PENGERTIAN KOMUNIKASI

82 views

Sebagaimana telah diterangkan di muka istilah komunikasi yang semula merupakan fenomena sosial, kemudian menjadi ilmu yang secara akademik berdisiplin mandiri, dewasa ini dianggap amat penting sehu-bungan dengan dampak sosial yang menjadi kendala bagi kemaslahatan umat manusia akibat perkembangan teknologi.

Ilmu Komunikasi, apabila diaplikasikan secara benar akan mampu mencegah dan menghilangkan konflik antarpribadi, antarkelompok, antar-suku, antarbangsa, dan antarras, membina kesatuan dan persatuan umat manusia penghuni bumi. Pentingnya studi komunikasi karena permasalahan-permasalahan yang timbul akibat komunikasi. Manusia tidak bisa hidup sendirian, la secara tidak kodrati harus hidup bersama manusia lain, baik demi ke-langsungan hidupnya keamanan hidupnya, maupun demi keturunannya. Jelasnya, manusia harus hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa ber- bentuk kecil, sekecil rumah tangga yang hanya terdiri dari dua orang suami istri, bisa berbentuk besar, sebesar kampung, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi, dan negara.

Semakin besar suatu masyarakat yang berarti semakin banyak manusia yang dicakup, cenderung akan semakin banyak masalah yang timbul, akibat perbedaan-perbedaan di antara manusia yang banyak itu dalam pikirannya, perasaannya, kebutuhannya keinginannya, sifatnya, tabiatnya, pandangan hidupnya, kepercayaannya, aspirasinya, dan lain sebagainya, yang sungguh terlalu banyak untuk disebut satu demi satu. Dalam pergaulan hidup manusia di mana masing-masing individu satu sama lain beraneka ragam itu terjadi interaksi, saling mempengaruhi demi kepentingan dan keuntungan pribadi masing-masing. Terjadilah saling mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk percakapan jika demikian terjadi tatkala Adam a.s. berjumpa dengan Hawa seperti telah disinggung pada awal’ Bab I maka demikianlah pula manusia- manusia kini dan manusia-manusia pada masa yang akan datang.

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicatee). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jika dianalisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa.

Pikiran dan perasaan sebagai isi pesan yang disampaikan komuni-kator kepada komunikan, selalu menyatu secara terpadu; secara teoritis tidak mungkin hanya pikiran saja atau perasaan saja, masalahnya mana di antara pikiran dan perasaan itu, yang dominan. Yang paling sering adalah pikiran yang dominan; jika perasaan yang mendominasi pikiran hanyalah dalam situasi tertentu, misalnya suami sebagai komunikator ketika sedang marah mengucapkan kata-kata menyakitkan. Pada situasi di mana guru sedang mengajar, da’i sedang berkhut- bah, penyiar televisi sedang membaca berita, di situ isi pesan yang disampaikan ketiga komunikator tersebut didominasi oleh pikiran.

Pergaulan hidup semakin lama semakin komplek; dengan sendirinya pula interaksi dan komunikasi. Komunikasi tidak lagi terjadi antara suami istri semata, tetapi dengan orang lain, baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan pergaulan hidup manusia menjadi dua jenis, yakni Gemeinschaft dan Gesellschaft. Yang dikategori-kan Gemeinschaft adalah pergaulan hidup dengan ciri-ciri pribadi (per-sonal), tak rasional (irrational) dan statis, sedangkan Gesellschaft me-rupakan pergaulan hidup dengan ciri-ciri tak pribadi (impersonal), rasional (rational) dan dinamis. Gesellschaft adalah pergaulan hidup yang serba formal, birokratis, dan kaku disebabkan peraturan-peraturan yang mengikat dan membatasi. Di situ terdapat pemimpin dan bawahan atau pengikut yang dipimpin, yang harus taat, patuh, disiplin yang sifatnya sanksional. Gesellschaft bisa berbentuk jawatan, perusahaan, lembaga, badan, partai politik, dan lain sebagainya. Oleh karena pergaulan hidup dalam Gesellschaft bersifat takpribadi maka komunikasi acapkali tidak berlangsung mulus disebabkan hambatan psikologis, sosiologis, atau antropologis. Semakin peliknya antar manusia dan semakin pentingnya studi terhadap komunikasi itu, disebabkan teknologi, khususnya teknologi komunikasi yang semakin lama semakin canggih. Dewasa ini orang-orang semakin asyik mempelajari ilmu komunikasi oleh karena jika seseorang salah komunikasinya (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaran mengalami salah persepsi (misperception), yang pada gilirannya salah interpretasi (misinterpretation), yang pada giliran berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding). Dalam hal-hal tertentu salah pe-ngertian ini menimbulkan salah perilaku (misbehavior), dan apabila komunikasinya berlangsung berskala nasional, akibatnya bisa fatal. Situasi komunikasi yang semakin pelik itu mengundang pertanyaan yang hakiki yang memerlukan jawaban yang hakiki pula. Apa sebenarnya komunikasi itu? Untuk menjawab pertanyaan yang sederhana tetapi dasariah itu, tampaknya kita perlu melacak pengertiannya secara etimologis, menelaah asal katanya.

Para mahasiswa komunikasi sudah hafal bahwa pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin “communicatio”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama; sama di sini maksudnya sama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan.

Jika tidak terjadi kesamaan makna antara kedua aktor komunikasi (communication actors) —- yakni komunikator dan komunikan itu, dengan lain perkataan komunikan tidak mengerti pesan yang diterimanya, maka komunikasi tidak terjadi. Dalam rumusan lain, situasi tidak komunikatif. Situasi komunikatif bisa berupa pidato, ceramah, khotbah, dan lain-lain, baik ‘situasi komunikasi lisan maupun tulisan. Jika anda yang tengah membaca buku ini ternyata tidak mengerti isi buku ini bagi anda tidak komunikatif. Ada dua kemungkinan yang menyebabkan buku ini tidak komunikatif bagi anda. Kemungkinan pertama penulis tidak mampu mengarang; kemungkinan kedua tingkat pendidikan anda terlalu rendah untuk bisa menyimak makna-makna dari kalimat dalam buku ini. Sebalik-nya bila anda memahami isi buku yang anda sedang baca ini berarti buku ini komunikatif bagi anda.

Penyebab utama terjadinya situasi komunikatif itu adalah karena isi buku ini, baik pemilihan kata-katanya maupun susunan kalimatnya cocok dengan apa yang dinamakan Wilbur Schramm frame of reference atau dalam bahasa Indonesianya kerangka acuan, yaitu paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) anda. Schramm menyatakan bahwa field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, jikalau pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain; dengan lain perkataan situasi menjadi tidak komunikatif; atau dengan rumusan lain terjadi miscommunication (miskomunikasi). Dan banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya miskomunikasi atau komunikasi yang salah itu. Sehubungan dengan itu timbul kini pertanyaan : bagaimana caranya agar komunikasi terjadi, bahkan pertanyaan yang lebih jauh, bagaimana tekniknya agar komunikasi yang dilancarkan seorang komunikator ber-langsung efektif? Jawaban terhadap pertanyaan itulah yang akan dibahas pada halaman-halaman dan bab-bab berikutnya dalam buku ini.

Incoming search terms:

  • komunikasi yang komunikatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *