PENGERTIAN KETELADANAN PEMIMPIN DALAM KEHIDUPAN ADALAH

52 views

PENGERTIAN KETELADANAN PEMIMPIN DALAM KEHIDUPAN ADALAH – Seorang pemimpin harus menjadi panutan bagi orang yang dipimpinnya. Sikap, tingkah laku, ucapan, gerakan, bahkan sampai cara berpakaian pun diperhatikan oleh bawahannya maupun lingkungan kerja. Banyak fungsi yang harus dikuasai sebagai seorang pemimpin antara lain sebagai guru, sebagai orang tua, sebagai kakak, sebagai rekan atau mitra kerja, sebagai tokoh yang dihormati, dan fungsi-fungsi lainnya yang menjadi tumpuan bawahan ataupun lingkungan.

Pemimpin kharismatis amat dihormati dan dianut oleh bawahan. Bawahan amat dipengaruhi oleh besarnya pamor pemimpin itu.

Dalam budaya kekeluargaan, kepemimpinan banyak diterapkan dengan mengUnggulkan anggota keluarga, anggota suku, dan lain-lain, sebagai staf. Dalam konteks ini kepemimpinan lebih banyak diteladani selaku orang tua atau yang dituakan.

Dalam organisasi pemerintahan maupun swasta, seorang diunggulkan sebagai pemimpin lebih karena kemampuannya, pendidikan, dan pengalamannya. Kelebihan sebagai seorang pemimpin yang memiliki bermacam keunggulan itu membuat sang pemimpin dihormati dan diteladani oleh bawahannya.

Agar dapat diteladani sebagai pemimpin dalam era glo-balisasi ini perlu ditanamkan jiwa, kepribadian, moral dan etika kerja yang obyektif, dengan memperhitungkan kondisi dinamika sosial dan lingkungan yang selalu berubah, sehingga pemimpin perlu memiliki wawasan ke depan yang memungkinkan dia memperhitungkan hal-hal yang akan terjadi dengan cermat.

Untuk dapat diteladani, faktor disiplin merupakan salah satu penentu kepemimpinan. Disiplin itu meliputi ucapan, sikap, tingkah laku dan ketaatan untuk mengikuti aturanaturan, baik tertulis maupun tidak tertulis. Ia melaksanakan aturan karena sadar penuh akan misi di baliknya dan inelakukannya sesuai dengan suara hatinya, serta tidak •mosional. Pengembangan disiplin secara menyeluruh dalam organisasi akan menciptakan tingkat keseimbangan, kestahilan dan kelancaran dalam mencapai tujuan organisasi.

Kedisiplinan harus dimulai dari tingkat pimpinan sehingga ia dapat diteladani oleh bawahannya. Pimpinan sendiri harus taat pada aturan, norma-norma, kriteria, standar%tandar, struktur dan sistem organisasi. Itu adalah syarat mutlak (condition sine quo non) untuk mencapai tujuan. Dengan itu ia akan menjadi pimpinan yang patuh diteladani. Suatu sikap keteladanan yang wajar akan berpengaruh pada kesungguhan hati, pengertian untuk mentaati segala apa yang diketahui, sehingga pemimpin yang memiliki kualitas seperti itu dengan mudah akan dapat mengarahkan anak buahnya untuk mencapai tujuan bersama.

Aturan-aturan dalam organisasi tidak bisa lepas dari aturan umum dan kesopanan yang biasanya merupakan hagian dari aturan adat. Hal itu perlu diketahui oleh pemimpin dan dia harus menerapkannya sehingga dapat diteladani bagi bawahnya.

Ketentuan-ketentuan yang wajar dan biasanya merupakan bagian dari aturan adat harus diketahui oleh seorang pemimpin untuk ditaati supaya tidak dinilai oleh orang lain atau bawahan sebagai pemimpin yang kurang beradap, pemimpin yang tak tahu norma.

Mengembangkan kemampuan untuk diteladani merupakan tantangan seorang pemimpin pada era globalisasi abad dua puluh satu. Bagaimana melakukannya? Apa keterampilan yang dimilikinya? Di mana dilakukan? Kesemuanya itu merupakan pertanyaan kunci pada era transformasi meoju lingkup global ini. Jarak dan kebinekaan merupakan tantangan seorang pemimpin. Demikian juga teknologi. Ini merupakan sesuatu yang perlu diketahui oleh seorang pemimpin untuk dapat dijadikan keteladanan. Manusia dan budaya merupakan organisme yang sangat rumit dengan kemampuan untuk belajar dan memiliki elastisitas yang luas biasa. Di samping itu keduanya juga memiliki “kekakuan” yang merupakan tugas seorang pemimpin untuk mengatasinya. Karena itu, suatu jenis kepemimpinan baru dalam era globalisasi ini diperlukan yaitu kepemimpinan yang mampu mengkombinasikan pesan-pesan fakta dan imajinasi kewirausahaan dalam menghadapi manajemen global.

