunung merupakan solidaritas mekanis, sedangkan sambat-sinambat merupakan solidaritas organis. Apabila pendekatan menurut hukum adat tersebut di atas diterapkan terhadap perumusan yang diuraikan di atas, maka terlihat pula adanya beberapa inkonsistensi. Gotong-royong, yang merupakan gugur- gunung, ditafsirkan sebagai genusnya; padahal, gotong-royong merupakan species (demikian pula sambat-sinambat atau tolong-menolong). Genusnya secara tradisional adalah apa yang dinamakan

Kerukunan sebagai genus dan masing-masing, gotong-royong dan tolong-menolong sebagai species, merupakan suatu bentuk dari proses interaksi sosial yang tradisionalsifatnya. Aktivitas yang mempunyai sifat tolong menolong atau sifat keija sama, rupanya dianggap suatu aktivitas yang mempunyai nilai yang tinggi dalam masyarakat Gayo pada masa yang lalu. Adapun yang dimaksud masa lalu, ialah ketika masyarakat Gayo belum banyak digoncangkan oleh unsur-unsur pengaruh luar, sehingga aturan-aturan adat masih diamalkan dengan baik, demikian M. Junus Melalatoa. Bahwa sifat tolong menolong mempunyai nilai yang tinggi pada masa lalu itu, antara lain dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan atau pepatah adat yang hidup di dalam masyarakat.

Incoming search terms:

  • pengertian kerja bakti
  • nama lain kerja bakti di jawa tengah
  • nama lain kerja bakti
  • sambat sinambat
  • Gotong royong di jawa tengah disebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *