Advertisement

Bermula dari sastra lisan atau sastra rakyat yang berkembang di kalangan istana, dan disampaikan secara turun-temumn dari mulut ke mulut. Secara garis besar sastra rakyat Melayu dibagi lima: (1) cerita asal-usul; (2) cerita natang atau label; (3) cerita jenaka; (4) cerita pelipur lara; (5) pantun. Sastra lisan disampaikan oleh ibu yang membuai anaknya, atau dituturkan oleh tukang cerita kepada penduduk kampung buta huruf.

Cerita Asal-usul diperkirakan merupakan cerita rakyat tertua. Pada intinya, cerita asal-usul berisi kisah awal mulanya kejadian benda-benda alam. Cerita rakyat Melayu berkisar pada asal-usul tumbuhan dan binatang (flora dan fauna), seperti menerangkan mengapa di tepi sungai dalam hutan belantara tumbuh banyak pepohonan tinggi besar, mengapa tongkol jagung berlubang, mengapa ular sawah tidak berbisa, mengapa harimau memiliki belang, dari mana asal buaya. Cerita asal-usul juga menerangkan asal-usul nama tempat. Padang gelang-gelang adalah tempat Merah Silu (tokoh dalam hikayat) memperoleh gelang-gelang; samudera artinya semut besar tempat Merah Silu memakan semut besar (pada Sejarah Melayu, cerita ketujuh); Singapura adalah tempat Sila Nilau Utama melihat seekor singa di pulau itu (dalam Sejarah Melayu, cerita ketiga). V/. Skeat (dari Inggris) mencatat beberapa cerita asal-usul dalam bukunya, Fables and Folk Tales from an Eastern Forest (1961).

Advertisement

Sastra lisan hidup (sebelum timbul tradisi sastra tertulis) sekitar tahun 1500. Menurut Dr. M.G. Emeis (dalam Bloemlezing uit het Klassiek Maleis), aktivitas tasenian tersebut pada mulanya tidak dimaksudkan untuk kesenangan belaka, melainkan demi memperoleh semacam rahmat alam, atau kesaktian, (dalam tradisi Jawa Kuno, misalnya, dapat ditemukan bentuk seni yang disebut ruwatan: untuk mengusir kejahatan dan mendatangkan kebaikan). Tradisi sastra ini dapat dimainkan dalam permainan teka-teki, misalnya, untuk memperoleh kesuburan tanah pertanian. Setiap bentuk sastranya disesuaikan dengan peristiwa daur kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan, kematian, panen, dan sebagainya. Bahasa yang dipakai lazimnya terikat pada bentuk tetap, dan dalam ketetapan bentuk seperti itu seakan-akan terpaut kekuatan mistik alam. Contoh bentuk ini, antara lain, pesona, serapah, atau pantun. Pada perkembangan selanjutnya maksud bersenang-senang lebih menonjol daripada tema sakralnya. Cerita-cerita atau pantun ditujukan untuk melipur lara, misalnya tentang istana, tokoh jenaka, hantu dan raksasa, serta tentang binatang.

Cerita Binatang (Fabel) termasuk salah satu bentuk cerita rakyat yang populer. Setiap bangsa umumnya memiliki tradisi cerita binatang, yang biasa disebut fabel. Kesamaan motif cerita antardaerah pun dapat dilihat. Misalnya, jika dalam cerita Melayu dikisahkan kancil yang berlomba dengan siput, di India perlombaan itu diikuti oleh kura-kura dan burung garuda, sedangkan di Eropa yang berlomba adalah kura-kura dan kelinci. Tentang binatang yang tidak tahu membalas budi, di Melayu (tepatnya di negeri Perak), diceritakan buaya yang tidak tahu berterima kasih, bahkan hendak membinasakan lembu yang telah membebaskannya dari bencana, sedangkan di Kedah dan Tiongkok, dikisahkan harimau yang tidak tahu budi seteiah ditolong manusia.

