Advertisement

Perkembangan kehidupan manusia dari suatu masa ke masa berikutnya didasarkan atas perkembangan pola hidup dan cara hidup yang ada, dan diwujudkan oleh manusia itu sendiri sebagai anggota dari suatu masyarakat. Perubahan cara hidup mereka berjalan sesuai dengan perubahan lingkungan di mana mereka tinggal, dan sejalan pula dengan perubahan pengetahuan manusia yang disebabkan oleh adanya penemuan-penemuan baru (inovasi). Inovasi yang ada dalam masyarakat pada umumnya berkaitan dengan teknologi.

Teknologi pada dasarnya merupakan sarana dalam kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk hidup yang berada di suatu lingkungan tertentu. Teknologi adalah hasil pemikiran manusia sebagai anggota suatu masyarakat yang dipakai dalam kerangka untuk memahami lingkungan yang dihadapinya sebagai suatu strategi dalam beradaptasi. Sebagai hasil pemikiran manusia, teknologi merupakan bagian dari kebudayaan yang dimiliki mereka. Hal ini berkaitan dengan konsep kebudayaan yang mengacu pada perangkat nilai, aturan, pengetahuan dan norma, baik untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan maupun digunakan selanjutnya untuk mendorong terwujudnya tingkah laku (Suparlan, 2000; 2003).

Advertisement

Strategi-strategi yang ada diwujudkan oleh manusia dalam rangka meme-nuhi kebutuhan hidupnya agar berlangsung terus sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. Strategi-strategi tersebut berkaitan dengan cara-cara manusia mengorganisasikan pengetahuannya dalam bentuk aturan bertindak yang dikhususkan pada aktivitas tertentu yang dianggap penting. Rangkaian pengetahuan tersebut  akan saling berfungsi antara satu dengan lainnya, dan jika sudah tidak terpakai, akan ditinggalkan dan diganti dengan pengetahuan lain. Proses pergantian pengetahuan tersebut dengan sendirinya akan memengaruhi pengetahuan lainnya, sehingga akan terjadi perubahan pada pola hidup yang nyata.

Keterkaitan antarstrategi teknologi dalam pengetahuan manusia pada dasarnya tidak hanya mengacu pada satu aspek saja (aspek teknologi), tetapi juga pada aspek-aspek lainnya seperti: agama, struktur sosial, kekerabatan, kesenian dan juga ekonomi. Perubahan pada salah satu aspek dalam pengetahuan manusia akan mengubah aspek-aspek lainnya, sehingga mengubah pula wujud aktivitas manusia secara nyata berupa pola-pola hidup.

Menurut pendapat Spradley, kebudayaan sifatnya abstrak dan berada dalam benak individu-individu sebagai anggota masyarakat, dan digunakan sebagai sarana interpretasi. Hasil interpretasi tersebut merupakan suatu rangkaian model-model kognitif yang dihadapkan pada lingkungan hidup manusia (Spradley, 1980:5-9). Dengan kata lain, kebudayaan berfungsi sebagai referensi dalam mewujudkan tingkah laku yang terkait dengan pemahaman individu terhadap lingkungan hidupnya. Selain itu, kebudayaan merupakan serangkaian model-model referensi yang berwujud pengetahuan tentang kedudukan kelompoknya secara struktural dalam masyarakat yang lebih luas, sehingga tingkah laku yang muncul merupakan tanggapan (respons) terhadap pola-pola interaksi dan komunikasi di antara kelompok-kelompok.

