PENGERTIAN KETIDAKSAMAAN TANPA STRATIFIKASI: MASYARAKAT PEMBURU DAN PERAMU – Sebagaimana telah diketahui, masyarakat pemburu dan peramu tidak terstratifikasi. Karakteristik perekonomian mereka bertumpu pada asas timbal balik, dengan kebersamaan dan kerja sama intensif seluruh anggota. Pemburu dan peramu pada umumnya menampilkan “komunisme primitif”: prinsip hak milik (setidaknya hak untuk memakai) adalah komunal dan individu dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraannya. Karakteristik masyarakat pemburu dan peramu, tidak ditentukan oleh ketidaksamaan hak istimewa, dan karena itu tidak terdapat strata sosial. Namun, ketiadaan strata sosial tidaklah berarti ada kesamaan derajat ang,gota dalam masyarakat pemburu dan peramu. Ketidaksamaan tetap terjadi, terutama ketidaksamaan prestise atau pengaruh sosial yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, dan karakteristik personal tertentu. Telah umum diketahui, bahwa laki-laki cenderung mendapat status yang lebih tinggi dibanding dengan wanita di antara pemburu dan peramu, begitu juga dengan anggota masyarakat yang tua sering mendapat penghormatan dan penghargaan lebih dibanding mereka yang masih muda. Disamping itu, mempunyai ciri-ciri atau kelebihan tertentu dapat menaikkan prestise. Seseorang yang mahir berburu, yang gagah berani, atau yang bijaksana selalu mendapat prestise tertinggi. Individu-individu seperti ini selalu dianggap sebagai pemimpin karerta mereka dianggap paling dapat dipercayai dan dipanuti di antara mereka.

Walau bagaimanapun, pengaruh dan prestise seseorang dalam masyarakat pemburu-peramu tidak lebih dari “yang pertama di antara sesama”, dan tidak mempunyai hak-hak istimewa khusus. Perlu diketahui juga bahwa pengaruh atau prestise dicapai dengan kemampuan dan usaha individu, tidak disebabkan oleh mekanisme sosial yang turun-temurun. Prestise adalah kegagalan dan keberhasilan personal. Individu harus sungguh-sungguh dalam mempertahankan kehormatan. Apabila kemampuan dan usaha-usaha yang dilakukan gagal, maka statusnya akan turun dan individu lain akan menggantikannya. Jadi, sebenarnya masyarakat pemburu dan peramu memberi kesempatan dan memperbolehkan individu untuk mencapai status tertinggi. Pada masyarakat seperti ini, penghargaan terhadap status sosial, usaha dan keterampilan tertentu berhubungan erat satu sama lain. Fakta ini berlainan dengan masyarakat yang mempunyai tingkat stratifikasi yang lebih tinggi.

Penting diketahuibahwa derajat prestise dalam rnasyarakat peramu dan pemburu lebih mudah dicapai dibandingkan dengan sifat prestise dalam masyarakat tingkat lain. Masyarakat pemburu dan peramu benci akan kesombongan dan pemuliaan diri, dan mereka memberikan sanksi yang berat terhadap individu yang demikian. Dalam masyarakat tersebut haruslah tercipta kesejahteraan umum dan kesamaan sosial. Dengan demikian, masyarakat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat egaliteri.

Namun, tidak semua masyarakat pemburu dan peramu egaliter. Ke-tidaksamaan hak istimewa juga merupakan karakteristik dalam beberapa masyarakat tersebut. Sejauh ini contoh terbaik dari masyarakat pemburu dan peramu yang terstratifikasi adalah suku Indian yang hidup di Pantai Barat laut Amerika Serikat. Walaupun terjadi perdebatan terhadap sifat dan tingkat ketidaksamaan yang terjadi, beberapa antropolog berkesimpulan bahwa masyarakat Indian tersebut dipengaruhi oleh sistem kelas yang eksploitatif. Sebagai contoh, antropolog Eugene Ruyle (1973) menyatakan adanya kelas penguasa, kelas rentenir/penyewa, dan perbudakan dalam masyarakat tersebut. Masyarakat ini terkenal di antara para ilmuwan sosial karena pesta mereka yang dikenal dengan potlatch yang bersifat kompetitif, sebuah fenomena yang akan dibahas dalam bab terakhir. Selama pesta tersebut, pemimpin-pemimpin suku Indian tersebut mencoba membuat malu para saingannya dengan memberikan harta dalam jumlah besar, kemudian mengoceh dan membual tentang kebesaran dirinya sendiri. Di kalangan suku Kwakiutl, misalnya, para pemimpinnya berjuang untuk terus memelihara dan mempertinggi status mereka. Jelaslah, bahwa pola hidup terstratifikasi dan usaha pencapaian status di daerah Pantai Barat laut tersebut sangat unik untuk jenis masyarakat pemburu dan peramu. Tetapi suku-suku pantai Barat Laut tersebut tidak khas masyarakat pemburu dan peramu. Mereka hidup dalam lingkungan yang unik dan rnempunyai tingkat kepadatan populasi, sangat berbeda dengan kelompok pemburu dan peramu lain. Tetapi keunikan masyarakat ini tidak mengubah pengertian tentang apa yang telah ditemukan dalam kehidupan pernburu dan peramu.

Filed under : Bikers Pintar,