Kepemimpinan baru yang tetap berlandaskan pada jati diri bangsa dalam menghadapi era manajemen global yang perlu diketahui oleh seorang pemimpin, dapat digambarkan pada halaman berikut.

Penguasaan Imanjinasi Pemimpin dalam manajemen glo-bal yang perlu diteladani adalah pemimpin yang memiliki imajinasi. Selain karakteristik pribadi yang unik, ia dituntut untuk memiliki keterampilan khusus, berupa penguasaan kondisi sosial, budaya, tingkat kesejahteraan manusia, dengan memperhitungkan waktu dan jarak, mengetahui keadaan suku dan bahasa, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), agama dan kepercayaan serta kondisi alam, baik secara fisik maupun nonfisik. Kualitas pemimpin dalam menguasai hal tersebut sebagian besar berkembang melalui pengalaman langsung bertahun-tahun dalam lintas kebudayaan di mana ia mengembangkan kepekaan terhadap tantangan yang harus dihadapi.

Pemimpin yang pantas diteladani mempunyai beberapa

karakteristik.

Secara pribadi seorang pemimpin harus mempunyai ciri-

ciri khusus seperti:

1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Imajinasi yang kuat.

3. Emosi yang stabil.

4. Mampu hidup dalam menghadapi kegagalan.

5. Berpikir terbuka.

6. Rendah hati (bukan berarti rendah diri)

7. Mempunyai pemikiran yang sabar dan tekun.

8. Disiplin.

9. Memperhitungkan efektivitas dan efisiensi.

10. Memiliki rasa humor dan berjiwa seni.

Dalam tataran hubungan kerja seorang pemimpin harus mampu:

1. Berpikir secara sistem dalam segala hal.

2. Mengambil keputusan dalam situasi yang sangat kritis.

3. Mengelaborasi sikap dan tingkah laku sesuai dengan lingkungan.

4. Menguasai budaya yang berhubungan dengan dirinya.

5. Memotivasi kerja bawahan secara kreatif

6. Membaca situasi dan harus ditindak lanjuti.

7. Menguasai kondisi lingkungan keamanan.

Sedangkan pada tataran intelektual dalam kehidupan sosial seorang pemimpin harusMampu membentuk hubungan pribadi dan mampu melaksanakan pembinaan agar terjadi hubungan yang baik, saling menguntungkan. Menguasai pengetahuan tentang sejarah dan kehidupan sosial. Dapat memberikan motivasi untuk bekerja secara lintas budaya yang dapat diterima. Selalu berkeinginan untuk menambah pengetahuan me-ngenai ilmu dan teknologi yang lebih baru. Mempunyai kepekaan terhadap kondisi lingkungan sosial dan alam.

Masyarakat yang sedang giat-giatnya membangun seperti I ndonesia ini sangat membutuhkan keteladanan pemimpin. Pada masyarakat yang masih berorientasi pada petunjuk dan pengarahan atasan, keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh atasan. Karena itu keteladanan atasan aniat menentukan proses pencapaian tujuan.

Ada dua cara memberikan keteladanan. Yang pertama ,,pek “negatif” (yang tidak sama dengan “jelek”) yaitu dangan memberi teladan dalam hal tidak melakukan hallial yang seharusnya tidak dilakukan (pantangan). Kalau pemimpin sendiri tidak melakukan hal-hal yang bersifat pantangan, ia dapat dengan leluasa memberi “larangan” kepada bawahannya. Aturan tertulis dimulai dari aturan yang tertinggi sampai pada aturan yang terendah, misalnya bagi bangsa Indonesia aturan tertulis dan makna yang terkandungnya Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Ketetapan MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden sampai pada peratuan yang terendah di tingkat Rukun Tetangga (RT). Sedangkan aturan yang tidak tertulis yaitu kegiatan atau ucapan yang harus dipatuhi didasarkan pada norma yang berlaku baik nasional—misalnya konvensi kebiasaankebiasaan kenegaraan—maupun kebiasaan yang hidup dalam masyarakat, adat, norma sosial lainnya.

Dalam memberikan keteladanan pemimpin harus dapat membatasi dan menguasai diri, sehingga tidak melanggar aturan-aturan baik tertulis maupun tidak tertulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *