social work (kerja sosial)

Barangkali tidak begitu mengherankan jika istilah kerja social myang menggabungkan ambigu dari “sosial” dengan istilah sederhana yang menyesatkan dari “kerja” (work) telah mengalami banyak perubahan dalam penggunaannya sejak kemunculannya yang pertama di Inggris pada akhir abad 19. Pada saat itu istilah ini dipakai untuk menggambarkan sebuah perspektif yang dapat diterapkan pada sejumlah pekerjaan (occupation), bukan untuk menyatakan adanya suatu pekerjaan baru. Perspektif ini berasal dari pemikiran-ulang atas peran warga negara, dan gambarannya bisa dilihat pada bagian dedikasi sebuah buku yang berjudul The Spirit of Social Work (Devine 1911) pekerja sosial mengacu pada setiap pria dan wanita, yang dalam setiap hubungan kehidupan, profesi, industri, politik, edukasi, atau domestik; baik yang digaji atau sebagai sukarelawan; baik mewakili pribadi atau sebagai bagian dari gerakan yang terorganisasi, bekerja secara sadar, berdasarkan kekuatan pemikirannya dan berdasarkan kekuatannya demi peningkatan kesejahteraan umum.

(Fakta bahwa Devine adalah orang Amerika menunjukkan cepatnya kerja sosial diekspor ke AS dan, pada gilirannya bagi banyak masyarakat yang lain, baik yang sedang berkembang maupun yang sudah maju).

Hal ini telah menjadi bukti pada abad 20 di mana pekerja sosial berusaha mengklaim sebuah peran yang terspesialisasi dan profesional. Itulah barangkali alasannya mengapa belum ditemukan sebuah definisi tentang kerja sosial yang dapat diterima luas. Ciri-ciri lainnya dari kegiatan kerja sosial juga menjadi penyebab tidak adanya kesepakatan tentang ciri-ciri karya sosial. Tujuan umum dari karya sosial semakin ambigu ketika semakin banyak para pekerja sosial yang menjadi pegawai negeri, bukannya menjadi relawan atau pekerja gajian pada lembaga-lembaga mandiri. Kadang kala apresiasi publik terhadap kerja sosial dimentahkan oleh klaim-klaim yang dibuat atas nama para pekerja sosial (sebagai contoh, klaim bahwa kerja sosial dapat mengatasi macam-macam kemalangan swasta dan penyakit masyarakat, atau klaim bahwa bahwa pekerja sosial mewakili kesadaran masyarakat). Berbagai perubahan teori besar juga disebut-sebut telah menjadi dasar dari kerja sosial teori-teori ekonomi, sosiologi atau psikoanalisis sekaligus menimbulkan kebingungan antara teori-teori yang mendukung (espoused) dan teori-teori yang secara aktual menekankan praktek yang pada gilirannya menciptakan kesan perpecahan besar sebagai sebuah tradisi perjuangan untuk menegaskan diri. Akhirnya, kerja sosial, sebagaimana mengajar, adalah istilah yang mengandung unsur “mencoba” (attemping) sekaligus “berhasil” (succeeding); kadangkala para praktisi mengingkari istilah ini untuk aktivitas yang tidak berhasil atau aktivitas yang melanggar salah satu ketentuan yang terungkap dalam pembicaraan profesional.

Sebuah deskripsi kasar tentang kerja sosial kontemporer mengacu pada seseorang yang mewakili sebuah badan mandiri maupun non-mandiri memberikan berbagai jasa, dari jasa mempertahankan pendapatan dan komoditas kesejahteraan, sampai pada konseling yang direktif maupun non-direktif. Jasa-jasa ini diarahkan atau ditawarkan pada individu-individu atau kelompok, yang didasarkan pada kekerabatan, lokalitas, kepentingan atau kondisi-kondisi umum. Demi efisiensi dan efektivitas penyediaan jasa-jasa ini, para pekerja sosial mengklaim menggunakan berbagai jenis keterampilan, pengetahuan teoretis dan praktis, dan nilai-nilai khusus pada kerja sosial.

Definisi atau gambaran umum sedikit-banyak telah membuat kita paham akan kerja sosial, tetapi dalam hal ini yang diperlukan adalah pendekatan yang mampu menguji beberapa masalah utama di seputar bentuk dan tujuan kerja sosial pada beberapa periode waktu sepanjang abad ini. Berkaitan dengan bentuk ada dua pertanyaan besar: apakah kerja sosial diperlakukan sebagai profesi (dan jika demikian profesi macam apa); apakah kerja sosial dipraktekkan sebagai sebuah ilmu terapan, sebagai seni, atau semacam ministration? Pertimbangan-pertimbangan Flexner (1915) tentang ciri profesional dari kerja sosial memunculkan pertanyaan yang mungkin masih berguna untuk diupayakan. Ia menyimpulkan bahwa kerja sosial memenuhi satu kriteria bagi status profesional, tetapi ia juga menyimpulkan bahwa pekerja sosial lebih menyerupai mediator ketimbang badan yang bersifat profesional penuh, bahwa mereka mengejar tujuan-tujuan yang sama, dan bahwa mereka lebih dituntut untuk memiliki beberapa kualitas personal tertentu ketimbang keahlian tertentu di bidang keterampilan teknik-ilmiah. Baru-baru ini, kerja sosial bahkan seringkah dipandang semi-profesi atau sebagai profesi-biro (bureau-profession). Karakterisasi kerja sosial sebagai bagian dari gerakan humanistis dalam kerangka perbandingan dengan gerakan ilmiah dibahas dengan sangat baik melalui karya Halmos (1965).

Kontroversi dalam lingkup kerja sosial memang agak jarang, tetapi pertanyaan penting tentang tujuan kerja sosial dapat dipertimbangkan melalui tiga perdebatan utama (Timms 1983). Pertama, di antara para pemimpin Charity Organization Society and the Socialist yang berpengaruh pada pergantian abad ini, yang menyoroti penekanan yang mesti diberikan kepada si individu dan pada lingkungan sosial individu tersebut, dan penekanan pada kerja prefentif dalam perbandingan dengan kerja kuratif. Kedua, di antara dua aliran kerja sosial Amerika, Fungsionalis dan Diagnosisian pada pertengahan abad ini, memunculkan pertanyaan tentang independensi dari kerja sosial sebagai sebuah proses tindakan pertolongan dalam perbandingan dengan proses perawatan psikologis. Ketiga, perkembangan terbaru, kontroversi di seputar kemungkinan sebuah kerja sosial bersifat radikal secara politik, atau khususnya, bersifat Marxis.

Incoming search terms:

  • pengertian kerja sosial
  • definisi kerja sosial
  • kerja sosial adalah

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kerja sosial
  • definisi kerja sosial
  • kerja sosial adalah