Advertisement

Sebelum melanjutkan pembicaraan kita tentang hubungan antarpribadi, marilah kita memulai pembicaraan dengan membahas komunikasi antarpribadi (interpersonal communication). Komunikasi adalah sebagian dari hubungan atau hal yang membentuk hubungan antarpribadi. Dalam komunikasi salah satu pihak menyampaikan pesan (dinamakan pengirim atau komunikator) kemudian pihak yang lain menerimanya (penerima atau receiver atau komunikan).

Dengan demikian, komunikasi sedikitnya memerlukan dua pihak. Kalau Yansen, misalnya, berbicara kepada Dedet, Yansen adalah pengirim dan Dedet penerima pesan. Sebaliknya isi pembicaraan adalah pesan (komunike) itu sendiri.

Advertisement

Menurut Hartley (1993), ada berbagai jenis komunikasi, yaitu antara individu dan individu, antara individu dan massa (misalnya, dalam pidato atau kuliah), dan antara kelompok dengan massa (misalnya, antara para penyuluh pertanian yang mewakili pemerintah dan para petani) yang masing-masing dapat berlangsung secara tatap muka, atau dengan bantuan alat atau teknologi (telepon, radio, tv, film, dan sebagainya).

Dari berbagai jenis komunikasi itu, komunikasi antarindividu yang langsung (bertatap muka) adalah yang paling lengkap mengandung berbagai faktor psikologis dan karena itu patut mendapat perhatian yang pertama.

Komunikasi antarpribadi yang bertatap muka, menurut Hartley (1993) mengandung beberapa aspek. Pertama, tatap muka itu sendiri yang membedakannya dari komunikasi jarak jauh atau komunikasi dengan alat. Dalam komunikasi tatap muka ada peran yang harus dijalankan oleh masing-masing pihak (pemberi informasipenerima informasi, pengajar-siswa, suami-istri, ibu-anak, majikanpembantu dan sebagainya) dan peran itu merupakan bagian dari proses komunikasi itu sendiri. Dalam hal ini diperlukan saling percaya, saling terbuka, dan saling suka antara kedua pihak agar terjadi komunikasi. Komunikasi antara Yansen dan Leo yang didasari oleh rasa saling suka akan lebih berhasil daripada komunikasi antara Yansen dan Dedet yang dasarnya sudah tidak saling menyukai. Komunikasi antara Yansen dan Dedet oleh Hartley dinamakan komunikasi noninterpersonal, atau komunikasi karena terpaksa. Dalam hubungan ini, kematangan kepribadian bisa lebih membantu komunikasi, karena kepribadian yang matang lebih siap menerima berbagai peran dari pasangan komunikasinya (Kabul, 1978). Selain itu, perlu diperhatikan bahwa peran dalam komunikasi tidak harus selalu terkait dengan status seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang wanita bisa saja berkomunikasi dengan mengambil peran sebagai pria atau pria berperan sebagai wanita, tergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan komunikasi itu sendiri (Aries, 1996). Jadi, seorang ibu yang bekerja dapat meminta kepada suaminya (yang masih kuliah) untuk berbelanja ke pasar sementara ibu itu sendiri ke kantor. Dalam komunikasi ini ibu mengambil peran lakilaki sementara suaminya mengambil peran wanita. Demikian pula anak dapat menasihati orang tuanya (anak mengambil peran orang tua) atau pembantu meminta tolong majikannya untuk mengambilkan cucian sementara ia sedang menjemur di loteng.

