Advertisement

Kesusastraan yang menggunakan bahasa Melayu rendah atau Melayu pasar atau Melayu Cina yang berkembang di Indonesia pada pertengahan abad ke-19 sampai tahun 1960-an. Bahasa dap kesusastraan ini berkembang terutama di lingkungan masyarakat Cina di Indonesia, namun ada juga penulis dan pembacadari lingkungan masyarakat pribumi. Sampai sekarang jenis sastra ini belum diakui lingkungan sastra di Indonesia. Walau umumnya karya sastra ini bersifat populer, ada beberapa karya yang pantas dinilai memenuhi syarat sastra yang baik.

Kesusastraan Melayu rendah dibagi dalam lima bagian, yaitu masa perintisan, masa kebangkitan, masa pengembangan, masa keemasan, dan masa surut.

Advertisement

Masa Perintisan (1875-1895) berawal dengan adanya regulasi pers oleh pemerintahan Belanda pada lahun 1856 yang berisi pencabutan sensor pers dan dibukanya kesempatan penerbitan swasta. Gejala ini merupakan kemenangan kaum liberal. Dengan peraturan tersebut berkembanglah pers berbahasa Melayu pasar dan beberapa bahasa daerah. Banyak penerbitan yang dimodali orang-orang Belanda, Cina, atau Arab, sedangkan redaksi dan pembacanya meliputi juga orang-orang Indonesia. Bahkan menurut G. Schlegel (1881) penerbitan semacam itu sukses karena pembaca-pembaca pribumi. Bersamaan perkembangan pers, berkembang pula kesusastraan.

Karya-karya sastra yang mula-mula terbit merupakan penceritaan kembali cerita Cina klasik, saduran cerita Barat, atau syair peristiwa sejaman. Para penulisnya terdiri atas orang-orang Belanda, Cina, dan pribumi. Misalnya, Sair tjarita orang pemales karya Moehammad Hoesen (1863), Tampalan sair mengimpi dan sair boeroeng karya E de Quel joe (1884), Boekoe sair-binatang, landak, koeda, sapi karya Boen Sing Hoo (1882). Adanun saduran karya asing, misalnya, Bahwa inilah tjenta dari pada wayang orang … hikayat Djojosemedi (1889), Hikayat Don Juan atawa Tetamoe artja disalin oleh Soeriodarmo (1893), Hikayat Soeltan Ibrahim ibnu Adaham Walijoellah oleh Alex Rogensburg (1891). Cerita Cina yang diceritakan kembali, antara lain, Sam Kok dan Sam Pek Ing Tay, sedangkan karya terjemahan yang terkenal adalah Pnt Jest, Lawah-lawah Merah (1875) terjemahan Wiggers senior. Lie Kim Hok menerjemahkan beberapa novel populer Perancis, seperti RocamboleKapten Flamberge, Genevieve. Karya jenis drama seperti Bokoe komedi terpake bagi komedi Stamboel karya H. Kraft (1893).

Masa Kebangkitan (1896-1911). Sejak tahun 1895 sastra Melayu rendah menghasilkan karya sastra bersifat asli, yaitu bahan cerita, tempat kejadian cerita dan nama penulisnya benar-benar ada di Indonesia. Karya sastra tersebut berbentuk novel, tetapi ada juga jenis karya sastra masa rintisan. Hal menarik dari novel asli ini adalah pencantuman keterangan di bawah judul, yaitu “benar-benar telah kedjadian beloem lama berselang”. Penulisan novel masa ini umumnya diambil dari kejadian yang ramai diberitakan di surat  kabar, berkisar pada pembunuhan akibat pergundifc. an, perampokan, atau pelacuran. Para penulis novel masa ini terdiri atas penulis pribumi, Cina, Belanda atau Indo-Belanda.

Karya yang dihasilkan masa ini, antara Iain, M’a» Dasima (1896) karya O.S. Tjiang, Nji Paina dan Njonja Kong Hong Nio (1900) karya H. Kommer Njai Isah (1901) karya F. Wiggers, Rossina (1903) karya FDJ Pangemanann. Dari lingkungan Cinaperanakan muncul novel Oey See (1903) karya Thio Tjien Boen. Oey Tam Bah Sia (1904) karya Oei Soei Tong Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang. Seorang penulis pribumi yang berjiwa nasionalis, R.M. Tirtoadisoerjo, menu lis Njai Ratna (1909) dan Membeli Bini Orang (1909).

Masa Pengembangan menghasilkan banyak karya sastra, terutama dari penulis Cina peranakan yang mendominasi jenis sastra ini, sedangkan penulis Belanda mulai lenyap dan beberapa penulis pribumi yang masih bertahan. Beberapa novel masih meneruskan tradisi masa kebangkitan, namun muncul cerita imajinatif dalam arti tidak mendasarkan pada kejadian nyata. Cerita jenis ini lebih bersifat didaktis.

