Advertisement

Pendidikan di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Semenjak Indonesia merdeka sistem pendidikan nasional telah mengalami berkali-kali perubahan, tetapi hingga saat ini produk pendidikan Indonesia masih belum memuaskan. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini adalah para lulusan tidak cukup mandiri untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri karena para lulusan tersebut hanya memiliki keahlian dan kemampuan yang lebih kurang seragam dan bahkan kurang memadai, sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia sangatlah bervariasi dan terbatas sehingga para lulusan tidak terserap oleh lapangan pekerjaan. Penduduk Indonesia pada saat ini berjumlah lebih kurang 240 juta orang dan delapan puluh delapan persen memeluk agama Islam, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar didunia. Di seluruh Indonesia terdapat lebih dari sepuluh ribu pesantren sebagai basis pendidikan Islam dan di samping itupun ada puluhan ribu sekolah umum dan swasta yang pada umumnya ditempati oleh peserta didik yang beragama Islam. Seyogianya jumlah pesantren yang sangat besar itu merupakan kekuatan yang besar pula, namun kenyataannya berbeda. Dari jumlah tersebut terlihat bahwa sekolah yang maju hanya dapat dihitung jari, sedang kan sisanya berjalan seadanya, artinya jika ada murid, guru,buku dan tempat, maka pengajaranpun diselenggarakan, dan apapun hasilnya diterima sebagai suatu kenyataan. Di dalam dunia pendidikan dewasa ini sedang terjadi perubahan paradigma pembelajaran, dari dominasi guru (teacher centred approach) kepada dominasi murid (student centred approach). Perubahan ini pengaruhnya sangat besar dan menyeluruh. Oleh karena itu beberapa hal yang harus disikapi secara serius yaitu: Pertama; peserta didik, yang terkait dengan pengembangan mental intelektual, potensi diri, lingkungan pendidikan yang sangat kompleks, Kedua; pendidik, siapa yang berhak menjadi pendidik dan kompetensi apa yang harus dimilikinya. Ketiga; metodologi pembelajaran, yang terkait dengan potensi diri, gaya belajar dan gaya berfikir. Keempat; materi pendidikan, dimana antara materi dan buku paket sering terjadi ketidak sesuaian, banyak materi yang mubazir karena berulang-ulang, terlalu mudah atau terlalu sulit sehingga tidak sesuai dengan perkembangan mental intelektual peserta didik. Kelima; tempat penyelenggaraan pendidikan, yang terkait dengan, apakah tempat penyelenggaraan memadai untuk Pengembangan kurikulum secara keseluruhan; apakah ratio peserta didik dengan pendidik sudah sesuai menurut kaidah belajar, dan apakah susunan tempat duduk sudah baik menurut cara belajar yang seharusnya, bahkan yang terpenting untuk sekarang ini adalah siapa yang melakukan kunjungan ke dalam kelas, apakah guru yang masuk ke dalam kelas murid atau sebaliknya murid yang masuk ke dalam kelas guru. Salah satu penyebab terjadinya pelaksanaan pendidikan yang seadanya seperti digambarkan diatas adalah karena kurangnya penggalian terhadap pemikiran pendidikan Islam secara komprehensif dan mendalam, sehingga kecenderungan pendidik hanya mementingkan pemasokan informasi terhadap peserta didik tanpa memperdulikan potensi diri dan lingkungan yang dimilik peserta didik. Perkembangan seorang anak manusia merupakan produk kombinasi antara faktor genetis dan faktor lingkungan diluar dirinya potensi diri secara keseluruhan terkait dan didominasi oleh fungsi kerja otak, diantaranya adalah fungsi kerja kedua beiahan otak, bakat, kecerdasan, emosi dan spiritual, sedangkan potensi lingkungan terkait dengan semua sumber informasi yang berasal dari luar diri peserta didik Conny Semiawan (2007).

Faktor genetis adalah faktor yang berkaitan dengan sifat bawaan yang diwariskan oleh kedua orang tua, hal ini meliputi bakat, cara kerja otak, kecerdasan, emosi dan spiritual. Sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan semua sumber informasi yang berasal dari luar diri peserta didik; seperti keluarga, teman, guru, masyarakat, budaya, buku, internet, multi media. Bakat, sebagai faktor genetis di dalam diri manusia, dibawa sejak dari lahir sebagai warisan dari kedua orang tua, kemudian bakat pun dapat berkembang menjadi kecerdasan yang menurut para ahli kecerdasan memiliki bentuk yang tidak hanya satu tapi jamak. Di dalam diri manusia terdapat delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu, di antaranya adalah kecerdasan linguistik (Linguistic Intelligence), kecerdasan musikal (Musical Intelligence), kecerdasan logika-matematika (Logical-Mathematical Intelligence), kecerdasan visual spasial (Spatial Intelligence), kecerdasan badan (Body-kinestetic Intelligence), kecerdasan interpersonalsosial, kecerdasan intrapersonal (The Personal Intelligences), Gardner (2004:73 – 276). Kemudian kecerdasan naturalistik muncul setelah ketujuh kecerdasan diperkenalkan. Kajian tentang bakat dan kecerdasan sangat terkait dengan struktur dan fungsi kerja otak. Struktur fungsi dan cara kerja otak tersebut bernaung dalam kawasan neuroscience. Penemuan neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia terdiri dari dua belahan, fungsi kerja dan respon kedua belahan otak tersebut ternyata berbeda. Belahan otak kiri berfungsi ke arah hal-hal yang sistematis, matematis dan linier, sedangkan belahan otak kanan lebih ke arah imaginatif dan kreatif. Hasil maksimal dapat dicapai jika terjadi sinergi fungsi kedua belahan tersebut. Di samping fungsi kerja otak kiri dan otak kanan ada satu bagian lagi dari otak yang terletak di batang otak sebelah bawah. Bagian otak ini disebut amygdala yang fungsinya mengatur dan mengendalikan emosi. Pengaturan emosi ini, kemudian berkembang menjadi suatu kecerdasan yang disebut kecerdasan emosi (emotional intelligence). Manusia, dalam menjalani kehidupannya, tidak hanya bertumpu pada kecerdasan IQ saja melainkan harus melibatkan kecerdasan lain yang terkait dengan pengendalian emosi. Tanpa pengendalian emosi diri dengan baik pemaksimalan hasil kerja otak selalu terhambat, Goleman (1995)

