PENGERTIAN KETIDAKSAMAAN TANPA STRATIFIKASI: MASYARAKAT HORTIKULTURA – Masyarakat hortikultura sederhana mempunyai peluang yang lebih banyak bagi terciptanya ketidaksamaan sosial dibandingkan masyarakat pemburu dan peramu. Ketidaksamaan tentu merupakan karakteristik masyarakat hor-tikultura, bukan ketidaksamaan dalam arti hak istimewa dan kekayaan, tetapi ketidaksamaan dalam prestise. Dengan demikian, masyarakat hortikultura sederhana tidak terstratifikasi tetapi lebih kepada apa yang disebut oleh Morton Fried (1967) sebagai “masyarakat bertingkat” (ranked societies). Menurut Frank, “Masyarakat bertingkat adalah masyarakat dimana posisi kedudukan (status) tinggi terbatas, sehingga tidak semua individu yang mempunyai kemampuan dapat mencapainya”,(1967; 109). Dengan kata lain, di dalam masyarakat bertingkat terdapat sistem rangking prestise dengan beberapa posisi-posisi kedudukan tinggi yang terbatas, yang tidak memberikan keuntungan material.

Seperti yang telah dib ahas dalam Bab 5, masyarakat hortikultura sederhana umumnya menunjukkan perekonomian yang bergantung pada redistribusi yang egaliter. Sistem rangking prestise dalam masyarakat ini sangat erat kaitannya dengan pola redistribusi ini. Dalam banyak masyarakat hortikultura sederhana, individu bekerja keras, berkorban untuk dan juga meminta pertolongan sanak keluarganya. Pada akhirnya, barulah dapat mengumpulkan hasil yang berarti dari ladang dan tanah mereka. Hasil ini kemudian digunakan untuk mengadakan pesta besar ketika datangnya waktu redistribusi secara umum. Individu yang berulangkali dapat menunjukkan keberanian mereka dalam mengadakan pesta yang berhasil, akan menduduki tingkat tertinggi. Ia kemudian akan membuat sangat iri, dihargai dan dikagumi oleh masyarakat. Seperti dibahas dalambab terakhir, individu iniberkedudukan sebagai “orang besar (big men)”.

“Orang besar” biasanya mempunyai saingan yang ingin menjatuhkan mereka. Walaupun dalam strata masyarakat hanya mempunyai satu orang besar, biasanya selaJu ada beberapa individu yang juga mempunyai kedudukan tinggi. Kedudukan tinggi harus dicapai dengan usaha dan keterampilan; ia tidak bisa didapatkan secara turun-temurun. Untuk menjadi orang besar, bebe;apa syarat kualitas personal perlu dipenuhi. Mungkin yang terpenting dari syarat-syarat tersebut adalah kedermawanan. Orang besar memiliki kekayaan, tetapi ia tidak akan mendapatkan kedudukannya tersebut dengan ,menimbun harta. Mereka akan mendapat pres tise dengan kedermawanan membagi-bagikan harta tersebut. Mereka yang lebih suka menimbun harta daripada membagi-bagikannya sangat tidak disukai. Dengan demikian, masyarakat bertingkat ini menolak perbedaan keuntungan material, dan mereka selalu mencegah sedini mungkin se tiap perkembangan ke arah tersebut. Dalam hal ini, sistem rangking berusaha menciptakan kesejahteraan umum (dengan aktivitas redistribusi oleh individu yang mempunyai kedudukan tinggi) sekaligus mencegah terbentuknya strata sosial karena perbedaan pendapatan. Suku Sivai dari Bougainville di pulau Solomon merupakan masyarakat hortikultura sederhana dengan sistem rangking seperti yang dikemukakan oleh Fried (Oliver,1955). Di kalangan Sivai, seseorang harus menguasai kualifikasi tertentu untuk menduduki status tertinggi. Salah satu di antaranya, tentu saja, barang-barang bernilai dalam jumlah banyak yang sesuai untuk pesta redistribusi. Tetapi memiliki kekayaan saja bukan jaminan bagi kedudukan tinggi. Ia juga dituntut untuk bermurah hati, dan membagi kekayaannya pada orang lain. Suku Sivai tidak menyukai mereka yang kikir dan mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri menjadi dasar bagi terjadinya perceraian perkawinan, dan orang yang kikir pada sanak keluarganya saat dibutuhkan dikatakan sebagai “berhati batu”. Orang yang kikir dikucilkan dan dicurigai mempunyai ilmu sihir, tidak disukai dan tidak dapat mencapai kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin. Sebaliknya orang dermawan disukai banyak orang, dihargai dan tergantung dari kesuksesan pesta pembagi hasil mereka, mendapat kesempatan yang luas untuk menduduki jabatan tinggi. Seseorang yang selalu mengadakan pesta dan memuaskan orang banyak mendapat nama baik. Sebagai pengakuan terhadap orang besar ini, suku Sivai memujanya dengan puji-pujian. Mereka juga sangat menghargai nama dan orang yang menduduki jabatan tinggi tersebut. Ia pada umumnya tidak dipanggil dengan nama pribadi, tetapi dengan nama keluarga atau cukup dengan mumi (“orang besar”) saja. Bahkan dalam surat keterangan, namanya tidak digunakan tetapi menggunakan nama kelompoknya atau memakai nama salah satu pembantunya. Tulisan Oliver tersebut memperjelas makna pangkat dalam masyarakat Sivai. Masyarakat Sivai merupakan contoh yang jelas tentang suatu masyarakat dengan sistem rangking tanpa terjadi stratifikasi. Sistem rangking seperti menampilkan gerakan evolusi yang lebih nyata daripada pola ketidaksamaan yang lazim terjadi pada masyarakat pemburu dan peramu.

Filed under : Bikers Pintar,