Dalam cerita binatang selalu ada tokoh (seekor binatang) memegang peran penting. Biasanya pemeran itu adalah binatang kecil yang secara fisik lerriah. Binatang ini kemudian mampu memperdayakan binatang lainnya di dalam hutan dengan kecerdasan istimewa. Dalam sastra Melayu dan Jawa, binatang tersebut adalah kancil atau pelanduk; dalam sastra Sunda adalah kera; di Toraja (Sulawesi) adalah nggasi atau kera hantu; di Campa, Kambodia, dan Annam adalah kelinci. Namun ada kalanya binatang ini dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya, misalnya kancil dikalahkan siput (keong) dalam perlombaan lari. Cerita-cerita tersebut dapat diterima sebagai perlambang, bahwa dalam kehidupan sesungguhnya akal budi lebih tinggi nilainya daripada penampilan fisik, dan bahwa di atas yang tinggi (cerdas, kuat) masih ada yang lebih tinggi lagi, maka tidak patut kita bersikap sombong karena memiliki kelebihan tertentu, sebab masih ada orang lain yang lebih dari kita.

Cerita Jenaka berkisar pada tokoh-tokoh jenaka. Tokoh ini biasanya amat bodoh dan sering keliru menafsirkan maksud orang lain. Kesalahpahaman itu sering mendatangkan kesulitan bagi dirinya maupun orang lain yang bersangkutan. Ada kalanya sang tokoh sangat cerdik, sehingga ia dapat lolos dari marabahaya yang mengancamnya.

Cerita jenaka terdapat di mana-mana. Di Belanda ada cerita Uilenspiegel, dalam sastra Arab-Turki muncul cerita J aha atau Khoja Nasruddin, dalam sastra Sunda adanya tokoh si Kabayan, sedangkan dalam sastra Jawa dikenal tokoh-tokoh seperti Pak Panjim dan Joko Bodo, dan dalam sastra Melayu ada tokoh Pak Pandir, Pak Belalang, dan si Luncai. Menurut R.O. Winstedt dalam bukunya, The Origin of Malay Folk Tales, hampir semua cerita jenaka berasal dari India. Cerita jenaka yang dikenal dalam sastra Melayu sebenarnya cukup banyak, antara lain: kisah Pak Kaduk, Lebai Malang, Pak Pandir, Pak Belalang, Si Luncai, Mat Janin, Musang Berjanggut, Hikayat Mahsyodhak, dan kisah-kisah Abu Nawas.

Cerita Pelipur Lara sangat tua usianya. Winstedt dan Wilkinson menyebutnya folk romance. Biasanya cerita ini dituturkan di malam hari di kampung-kampung oleh seorang tukang cerita yang buta huruf. Ia mendapatkan cerita tersebut dari ayahnya, yang biasanya merupakan tukang cerita pula. Cerita itu dikisahkan bagi orang-orang yang tengah beristirahat sehabis bekerja seharian. Biasanya cerita dikisahkan sampai jauh malam, dan jika belum selesai, akan diteruskan pada malam berikutnya. Begitu seterusnya. Ceritanya selalu berkisar pada kehidupan istana dan raja-raja.

Cerita jenis ini cukup banyak, tetapi yang tercatat oleh para ahli, antara lain, Hikayat Awang Sulung Mera ‘n Muda, Hikayat Malim Dewa, Hikayat Malim Deman, Hikayat Raja Muda, Hikayat Anggun Cik Tunggal, Raja Donan, Raja Ambung. Ada dua cerita pelipur lara dari Minangkabau yang pernah disalin ke dalam bahasa Melayu, yaitu Cerita Si Umbut Muda dan Kaba Sabai nan Aluih.

Pantun pada mulanya adalah senandung atau puisi rakyat yang didendangkan. Sampai sekarang pun pantun masih dinyanyikan. Menurut Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (pengarang Melayu yang meninggal pada tahun 1854; karya-karyanya tak termasuk dalam sastra kuno, sebab merupakan peralihan kepada Bahasa Melayu Modern) pantun terdiri atas empat baris; dua baris pertama merupakan suatu pasangan yang tidak ada maknanya, dan dua baris terakhir mengandung makna yang dimaksudkan pantun tersebut. Tetapi lebih jauh lagi, setiap barisnya terdiri atas 8 sampai 12 suku kata. Inilah salah satu pantun Melayu:

Ke teluk sudah, ke Siam sudah Ke Mekah sahaja saya belum Berpeluk sudah, bercium sudah Bernikah sahaja saya belum

Dalam Pelayaran ke Kelantan Abdullah mencatat cara pantun dinyanyikan; dicatat juga lagu-lagu pantun yang sering dinyanyikan, misalnya Lagu Dua, Lagu Ketara, Ketapang, dan Dondang Sayang. Dalam kesusastraan tertulis, pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu serta hikayat-hikayat populer yang sejaman. Pantun juga tersisip dalam syair-syair, misalnya Syair Ken Tambuhan.