Advertisement

Di samping kecerdasan jamak dan emosi, ada satu domain lagi yang belum terjamah oleh kedua kecerdasan diatas, kecerdasan ini disebut dengan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup seseorang dalam konteks yang lebih bermakna, lebih kaya dan luas. Hal ini terkait dengan komitmen seseorang untuk meraih hidup yang lebih bermakna, melampaui wilayah material, Zohar (1995). Dalam konsep ini dinyatakan bahwa memiliki SQ bukan berarti teiah beragama namun ada kemiripan dengan salah satu pendekatan dalam keberagamaan. Pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang dapat menyelamatkan dan membahagia kan seseorang baik di dunia dan maupun di akhirat. Kebahagian di dunia dan sekaligus kebahagiaan di akhirat merupakan tujuan hidup (pendidikan) yang hanya dapat dicapai dengan kesucian jiwa, karena hanya jiwa sucilah yang memiliki hubungan langsung (direct access) dengan Tuhan. Sebaliknya jiwa yang kotor tidak bisa menangkap ilmu yang ada pada Tuhan. Oleh karena itu pendidikan telah harus dimu¬lai jauh-jauh sebelum seorang bayi dilahirkan karena kesucian jiwa sang bayi terkait dengan kesucian jiwa kedua orang tua yang akan melahirkannya kelak. Dari uraian tentang potensi diri yang melibatkan fungsi kerja kedua belahan otak yang tidak termaksimalkan, bakat yang tidak berkembang, kecerdasan dengan berbagai bentuk yang tidak teraktualisasikan dan lingkungan pendidikan yang tidak ai hiraukan, telah menjadikan mutu dan produk pendidikan dangkal dan parsial. Prinsip utama dalam pendidikan adalah perlakuan yang bersifat holistik melibatkan bukanhanya satu potensi melainkan beberapa, apakah itu potensi rasio, emosi dan spiritual. Tuhan sudah menentukan bahwa akal pikiran adalah mahkota hidup umat manusia, dengan syarat bahwa pikiran manusia itu jangan sampai kering tanpa perasaan dan jiwa. Haekal (1996: 658). Deskripsi di atas merupakan uraian fungsi kerja otak yang sangat begitu besar, namun pemaksimalan hasil pembelajar – an. Ditentukan juga oleii lingkungan, pengembangan Intelektual dan cara belajar. Perkembangan intelektual anak yang biasa juga ditandai dengan perkembangan kognitif digambarkan sebagai tahap-tahap; masa sensorimotorik (0 – kurang lebih 2 tahun), masa praoperasional (kurang lebih. 2-7 tahun), masa operasional konkrit (kurang lebih 7-12 tahun), masa operasional formal (kurang lebih 12-17 tahun), masa abstrak formal (kurang lebih. 17 tahun ke atas). Urutan perkembangan skema (unit dasar kognisi) tiap individu secara universal sama meskipun bervariasi sedikit dalam kecepatannya dan dapat memiliki berbagai bentuk. (Piaget dalam Conny Semiawan;2007: 46). Pandangan Piaget di atas kemudian diperbaiki oleh Vigotsky dengan yang disebutnya Zone of Proximal Development yang secara bebas diartikan sebagai  daerah tahap perkembangan kognisi manusia yang bisa diaktualisasikan di atas rata-rata yang telah digariskan oleh Piaget sebelumnya. Belajar sesuatu secara relatif mudah pada daerah tersebut bisa terjadi jika ada bantuan khusus dan pelajaran yang bermakna dan harus mempertimbangan kemampuan anak. (Vigotsky dalam Conny Semiawan;2007:123) Hal ini berarti bahwa paradigma baru Vigotsky membentuk peluang untuk peningkatan pengetahuan anak diatas batas rata-rata umum, namun harus ada kesiapan dan peningkatan materi yang sifatnya berjenjang atau bertingkat. Pemaksimalan hasil belajar adalah kombinasi dari kesemua potensi tersebut. Belajar adalah oerubahan perilaku, sifat dan kemampuan yang relatif permanen, yang datang dari dalam diri seseorang, dan dapat terbentuk dan ditinjau terutama dari pengaruh lingkungan atau dari faktor genetis yang berbeda satu dengan lainnya. Beberapa aliran dalam belajar dan pembelajaran, namun di dalam makalah ini di jabarkan dua aliran saja karena keduanya memiliki sudut pandang yang berseberangan yakni: Pertama; aliran behaviorisme; yang meyakini bahwa manusia belajar terutama karena pengaruh lingkungan. Oleh karena itu belajar menurut teori behaviorisme adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Kedua; aliran konstruktivisme, yang meyakini bahwa belajar adalah membangun (to construct) pengetahuan itu sendiri dari dalam diri seseorang, yang penting dalam belajar adalah mempergunakan peralatan mental untuk menguasai apa yang sedang dipelajari.

Incoming search terms:

  • kata dari facsimile yang artinya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kata dari facsimile yang artinya