self-concept (konsep diri)

Konsep diri memiliki banyak pengertian karena merupakan peninggalan dari macam-macam disiplin ilmu. Filsafat dan Teologi menggarisbawahi diri sebagai titik pusat moral dan tanggung jawab. Psikologi humanis dan klinis menekankan diri sebagai dasar keunikan individu dan neurosis. Dalam sosiologi konsep diri lekat pada sebuah karakter sosial yang tak dapat dihilangkan, dengan penekanan pada bahasa dan interaksi sosial sebagai matriks dari keberadaan dan pemeliharan diri. Konsep diri dalam psikologi sosial-eksperimenal baru-baru ini memberi penekanan lebih besar pada aspek kognitif dan motivasi, seperti konsep-diri sebagai sumber motivasi, sebagai sebuah kinerja yang ditujukan pada pengelolaan kesan, dan sebagai sebuah sumber dari organisasi kognitif dan perseptual.

Intinya, gagasan konsep diri didasarkan pada kapasitas manusia untuk refleksivitas, yang sering dianggap sebagai syarat utama dari kondisi manusia. Refleksivitas, atau kesadaran diri kemampuan manusia untuk menjadi subyek dan obyek bagi diri mereka sendiri dapat dikonseptualisasi sebagai sebuah dialog antara “1” (contohnya, diri sebagai pihak yang ‘mengetahui’) dan ‘me’ (diri sebagai pihak yang ‘diketahui’), sebuah percakapan internal, yang muncul (pada tahap ontogenetis dan phylogenetis) bersamaan dengan munculnya bahasa sebuah argumen yang dikembangkan oleh G.H. Mead (1934). Bahasa mengharuskan kita mengambil peran dari orang yang kita ajak berkomunikasi, dan dalam prosesnya membuat kita mampu melihat diri kita sendiri dari perspektif orang lain.

Sebenarnya, proses refleksivitas ini mengacu pada konsep tentang diri. Konsep diri, di sisi lain, adalah produk dari kegiatan refleksif ini. Konsep diri adalah sebuah konsep bahwa seorang individu menempatkan dirinya sebagai makhluk fisik, sosial, moral dan eksistensial. Konsep diri adalah total kumpulan pemikiran dan perasaan individu mengenai diri mereka sendiri sebagai obyek (Rosenberg 1979). Ini menyangkut keberlangsungan spasial dan temporer tentang identitas pribadi suatu pemisahan diri “esensial dari hanya sekedar tingkah laku dan penampilan dan terdiri dari berbagai sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan pengalaman, bersama dengan komponen afektif dan evaluatifnya (seperti ‘evaluasi diri’ dan ‘harga diri’), dalam pengertian individu mendefinisikan diri mereka sendiri. Dalam beberapa hal, konsep diri dianggap sama dengan konsep ego (Sherif 1968) kendati psikolog lebih menyukai istilah konsep ego sedangkan ahli sosiologi lebih menyukai istilah konsep diri. Aspek konsep diri yang beragam ini dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar: identitas dan ‘evaluasi diri’.

Pertama, konsep identitas. Konsep ini terfokus pada makna yang dikandung diri sebagai suatu obyek, memberi struktur dan isi pada konsep diri, dan mengaitkan diri pada sistem sosial. ‘Identitas’ memiliki sejarah yang kompleks dan menarik dalam ilmu sosial. Secara umum. identitas mengacu pada siapa atau apa dari seseorang, juga mengacu pada berbagai makna yang diberikan pada seseorang oleh diri dan orang-orang lain. Dalam sosiologi, identitas mengacu pada ciri-ciri struktural keanggotaan kelompok tertentu di mana individu melakukan internalisasi sekaligus sebagai sesuatu yang dipegang teguh (misalnya, peran sosial, keanggotaan dan kategori-kategori). Identitas juga mengacu pada berbagai macam karakter yang ditampilkan individu bersangkutan dan karakter-karakter dari tokoh tertentu dalam suatu kondisi sosial tertentu. Struktur konsep diri dapat dilihat sebagai suatu organisasi hirarkis dari identitas seseorang, yang bagian terbesarnya mencerminkan sistem sosial dan kultural tempat identitas itu berada (Stryker 1980).

Kedua, evaluasi diri (atau harga diri) dapat terjadi pada identitas-identitas tertentu yang dipegang erat oleh individu, atau dapat juga terjadi pada evaluasi menyeluruh tentang diri. Orang lebih suka membuat evaluasi diri berdasarkan dua kategori besar: pengertian mereka mengenai kompetensi atau kemampuan dan pengertian mereka tentang kebaikan atau nilai moral (Gecas dan Schwalbe 1983; Wells dan Marwell 1976).

Ada banyak proses yang berpengaruh penting pada pengembangan ‘konsep diri , yaitu: nilai pantulan (reflected appraisals), perbandingan sosial (social comparison), atribusi diri (self-attribu¬tion) dan memainkan peran (role-placing). Proses yang paling terkenal dalam sosiologi adalah nilai pantulan. Berdasarkan konsep ‘looking-glass self dari Cooley dan teori Mead tentang pengambilan peran (role-taking) sebagai produk dari interaksi simbolik, nilai pantulan merupakan karakter sosial yang mendasar dari konsep diri, contohnya: gagasan bahwa konsep diri kita mencerminkan penilaian dan persepsi tentang orang lain, terutama orang-orang terdekat di sekitar kita. Proses nilai pantulan adalah dasar dari teori labelling (labelling theory) tentang isu penyimpangan dalam sosiologi, dan proses pemenuhan diri (self-fulfilling) dalam psikologi sosial.