Dalam bahasa Melayu, pantun berarti kuatrin, sajak empat baris, bersajak abab. Dalam Bahasa Sunda, pantun berarti cerita panjang bersajak yang diiringi musik.

Selain pantun, ada satu jenis puisi lama Melayu, yaitu syair. Syair terdiri atas empat baris, tetapi bersanjak aaaa. Setiap baris terdiri atas empat kata, yang masing-masing katanya mengandung 9, 10, atau 12 suku kata. Berbeda dengan pantun yang keempat barisnya merupakan satu kesatuan, keempat baris da lam syair merupakan bagian aari sebuah puisi yan” agak panjang. Berikut ini petikan Syair Bidasari:

Bibirnya bagai peta dicarik-carik,1 Lehernya jenjang kumbuh2 dilarik,

Bersunting emas bunga anggrik,

Mungkin bertambah parasnya baik.

Betisnya bagai bunting padi,

Paras seperti nilakandi,

Seperti intan sudah diserodi,3 Dipagar nilam, intan dan pudi.

Pinggangnya ramping, dadanya bidang, Panjang lampai sederhana sedang,

Cantik manjelis gilang gemilang,

Tidak jemu mata memandang.

Catatan:

1 ditulis, digambar; 2 kembu, keranjang ikan;

3 digosok, dicelak.

Periode Kesusastraan Melayu Klasik secara garis besar dibagi tiga, yaitu periode Hindu, periode peralihan, dan periode Islam. Kesusastraan Melayu sejak mulanya memang tak luput dari sentuhan kesusastraan asing. Sejak dua ribu tahun silam telah terjalin hubungan perdagangan antara Melayu dan India. Banyak pedagang India yang dalam perjalananya ke Tiongkok singgah di Sumatra atau Semenanjung Melayu. Daerah di sekitar Selat Malaka adalah urat nadi perdagangan yang sangat penting. Dalam suasanadinamis tersebut, di bawah pengaruh kebudayaan India, muncullah kerajaan-kerajaan kecil.

Periode Hindu masuk ke alam Melayu melewati masa panjang, tetapi dengan cara damai. Kapal-kapal dagang singgah, para pedagangnya memikat raja-raja setempat dengan hadiah-hadiah; ada juga yang mengajarkan ilmu gaib untuk menyembuhkan penyakitdan mengalahkan musuh. Lambat-laun orang Hindu dan Melayu membaur lewat pernikahan. Para brahmana diundang untuk meresmikan raja sebagai ksatria. Dengan begitu pengaruh Hindu meresap dalam kehidupan orang Melayu. Setelah agama Budha memasuki Melayu, orang Melayu tertarik pada sistem agama itu yang tidak mengenal kasta. Selain itu, para penganut agama Budha memiliki semangat kependetaan yang kuat: suka menyebarkan agamanya ke mana-mana. Sekitar tahun 420 SM seorang putra raja Kashmir bernama Gunawarman telah mengunjungi Jawa dan Sumatra.

Kisah Bharatayuda dari India dalam versi Melayu disebut Hikayat Per ang Pandawa Jay a. Versi Melayu dari kisah Bhauma (putra Bhumi atau Bumi) adalah Hikayat Sang Boma atau Sang Samba yang dalam bentuk tertulisnya dapat ditelusuri ke naskah asli yang menggunakan bahasa Kawi, sedangkan cerita Ramayana dalam versi Melayu adalah Hikayat Sri Rama.