Aspek lain dalam komunikasi antarpribadi menurut Hartley adalah adanya hubungan dua arah. Komunikasi tatap muka berbeda dari warta berita di tv atau radio karena kedua pihak dapat saling menukar pesan. Dengan pertukaran pesan itu, terjadi saling pengertian akan makna atau arti dari esan itu. Jadi dalam komunikasi yang penting bukanlah pesannya semata, tetapi arti (meaning) dari pesan itu. Komunikasi yang terbatas pada isi pesan itu sendiri hanya terdapat pada komunikasi yang teknis (majikan menyuruh supir membelikan rokok merek Anu dua bungkus, atau penerbang minta izin mendarat kepada pengatur lalu lintas udara, atau guru matematika menanyakan kepada muridnya berapa akar 49, dan sebagainya). Dalam komunikasi yang nonteknis (sebagian besar komunikasi adalah nonteknis), misalnya, ibu yang tawarmenawar dengan penjual, anak yang minta dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya, dan mahasiswa’yang menanyakan nilai kepada dosen, kriteria dimengertinya pesan adalah adanya kepuasan dan saling pengertian dalam interaksi yang bersangkutan (Foppa, 1995). Kepuasan yang diperoleh Yansen dari komunikasinya dengan Leo, dalam contoh di atas, merupakan tanda bahwa tujuan komunikasi antara kedua orang tersebut sudah tercapai.

Mengenai betapa pentingnya makna dalam komunikasi ini dibuktikan oleh McKinley (1995). Sebagai pengajar bahasa Inggris sejumlah pengusaha di Hongaria, selama 3 tahun ia menemukan bahwa pengajaran bahasa bukan sekadar peng’uasaan perbendaharaan dan arti kata-kata (syntax). Kurangnya atau tidak adanya sama sekali pengetahuan atau pengalaman di sekitar katakata yang diajarkan menyebabkan sulitnya kata-kata itu dipahami maknanya. Mungkin kira-kira sama dengan mengajarkan kepada penduduk asli Irian Jaya kata “kuda” sementara penduduk asli itu sendiri belum pernah melihat kuda.

Setelah makna, aspek berikut dari komunikasi tatap muka adalah niat, kehendak atau intensi dari kedua pihak. Dedet yang sejak semula memang tidak suka bahwa kegiatannya terganggu oleh kehadiran Yansen sudah barang tentu tidak berniat untuk berkomunikasi secara optimal dengan Yansen. Sementara Leo yang memang berniat untuk berkawan dengan Yansen mempunyai peluang yang lebih besar untuk saling mengerti dengan Yansen. Menurut Monsour (1994) adanya intensi untuk saling berkomunikasi akan mempercepat proses guna mencapai saling pengertian secara kognitif dalam komunikasi antarpribadi.

Proses itu sendiri berjalan dalam kaitannya dengan waktu. Waktu merupakan aspek yang juga melekat dalam komunikasi karena pencapaian saling pengertian kogitif, misalnya, membutuhkan waktu. Seringnya pengulangan sehingga makin dicapai saling pengertian yang makin tinggi berarti juga waktu yang lebih lama.

Sementara itu, komunikasi selalu teriadi dalam konteks waktu. Mengajak orang makan rujak di pagi hari waktu orang baru bangun tidur, misalnya, dapat diartikan sebagai ejekan atau kekurang ajaran karena ajakan itu dilakukan pada waktu yang salah. Jika pagi hari kita menawarkan nasi goreng, pibak yang ditawari pun akan menanggapinya dengan senang hati.

Sebagai ilustrasi, untuk memperjelas proses komunikasi tatap muka itu ikutilah dialog di bawah ini.

A : Hai, siapa kamu?

B : Saya Henri. Saya dokter.

A : Mau apa kamu ke sini?

B : Mau ketemu Pak Direktur. Katanya dia sakit jadi saya dipanggil.

Menurut kesan Anda, bagaimana perasaan B terhadap A setelah mendengar kata-kata A yang seperti itu? Coba bedakan juga perasaan B terhadap A dalam dua situasi yang berikut.

  1. Siang hari, di pintu masuk kantor. A adalah satpam, berbadan besar, dan berkumis. B adalah seorang pemuda kurus, bercelana jins lusuh dan bersepatu karet.
  2. Malam hari di sebuah rumah Sakit. A adalah dokter senior yang sedang menjaga dokter Direktur Rumah sakit itu yang kebetulan sakit mendadak. B adalah dokter muda yang tidak berdinas, tetapi khusus dipanggil untuk membantu merawat pak direktur yang sedang sakit.

 

Advertisement