PENGERTIAN KESENJANGAN ANTARA NEGARA MAJU DAN TERBELAKANG – Menurut teori sistem dunia, kesenjangan antara negara maju dan terbelakang tidak berkurang. Wallerstein (1983) menunjukkan sikap paling tegas di antara seluruh penganut teori sistem dunia. Ia yakin bahwa kesenjangan telah meluas sejak awal kapitalisme dan akan makin meluas di masa datang. Selain itu, ia begitu yakin bahwa kesenjangan yang meluas ini lebih bersifat mutlak daripada relatif. Dengan kata lain, negara-negara terbelakang mengalami kemandegan atau hanya maju sedikit saja. Di pihak lain, Wallerstein berpendapat bahwa keadaan mutlak negara-negara terbelakang telah mundur dan akan cenderung terus merosot. Pendapat ini dikenal dengan tesis immiserasi mutlak (thesis of absolute imnziseratid-n). Penganut teori sistem dunia yang lain, Christopher Chase-Dunn (1989a), telah mempersoalkan tesis ini dan berpendapat bahwa kesenjangan yang meluas hanya relatif. Hal ini merupakan suatu masalah yang rumit dan sulit untuk menentukan posisi mana yang benar. Di pihak tesis immiserasi relatif (thesis of relative immiseration) kita dapat melihat bahwa dalam dekade-dekade terakhir, negara-negara terbelakang mengalami penurunan angka kematian bayi, peningkatan harapan hidup, dan paling tidak terjadinya peningkatan sedikit (tapi substansial dalam beberapa kasus) GNP per kapita. Tapi Wallerstein mempertanyakan dengan membuat argumentasi sederhana semacam ini, bahwa meskipun negara-negara anggota dunia ketiga sekarang “nampak lebih mampu melampaui tahun pertama kehidupan (disebabkan oleh kesehatan lingkungan yang dilakukan untuk melindungi mereka), saya meragukan prospek kehidupan mayoritas populasi dunia sekarang lebih baik daripada yang sebelumnya; saya pikir kebalikannyalah yang akan terjadi. Tak dapat disangkal, mereka bekerja lebih keras —lebih banyak jam per hari, per tahun, dan permasa hidupnya. Dan mereka melakukan ini untuk imbalan yang kecil, karena laju eksploitasi meningkat demikian tajamnya.” (1983: 101).

Lepas dari versi dari tesis tentang immiserasi mana yang benar, pada kenyataannya pada saat ini penderitaan yang dialami dunia ketiga masih tetap parah. Dan dalam jangka pendek hingga menengah di masa datang, tidak begitu penting lagi apakah dunia ketiga akan mengalami kemunduran atau kemajuan sedikit. Dan keduanyahanya dapat menimbulkan sedikit optimisme akan adanya transformasi ekonomi yang berarti. Yang memperberat permasalahan di atas adalah adanya persoalan tambahan dunia ketiga yang kemungkinan akan memainkan peran pen ting dalam menentukan nasib mereka di masa datang yaitu: persoalan pertumbuhan penduduk. Seperti telah disebutkan di muka, negara-negara terbelakang memiliki laju pertumb uhart penduduk kira-kira 6 sampai 7 kali lebih tinggi dibanding negara-negara maju. Alasannya tidak ada hubungannya dengan ketidaktahuan masyarakat dunia ketiga tentang pengaturan kelahiran. Melainkan para petani dunia ketiga yang merupakan kelompok terbesar di negara dunia ketiga mempunyai keinginan kuat untuk mempertahankan tingginya angka kelahiran itu. Jumlah anak yang besar merupakan faktor penting bagi kemakmuran petani karena anak-anak memainkan peranan sebagai tenaga kerja.

Tetapi meskipun memiliki banyak anak merupakan sebuah kiat adap tasi ekonomis bagi keluarga petani dalam jangka pendek, hal ini akan membawa akibat yang merugikan mereka sendiri dalam jangka panjang (dalam B. White, 1976). Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat hanyalah salah satu tambahan persoalan yang dihadapi negara-negara dunia ketiga dalam usaha memajukan diri karena pertumbuhan ini akan memperlemah kemajuan ekonomi apabila memang terjadi. Beberapa negara-negara dunia ketiga, sebagai contoh, India dan Bangladesh, telah mengalami akibat ekonomis dari pertumbuhan penduduk yang berlebihan. Kelaparan sudah menjadi langganan negaranegara Afrika akhir-akhir ini. Dan masalah pertumbuhan penduduk menjadi ancaman yang semakin nyata di masa-masa mendatang. Seperti telah dikemukakan Daniel Chirot (1977), apabila negara-negara terbelakang tidak dapat mengekang pertumbuhan penduduk, maka masa depan mereka akan nampak sangat suram. Kendati demikian, akan sulit untuk memulai penurunan laju pertumbuhan penduduk kecuali seandainya mereka mengalami berbagai macam perbaikan ekonomi yang memungkinkan para petani menerima insentif memadai untuk mengatur besarnya keluarga. Negara-negara terbelakang, dengan begitu, seperti terperangkap ke dalam suatu jebakan ekonomi dan demografis yang sangat rumit. Akibat dari jebakan ini tidak saja sangat memprihatinkan, tetapi juga sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini meliputi penurunan standar hidup yang drastis, mu.nculnya rasa dengki terhadap negara-negara maju serta letupan-letupan kekacauan politik yang mengikutinya (termasuk adanya kemungkinan serangan nuklir) (Chirot, 1977). Meskipun gambaran yang ditampilkan di sini tampak pesimistik, ia tidak dimaksudkan untuk membuat rasa putus asa atau pasrah terhadap keadaan. Sosiolog dan ilmuwan sosial lain sekarang menyadari perlunya mengadakan proyeksi demografis, karena hal tersebut biasanya terluput dari perhatian selama ini. Walaupun masa depan negara terbelakang dalam jangka dekat kelihatan suram, masih ada kemungkinan bahwa dalam jangka lebih panjang masyarakat di negara-negara tersebut akan menemukan cara untuk mengendalikan pertumbuhan penduduknya, sehingga dapat terhindar dari kehancuran ekonomi maupun politik. Benar bahwa beberapa negara terbelakang, terutama Cina pada akhir-akhir ini menunjukkan kemampuan menekan laju pertumbuhan penduduk sampai ke tingkat yang mudah diatur. Dan tentu saja banyak negara terbelakang lain akan melakukan hal yang sama (dalam Chirot, 1986: 256-261).

Filed under : Bikers Pintar,