Di masa lalu rupanya Hikayat Pandawa sangat populer, sehab naskahnya ditulis banyak orang, antara lain, Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Pandawa Panca Kelima. Ada juga yang jalan ceritanya menyimpang dari aslinya, seperti Hikayat Pandawa Lebur, Hikayat parrf:awangsa, dan Hikayat Angkawijaya. Pada mujanya Mahabharata mempunyai inti cerita tentang sejan i bangsa Bharata yang mengandung 24.000 seloka. Tetapi lama-kelamaan cerita itu ditambah ^engan dongeng tentang Brahma, Wisnu, dan Siwa. pimasukkan juga filsafat, undang-undang kaum brahmana, cerita didaktis, syair kaum pertapa, sehingga jadilah epos Mahabharata yang sangat luas, dan menadi buku suci orang Hindu.

Epos India yang termasyhur adalah Ramayana. Ramayana sebenarnya adalah kavya, puisi untuk memkgri ajaran moral kaum muda. Ajaran yang disampaijcan mencakup darmasastra (ajaran moral), arthasas{ra (g iran politik dan perang), dan nitisastra (ajaran cara hidup yang mulia). Selain versi yang berjudul Hikayat Sri Rama dalam kesusastraan Melayu klasik, ada pula versi lain yang termasuk cerita pelipur lara, yakni Cerita Sri Rama dan Ramayana Patani. Dalam kedua cerita tersebut alur cerita dan nama-nama tokohnya sudah jauh berbeda dari Hikayat Sri Rama atau cerita Ramayana asli.

Periode Peralihan merupakan batas antara jaman Hindu dan jaman Islam. Ciri-ciri sastra jaman peralihan sebagai berikut. Sebutan untuk nama Tuhan yang semuDewata Mulia Raya, menjadi Raja Syah Alam atau Allah subhanallahu wa taala. Cerita periode ini berasal dari India dengan motif cerita mencari obat untuk menyembuhkan penyakit atau kemandulan, membebaskan seorang putri yang ditawan raksasa, atau negeri dibinasakan oleh garuda. Tokoh utamanya selalu memperoleh senjata ajaib atau batu hikmat yang dapat menciptakan sebuah negeri. Ada pula peristiwa sayembara atau silambari untuk memperebutkan seorang putri, dan tokoh hero selalu keluar sebagai pemenang, mengalahkan putra-putra raja lainm . Setelah masuknya pengaruh Islam, motifmotif tersebut masih dipakai, tetapi telah dimasuki unsur-unsur Islam, seperti pemberian nama-nama Islam kepada tokoh hero (wiraan). Karena itu beberapa hikayat jaman peralihan lebih dikenal dengan nama Islam daripada nama Hindunya, misalnya, Hikayat Marakarma lebih dikenal dengan nama Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Jaya lebih dikenal dengan Hikayat Syahi Mardan, Hikayat Serangga lebih dikenal sebagai Hikayat Ahmad Muhammad.

Liaw Yock Fang, ahli kesusastraan Melayu Klasik dari Smgapura, berpendapat bahwa ada sekitar 14 hikayat di jaman ini, yakni Hikayat Puspa Wiraja, Hikayat Parang Punting, Hikayat Langlang Buana, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Berma Syahdan, Hikayat Indraputra, Hikayat Syah Kobat, Hikayat Nakhoda Muda, Hikayat Jaya Lengkara, Hikayat Ahmad Muhammad, Hikayat Syahi Mardan, Hikayat Koraisy Mengindra, dan Hikayat Isma Yatim.

Makin lama pengaruh Islam semakin kuat. Hikayat-hikayat yang bermotifkan Hindu kian banyak dimasuki nama-nama Islam, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Khidir, Iskandar, dan lain-lain. Bentuk sastra Persia dengan pembagian bab dengan judul-judul tersendiri ditiru dalam penyalinan hikayat-hikayat itu.

Periode Islam umumnya menceritakan keagungan agama Islam, nabi-nabi, dan pahlawan, agar pendengamya tertarik untuk masuk Islam dan memperkuat keimanannya. Secara umum, para ahli membagi sastra jaman Islam dalam lima bagian besar, yaitu (1) cerita Nabi Muhammad saw.; (2) cerita para sahabat Nabi Muhammad saw.; (3) cerita nabi-nabi; (4) cerita para penyebar agama dan pahlawan Islam; dan (5) cerita khayalan yang muncul di nusantara.

