PENGERTIAN KONSEP KEBUDAYAAN ADALAH – Clifford Geertz (1973: 346) menulis, “ketahuilah apa yang (antropolog) maksud dengan suatu masyarakat primitif itu, maka Anda akan mudah mengetahui kajiannya.” Jika kita mengetahui bagaimana seorang antropolog mendefinisikan kebudayaan, maka Anda akan mengetahui dengan baik apa yang ingin dikajinya. Ranah kajian antropologi meliputi ihwal dipertahankannya kehidupan dan identitas manusia, dan premis mendasar dari perspektif antropologi adalah bahwa dipertahankannya kehidupan dan identitas itu adalah melalui medium kebudayaan. Akan tetapi, tidak ada standar definisi yang diterima bersama di kalangan antropolog, meski ada beberapa hal tertentu dari konsep tersebut yang diterima oleh semua antropolog. Apabila kita mengetahui apa yang dimaksudkan sebagai kebudayaan oleh antropolog, maka kita akan mengetahui wilayah dari ranah kajian antropologi yang dilaksanakannya.

Antropologi mulai dengan suatu definisi kebudayaan, sebagaimana diusulkan oleh Edward B. Tylor (1973: 63 [1871]; lihat juga Bohannan dan Glazer 1988), yang memandang kebudayaan sebagai totalitas pengalaman manusia. “Kebudayaan atau Peradaban, diambil dalam pengertian etnografi yang luas adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kapabilitas dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat.” Konsep kebudayaan “sapu bersih” ini dominan dalam antropologi lebih dari setengah abad mengiringi munculnya buku Tylor, Primitive Culture. Robert H. Lowie (1937;

juga Bohannan dan Glazer 1988), setelah Tylor, yang mengemukakan bahwa “sasaran teoretis (antropologi) mestilah untuk mengetahui semua kebudayaan dengan kedalaman yang setara,” menggunakan konsep ke-budayaan bagi lingkup luas fenomena manusia: “[Kebudayaan adalah] penjumlahan total apa yang dicapai oleh individu dari masyarakatnya keyakinan-keyakinan, adat-istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, dan ukiran-ukiran yang dimilikinya… Sebagai warisan dari masa lampau, yang disampaikan melalui pendidikan formal atau tidak formal.”

Bahkan pada masa Lowie, penggunaan konsep kebudayaan kurang dan semakin kurang standar di kalangan antropolog. Kroeber dan Kluckhohn menghimpun dan meperbitkan kembali 164 definisi kebudayaan, yang dikelompokkan menjadi enam: deskriptif, historikal, normatif, psikologis, struktural, dan genetik (1963 [1952]). Selain menghimpun definisi-definisi pokok itu, Kroeber dan Kluckhohn juga mencatat ratusan definisi yang mereka anggap variasi dari definisi-definisi pokok, sehingga seluruh definisi ?ang mereka himpun mencapai sekitar tiga ratusan.

Tatkala Kroeber dan Kluckhohn menulis, terjadi perdebatan dalam antropologi mengenai apakah oekebudayaan” seharusnya merupakan abstraksi atau paparan apa adanya aspek dari realitas. Leslie White (1954) misalnya mencatat bahwa perdebatan itu adalah kekeliruan: “Kebudayaan adalah sebuah kata yang dapat kita gunakan untuk melabel suatu kelas fenomena—baik benda maupun kejadian—di dunia luar.” Apakah suatu definisi kebudayaan berguna atau sesuai tergantung pada apakah definisi tersebut berguna dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan mengeksplanasi fenomena manusia. White sendiri lebih suka mendefinisikan kebudayaan dalam pengertian entitas konkret, objektif, kejadian yang dapat diamati yang tercermin melalui pengaruh besar aspek dipertahankannya kehidupan manusia terhadap pikiran White, dan minatnya dalam menjelaskan evolusi sistem-sistem sosial budaya.

Dalam tahun 1950-an dan 1960-an, antropolog mulai mengakui bahwa kurangnya konsensus berkenaan dengan konsep kebudayaan mengancam makin dalamnya perpecahan, yang menimbulkan kemerosotan efektivitas disiplin, khususnya jika konsep tersebut adalah unsur esensial dari perspektif antropologi yang dimiliki bersama, yang dimaksudkan untuk menyatukan antropolog dari pelbagai persuasi paradigmatis. Dua dekade setelah White, Roger M. Keesing (1974: 73) mengamati bahwa “tantangan bagi antropolog dalam tahun-tahun terakhir adalah dipersempitnya konsep “kebudayaan” sehingga konsep ini mencakup lebih sedikit tetapi menggambarkan lebih banyak.” Diprediksi bahwa berbagai upaya untuk mempersempit konsep kebudayaan ini justru memecah belah, bukan inenyatukan disiplin.