Perbandingan sosial adalah proses di mana individu menilai kemampuan dan kebaikan mereka dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain. Kelompok rujukan lokal atau seseorang sering dipakai sebagai acuan perbandingan ini, tenitama dalam kondisi kompetisi, seperti lomba atletik atau pertandingan antar kelas. Atribusi diri mengacu pada kecenderungan membuat kesimpulan tentang diri kita sendiri dari pengamatan langsung perilaku kita. Teori persepsi diri (self-perception) dari Bern (1972) menyatakan bahwa individu menentukan apa yang mereka rasakan dan pikirkan dengan membuat kesimpulan berdasarkan pengamatan terhadap perilaku mereka. Memainkan peran (role playing) sebagai sebuah proses dari formasi konsep diri terlihat jelas pada kajian tentang sosialisasi. Proses ini menekankan pengembangan konsep diri melalui pembelajaran dan upaya menginternalisasi berbagai peran sosial (seperti, peran jenis kelamin dan umur, peran keluarga, peran pekerjaan).

Konsep diri mempakan sebuah produk kekuatan sosial sekaligus pada skala yang lebih besar merupakan agen penciptaan diri. Bersama dengan kapasitas untuk refleksifitas diri yang sudah dibahas sebelumnya aspek keagenan dari konsep diri terlihat jelas pada pembahasan mengenai motivasi diri (yaitu konsep diri sebagai sumber motivasi). Ada tiga motivasi diri yang menonjol dalam literatur psikologi sosial, yaitu motivasi penguatan diri (self-enhancement) atau motivasi harga diri (self-esteem motive); motivasi kemampuan diri (self-efficacy motive), dan motivasi konsistensi diri (self-consistency motive).

Pertama, mengenai motivasi penguatan diri (self-enhancement) atau motivasi harga diri (self- esteem motive). Ini mengacu pada motivasi seorang individu untuk mempertahankan atau menguatkan harga diri mereka. Motivasi ini terlihat pada kecenderungan orang-orang untuk mendistorsi kenyataan agar konsep diri tetap positif, melalui berbagai strategi seperti persepsi selektif, rekonstruksi ingatan, dan beberapa mekanisme pertahanan diri (ego-defensive) klasik yang lain.

Kedua, motivasi kemampuan diri mengacu pada pentingnya menghayati (experiencing) diri sebagai agen sebab-akibat yaitu motivasi untuk menerima dan menghayati diri sebagai seseorang yang mampu, kompeten, dan tak bisa lepas dari konsekuensi. Upaya menindas atau menghambat motivasi ini menimbulkan akibat negatif seperti alienasi, pasrah pada ketidakberdayaan dan kecenderungan melihat seseorang sebagai pion atau korban keadaan. (GecasdanSchwalbe 1983).

Ketiga, motivasi konsistensi diri, barangkali yang terlemah di antara ketiga motif diri ini, namun kemudian ternyata banyak pendukung-nya. Lecky (1945), salah satu pendukung awal, melihat pemeliharaan sistem konseptual kesatuan (unified conceptual system) sebagai suatu kebutuhan individu yang selama ini dikesampingkan. Para teoretisi ini yang menyatakan konsep diri sebagai organisasi pengetahuan, atau sebagai suatu generalisasi kognitif memberi penekanan yang lebih besar pada motivasi konsistensi diri ini. Konsep diri sebagai organisasi identitas juga memberikan motivasi dasar untuk konsistensi, di mana individu termotivasi untuk berbuat sesuai nilai dan norma yang terkandung dalam identitas yang melekat pada mereka.

Pada masa lalu, banyak penelitian tentang konsep diri terfokus pada harga diri (baca Wells dan Marwell 1976; Wylie 1979), yaitu, mengenai anteseden dari harga diri, konsekuensi harga diri, dan hubungan antara harga diri dengan hampir semua aspek tingkah laku dan kepribadian seseorang. Banyak dari fokus penelitian ini memang terbukti kebenarannya. Tapi tidak bisa dimungkiri adanya trend yang menunjukkan arah sebaliknya. Yang paling mencolok adalah dinamika presentasi diri dan pengelolaan kesan (impression management)-, pengembangan dan akibat dari komitmen terhadap identitas tertentu (terutama gender, kelompok etnis, orang yang menyimpang, dan umur tertentu); pengaruh-pe-ngaruh struktural sosial dan historis terhadap konsep diri (seperti perang, depresi, perubahan budaya, kompleksitas organisasi); dan akhirnya kita menemukan sebuah fokus mengenai dampak konsep diri terhadap struktur sosial dan keadaan sosial. Konsep diri dengan cepat menjadi bahan kajian dominan dalam psikologi sosial (baik dalam bagian sosiologi maupun psikologi), sebagai bagian dari pergeseran besar intelektual dari behavioural menjadi kognitif dan orientasi fenomenologis dalam ilmu-ilmu ini.

Incoming search terms:

  • pengertian penguatan diri sendiri
  • pengertian looking glass self
  • pengertian dari penguatan diri sendiri
  • arti penguatan diri sendiri

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian penguatan diri sendiri
  • pengertian looking glass self
  • pengertian dari penguatan diri sendiri
  • arti penguatan diri sendiri