Karya-karya masa ini, antara lain, Controleur Maiheure (1912) dan Nona Kampoeng (1918) karya Phoa Tjoen Hoat, Pengempangan Darah dan Doea Nona Moeda (1912) keduanya karya Phoa Tjoen Hoay yang berlatar belakang daratan Cina. Pengarang produktif Tan Boen Kim menulis novel seperti Gan Jan Nio, Boenga Berjiwa, Proesoehan di Koedoes (1920) berdasarkan laporan nyata di Kudus. Thio Tjien Boen menulis Njai .Soemirah (1917), Tan Fa Liong (1922), dan Tida Bisa Moengkir (1911). Pengarang produktif sampai tahun 1950-an menulis antara lain. Sie Po Giok (1911), Tjoe Joe (1922). Tjoe Bou San menulis Satoe Djodo jang terhalang (1917), The Loan Eng (1922), Salah Mengerti (1926). Tan Kim Sen menulis Si Djempol Pendek dan Njai Marsina. Pengarang Cina peranakan lainnya adalah Venus, Nemo, Lie Zwie Gwan, Njoo Thwan In, Saint Diano, dan Lie Ing Eng. Dalam periode ini masih ada penulis pribumi Indonesia, yakni Semaoen dengan karya Hikayat Kadiroen (1924) dan Mas Marco Kartodikromo dengan beberapa cerita pendek.

Masa Keemasan (1925-1942) menerbitkan cerita bulanan, dengan setiap bulan menerbitkan satu novel atau lebih. Penerbitan masa ini menggunakan banyak nama romantik, seperti Moestika Panorama, Padang Bulan, serie Kekasih atau Penghidoepan, Taman Tjerita, Tjerita Roman. Juga cerita roman silat bulanan, seperti Gie Hiap, Semangat Silat. Yang menghasilkan karya sastra penting adalah bulanan Tjerita Roman, Tjilik Roman, Penghidoepan, Goedang Tjerita. Penulis masa ini menggarap cerita bersifat didaktis, terutama mengenai masyarakat Cina peranakan, namun beberapa menggarap masalah masyarakat pribumi. Selain penulisan novel, juga berkembang penulisan sastra drama. Ada novel-novel berdasarkan peristiwa aktual, namun alur ceritanya fiktif, misalnya peristiwa meletusnya Gunung Merapi, atau pemberontakan komunis tahun 1926.

Karya sastra masa ini, antara lain, (1) karya Junevile Kuo: Harta jang Terpendam (1928), Resia Toean Tanah Targerang (1928), dan Nona Bacarat (1930); (2) karya Tjoekat Liang: Satomo dan Satomi (1926), Siruang dari Utara (1930), dan Herjono (1931); (3) Karya Kwee Kheng Liong: Pembalasan Allah (1918), f>ertjobaannja Penghidoepan (1929), dan Bertobat (1931); (4) karya Liem King Hoo: Meledaknya Goenoeng Keloet (1929), Manoesia (1930), dan Masjarakat Hidoep (1940); (5) karya Tan Hong Boen: Bidadari dari Rawa Pening (1929), Koepoe-koepoe 4alam Halimoen (1929), dan Ketesan Aer di Ladang lalang (1930); (6) karya Kwee Tek Hoay: Drama di ftoven Digoel, Pendekar dari Tjapei, dan Drama dari Merapi; dan masih banyak lagi.

Karena penerbitan novel masa ini bersifat seperti maja!ah bulanan, makadapat diperkirakan jumlah novel yang diterbitkan masa ini. Tetapi ada juga novel yang bersifat bukan bulanan, seperti novel karya Kwee Tek Hoay.

Masa Surut (1943-1960-an). Setelah Perang Dunia H, tidak ada lagi penggolongan masyarakat pribumi, Belanda, dan Timur Asing (termasuk Cina peranakan). Semua golongan melebur menjadi masyarakat Indonesia dengan bahasa persatuan bahasa Indonesia. Dengan peleburan ini lenyaplah kesusastraan Melayu-Rendah. Walau demikian masih ada beberapa penulis jaman penjajahan yang menuliskan beberapa lcarya. misalnya, Tjinta dan Pengorbanan (1949), Boenga Petjomberan (1950), dan Tubrukan Djodo (1949) karya Yang Wen Chiao; Tikungan Dosa (1949), Kadjudjuran (1950), dan Suami Iblis (1950) karya Liem Poen Kie; dan Selendang Sutera (1949) karya Achsien A.A.

Setelah masa ini, para penulis Cina peranakan menggunakan bahasa Indonesia baku dalam karya mereka. Salah satu penulis Cina jalur sastra ini yang terkenal adalah Kho Ping Hoo. Pada dekade 1970-an beberapa penulis Cina peranakan, seperti Marga T. atau j lira W., sama sekali tidak dapat dibedakan dengan penulis Indonesia lainnya.

Incoming search terms:

  • sastra masa melayu rendah
  • sastra pada masa melayu rendah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sastra masa melayu rendah
  • sastra pada masa melayu rendah