Sebagaimana dikemukakan Spradley kebudayaan adalah pengetahuan yang diperoleh manusia, yang digunakannya untuk menginterpretasi pengalaman, dan melahirkan tingkah laku (Spradley, 1997:5). Ditekankannya bahwa konsep kebudayaan terfokus pada pengetahuan budaya yang diperoleh seseorang dari proses belajar untuk digunakannya dalam mcnginterprestasi lingkungannya, sehingga dilahirkan suatu strategi adaptasi. Sebagai suatu sistem makna, pengetahuan budaya yang dimiliki bersama itu dipelajari, diperbaiki, dipertahankan, dan didefinisikan dalam konteks berinteraksi (Spradley, 1997: 7). Lebih lanjut bagi Spradley, manusia selalu membutuhkan sesuatu yang merupakan sistem pengetahuan untuk menginterpretasikan dunia mereka, yang menyebabkan terwujudnya tingkah laku sosial sebagai hasil pemahaman dan penafsiran, yang disebut juga ‘kebudayaan’.

Dalam konteks pengetahuan tersebut, kebudayaan memuat konsep-konsep yang digunakan pemiliknya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada dalam lingkungannya (alam, budaya, sosial), dan memanfaatkannya demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Seseorang akan mencari pengetahuan yang dianggapnya sesuai, dan mewujudkannya dalam tindakan-tindakan berupa dorongandorongan atau motivasi dari dalam diri pelaku untuk memenuhi kebutuhan atau tanggapan (respons) terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan (Suparlan, 1999).

Berkaitan dengan definisi kebudayaan yang. diungkapkan oleh Spradley di atas, seseorang akan selalu menggunakan pengetahuan budaya yang menjadi acuannya, dan yang ada dalam kebudayaan suku bangsanya. Pengetahuan budaya atau nilai-nilai budaya tersebut kemudian diwujudkan oleh seseorang untuk digunakan sebagai simbol dan atribut-atribut budaya yang memberi ciri pada suatu budaya masyarakat. Hasil pemahaman terhadap lingkungannya itu digunakan oleh individu (sebagai anggota masyarakat) dalam kebudayaan tertentu untuk mewujudkan tingkah lakunya berkenaan dengan lingkungan yang dihadapi.

Dalam kaitannya dengan lingkungan, hasil budaya yang berupa pengeta-huan, nilai, norma dan aturan tersebut akan terwujud pada benda-benda tertentu sebagai benda-benda budaya. Dengan perkataan lain benda-benda budaya yang dihasilkan oleh kebudayaan tertentu pada dasarnya mengandung nilai, norma, aturan dan pengetahuan dari kelompok masyarakat pendukung kebudayaan bersangkutan. Ini berarti bahwa secara otomatis suatu benda budaya yang dihasilkan oleh kebudayaan suatu masyarakat (dengan aturan, pengetahuan, nilai dan norma yang terkandung dalam benda tersebut) hanya dapat difungsikan oleh masyarakat yang mendukung kebudayaan itu. Demikianlah misalnya sebuah keris hanya dapat dipahami oleh masyarakat Jawa sebagai pendukung kebudayaan membuat dan memakai keris.

Istilah suku bangsa dan kebudayaan pada umumnya selalu terkait satu sama lain dan sering diartikan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini menyangkut adat istiadat yang dimunculkan oleh suatu kelompok sosial tertentu (suku bangsa). Akan tetapi, secara sadar atau tidak, orang sering mencampurkan pengertian kebudayaan dengan suku bangsa. Misalnya, ada sementara orang mengatakan bahwa suku bangsa Jawa hidupnya bertani, padahal dalam kenyataannya hanya sekelompok orang saja dari suku bangsa ini yang mata pencariannya bertani sawah. Kebiasaan berdagang yang dilakukan oleh sebagian besar anggota kelompok suku bangsa Minangkabau, sering dikatakan oleh orang luar bahwa semua anggota suku bangsa Minangkabau mata pencariannya berdagang. Demikian pula semua anggota suku bangsa Dayak, sering dianggap sebagai petani berladang pindah, suatu hal yang sudah tentu tidak sesuai dengan kenyataannya.

Menurut Barth (1969), jatidiri kesukubangsaan akan terwujud melalui interaksi sosial antarsuku bangsa yang kebudayaannya berbeda, karena dengan ketidaksamaan latar belakang suku bangsa dan kebudayaan itu akan dilahirkan ketidaksamaan tingkah laku berkaitan dengan aspek yang sama.