Cerita Nabi Muhammad saw. sangat populer, sehingga tidak heran jika jumlahnya banyak. Asal ceritanya dari Persia. Kisahnya tentang riwayat hidup Nabi Muhammad saw. atau suatu peristiwa dalam hidupnya, misalnya bercukur, saat Isra Mikraj, mengajar anaknya, atau kisah wafatnya. Kisah-kisah tersebut, antara lain, Hikayat Nur Muhammad {.Hikayat Kejadian Nur Muhammad atau Keturunan Nabi Muhammad), Hikayat Bulan Berbelah {Hikayat Mukjizat Nabi), Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat Nabi Wafat CHikayat Tatkala Nabi Berpulang ke Rahmatullah).

Cerita tentang sahabat Nabi Muhammad saw. sebagian besar berasal dari India Selatan. Latar belakangnya memang peristiwa tertentu, tetapi karena aspek historisnya diabaikan, kisahnya menjadi khayali dan fantastis. Cerita tersebut, antara lain, Hikayat Muhammad Hanafiah, Hikayat Amir Hamzah, Kisah Amirul Mukminin Hasan wa Husain, Hikayat Tamim Ad-Dari, Hikayat Samaun, Hikayat Abu Samah.

Cerita para nabi umumnya diambil dari Al-Quran (sebagian juga dari kitab Perjanjian Lama). Sebenarnya ceritanya merupakan bentuk tafsir Al-Quran untuk pengetahuan umum, antara lain, Hikayat Nabi Yusuf, dan Kitab Ahli Tafsir.

Hikayat-hikayat yang menceritakan pahlawan Islam, antara lain, Hikayat Iskandar Zulkarnaen (saduran bebas dari cerita Alexander The Great yang termasyhur pada Abad Pertengahan di Eropa), Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Raja Jumjumah, Hikayat Saif Dzul-Yasan, Hikayat Sultan Ibrahim bin Adham.

Cerita khayalan yang timbul di nusantara hanya merupakan fantasi yang mencantumkan unsur-unsur hikayat Islam secara serampangan dan jalan ceritanya pun kusut. Contohnya Hikayat Raja Handak.

Khasanah kesusastraan Melayu Klasik sebenarnya cukup luas, mencakup cerita rakyat, epos India, cerita panji dari Jawa, cerita dari Persia, cerita berbingkai, seperti Pancatantra, Sukasaptati, Hikayat Bakhtiar, sastra keagamaan (berisikan ajaran keagamaan, tentang ibadat, hukum, tasawuf yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, Nuruddin Arraniri, Abdul Rauf Singkel), sastra sejarah, undang-undang Melayu Lama (seperti Undang-undang Melaka, Undang-undang Sungai Ujung, dan Undang-undang Sembilan Puluh Sembilan), dan puisi (pantun dan syair).

Incoming search terms:

  • hikayat abu nawas dalam kesusastraan melayu klasik termasuk dalam cerita
  • asal usul sastra melayu
  • maksud dr cerita hikayat kura kura berjanggut
  • kesusastraan rakyat
  • jelaskan inti cerita Hikayat mahsyodhak
  • hikayat abu nawas dalam kesusatraan melayu klasik termasuk dalam cerita
  • Apakah yang di maksud kesusastraan rakyat?
  • hikayat abu nawas dalam kasustraan melayu klasik termasuk dalam crita?
  • cerita rakyat melayu klasik pak senik
  • apakah yang dimaksud kesusastraan rakyat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • hikayat abu nawas dalam kesusastraan melayu klasik termasuk dalam cerita
  • asal usul sastra melayu
  • maksud dr cerita hikayat kura kura berjanggut
  • kesusastraan rakyat
  • jelaskan inti cerita Hikayat mahsyodhak
  • hikayat abu nawas dalam kesusatraan melayu klasik termasuk dalam cerita
  • Apakah yang di maksud kesusastraan rakyat?
  • hikayat abu nawas dalam kasustraan melayu klasik termasuk dalam crita?
  • cerita rakyat melayu klasik pak senik
  • apakah yang dimaksud kesusastraan rakyat