Keesing (1974: 74-79) mengidentifikasi empat pendekatan terakhir terhadap masalah kebudayaan. Pendekatan pertama yang memandang kebudayaan sebagai sistem adaptif dari keyakinan dan perilaku yang dipelajari yang fungsi primernya adalah menyesuaikan masyarakat manusia dengan lingkungannya. Pendekatan tersebut diasosiasikan dengan ekologi budaya dan materialisme kebudayaan dan bisa ditemukan dalam kajian-kajian tokoh-tokoh seperti Julian Steward (1955), Leslie White (1949; 1959), dan Marvin Harris (1968; 1979). (Konsep kebudayaan sebagai sistem adaptif ini menjadi mantap dalam kajian-kajian arkeologi kontemporer dan antara lain nampak jelas dalam tulisan-tulisan Lewis Binford (1962; 1968a) dan Kent Flamlery (1968).

Kedua, adalah yang memandang kebudayaan sebagai sistem kognitif yang tersusun dari apa pun yang diketahui dalam berpikir menurut cara tertentu, yang dapat diterima bagi warga kebudayaan (natives) yang diteliti. Pendekatan itu diasosiasikan dengan paradigma yang dikenal dengan berbagai nama seperti etnosains, antropologi kognitif, atau etnografi baru. Para pendukungnya yang utama antara lain Harold Conklin (1955), Ward Goodenough (1956; 1964), dan Charles O. Frake (1964a; 1964b).

Ketiga, adalah yang memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol yang dimiliki bersama yang memiliki analogi dengan struktur pemikiran manusia. Pendekatan itu adalah ciri khas dari struk-turalisme, paradigma yang dikonsepsikan oleh Claude Levi-Strauss (1963; 1969a).

Dan keempat, yang memandang kebudayaan sebagai sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diidentifikasi, dan bersifat publik. Pendekatan ini diasosiasikan dengan paradigma yang dikenal sebagai antropologi simbolik, yang dikonsepsikan oleh Clifford Geertz (1973; 1983) dan David Schneider (1968).

Keesing menyimpulkan bahwa secara esensial ada dua pet/dekatan mengenai konsep kebudayaan di kalangan antropolog kontemporer: pertama, para antropolog yang mendefinisikan kebudayaan dalam konteks pikiran dan perilaku (pendekatan “adaptif”); dan kedua, mereka yang mendefinisikan kebudayaan dalam konteks pikiran semata-mata (pendekatan “ideasiodal”). Secara logis, tentu saja, dua pendekatan tambahan mungkin saja diajukan, yakni rnereka yang memandang kebudayaan bukan sebagai pikiran maupun perilaku, dan mereka yang memandang kebudayaan sebagai perilaku semata-mata. Tak seorang pun yang mungkin menaruh perhatian serius pada kemungkinan yang pertama karena sukar membayangkan bagaimana mungkin suatu ke-budayaan itu adalah bukan pikiran dan juga bukan perilaku. Konsep bahwasanya kebudayaan terdiri dari perilaku semata-mata juga tidak secara serius diusulkan, meskipun pendekatan interaksional yang dianjurkan oleh Chapple dan Arensberg (1940), dan Arensberg (1972) agak mendekati. Akan tetapi, seperti dijelaskan Robert Murphy (1980: 45-50), “tidak ada definisi perilaku dari kebudayaan yang dapat didukung. Perilaku manusia tidak bisa menjadi perilaku budaya; andaikata bisa, ada titik kecil dalam melekatkan label budaya padanya. Tidak ada definisi statistik dan perilaku yang murni mengenai kebudayaan yang memungkinkan untuk dikembangkan, kecuali apabila kita memandang semua perilaku abnormal sebagai nonbudaya dan mengabaikan fakta bahwa banyak perilaku abnormal yang justru ingin menegaskan atau ingin memenuhi pengharapan budaya”.

Filed under : Bikers Pintar,