Suku bangsa dan kebudayaan pada satu pihak dapat dimaknai sebagai satu kesatuan sosial yang erat, yaitu sekelompok manusia dengan model kebudayaannya yang spesifik, tetapi di pihak lain suku bangsa dapat pula dimaknai sebagai bukan satu kesatuan yang bulat. Dari pengertian pertama dapat dimaksbdkan seakan-akan setiap orang Jawa misalnya pasti akan mengetahui fungsi dari keris sebagai hasil kebudayaan orang Jawa, padahal belum tentu orang Jawa akan mengetahui fungsi dan makna keris secara keseluruhan, yang memang merupakan hasil kebudayaan orang Jawa. Dengan kata lain, suatu suku bangsa dapat saja memiliki kebudayaan yang bermacam-macam. Demikian pula orang Dayak selain berladang pindah, ada juga yang bekerja sebagai pegawai kantor swasta, yang berarti orang itu bekerja di bidang jasa. Sehingga dengan demikian, konsep kebudayaan dan konsep suku bangsa mempunyai makna yang berbeda, dan tidak harus suatu suku bangsa memiliki suatu kebudayaan yang spesifik.

Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial yang berisi perangkat-perangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi, dan untuk mendorong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Dengan kata lain, kebudayaan dipakai oleh manusia untuk mengadaptasikan diri dengan lingkungan tertentu (alam, sosial, dan kebudayaan) untuk senantiasa dapat melangsungkan kehidupannya dalam memenuhi kebutuhan agar dapat hidup lebih baik lagi.

Sebenarnya setiap kebudayaan itu merupakan sebuah pedoman atau patokan menyeluruh bagi kehidupan masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, kebudayaan bersifat tradisional, yang cenderung menjadi tradisi-tradisi yang tidak mudah berubah. Kecenderungan yang bersifat tradisional tersebut disebabkan oleh kegunaannya sebagai pedoman kehidupan yang menyeluruh. Akan tetapi, lingkungan yang dihadapi masyarakat cenderung berubah, baik secara kualitas maupun macamnya. Perubahan lingkungan ini akan memengaruhi kebudayaan, dan akibatnya kebudayaan yang berfungsi sebagai pedoman dalam memahami lingkungan itu harus pula bersifat adaptif. Demikianlah suatu kebudayaan memiliki kecenderungan untuk berubah setiap saat dan bersifat dinamik. Oleh karena itu, kebudayaan di satu pihak cenderung statis, sedangkan di pihak lain dinamis, maka sifat kebudayaan akan tergantung pada lingkungannya dan pada kuatnya inti budaya yang ada.

Oleh karena sifatnya yang statis dan dinamis itu, maka ada kebudayaankebudayaan yang berubah secara cepat, tetapi sebaliknya ada pula yang berubah secara lambat. Selain itu, suatu kebudayaan dapat berubah karena adanya penemuan baru (invention) dan pertambahan jumlah penduduk, sehingga terjadilah perubahanperubahan pada tingkat pranata sosial, yang dapat mengubah kebudayaan atau sebaliknya. Hal ini terkait dengan ke mana arah perubahan kebudayaan itu bergerak. Pada dasarnya perubahan kebudayaan merupakan modifikasi yang terjadi dalam perangkat-perangkat gagasan atau ide yang disepakati oleh warga masyarakat (Suparlan, 2004:166-67). Perubahan kebudayaan itu dapat terjadi pada isi struktur atau konfigurasi, dan cara-cara hidup tertentu. Perubahan kebudayaan itu dapat terjadi pada bentuk, fungsi atau nilai-nilai dari unsur terkecil (trait), unsur yang lebih besar (complex), dan juga pada pranata-pranatanya (institutions).

Sebagaimana dikemukakan di atas, suatu kebudayaan terwujud di dalam masyarakat pendukungnya. Masyarakat adalah struktur yang terdiri atas perananperanan dari para warganya, yang dijalankan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Peranan-peranan tersebut terkait dengan status atau kumpulan hak dan kewajiban dalam diri seseorang, yang sumbernya berasal dari aturan yang ada. Hubungan antarperanan ini mewujudkan struktur-struktur peranan yang biasanya terwujud sebagai pranata-pranata, yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan para anggota masyarakat. Pranata merupakan sistem antarhubungan norma-norma dan peranan-peranan yang diadakan dan dibakukan guna pemenuhan kebutuhan yang dianggap penting oleh masyarakat. Norma-norma dalam pranata sosial tersebut pada dasarnya mengacu pada kebudayaan yang disepakati.

Kebudayaan itu dipunyai oleh suatu masyarakat, dan masyarakat itu terdiri atas individu-individu yang mewujudkan tingkah lakunya bersumberkan kebudayaan yang dianutnya. Demikianlah tingkah laku para individu sebagai anggota masyarakat dapat mencerminkan kebudayaan yang dianutnya.

Kebudayaan suatu masyarakat akan terwujud dalam tiga wujud kebudayaan yaitu: (1) pengetahuan budaya; (2) tingkah laku budaya; dan (3) benda-benda budaya (Spradley, 1997).

Dalam pengetahuan budaya pada dasarnya terdapat empat simbol yang saling berkaitan satu sama Iain yang terdiri atas:

(1) simbol konstitutif, berisi simbol-simbol keyakinan yang menyatakan kebenaran mutlak yang tidak dapat diubah dan digeser serta bersifat dog-matis. Biasanya berupa keyakinan keagamaan yang berbentuk norma, dan keyakinan terhadap adanya alam supranatural yang berkembang dari lingkungan masyarakat itu sendiri.

(2) simbol kognitif, berupa simbol-simbol pengetahuan tentang pengorganisasian lingkungan berkenaan dengan pengeksploitasian, pemanfaatan, dan pemeliharaan. Dalam simbol ini manusia dapat mewujudkan penemuanpenemuan baru untuk memenuhi kebutuhan yang diwujudkannya dalam bentuk pengetahuan. Simbol ini juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan makhluk lainnya (tumbuhan, binatang) dan sering disebut dengan moral.

(3) simbol penilaian, berisi simbol-simbol baik-buruk, indah-jelek, dapat dimakan-tak dapat dimakan, matang-busuk, dan sebagainya yang diwujudkannya dalam bentuk nilai. Simbol ini juga mengandung arti cita-cita yang hendak dicapai oleh sekelompok manusia dalam bentuk nilai budaya sebagai satu acuan cita-cita bersama yang ada dalam benak individu-individu sebagai anggota suatu masyarakat.

(4) simbol pengungkapan perasaan, berisi simbol-simbol berkenaan dengan estetika, bahasa, komunikasi dan sebagainya yang perwujudannya berupa aturan-aturan. Simbol ini mengenai pengungkapan perasaan secara umum dalam penggunaan bahasa yang didasarkan pada aturan-aturan bagaimana bahasa tersebut dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lainnya (Bachtiar, 1982).

Keempat sistem simbol tersebut berjalan secara bersamaan (nilai, norma, pengetahuan dan aturan) dengan kualitasnya masing-masing. Ada orang yang mempunyai interpretasi simbol konstitutifnya lebih besar daripada lainnya, atau sebaliknya simbol kognitifnya yang lebih besar dan sebagainya. Perwujudan dari tindakan yang nyata merupakan juga rangkaian simbol-simbol yang telah disepakati dalam masyarakat. Dengan demikian, benda-benda sebagai hasil budaya suatu masyarakat akan terkait dengan keempat simbol dalam kebudayaan masyarakat itu. Keempat simbol yang ada dalam pengetahuan manusia tersebut akan terwujua dalam tindakan-tindakan tertentu yang berkaitan dengan teknologi dari sekelompok manusia yang bersangkutan. Dalam suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu misalnya, daging sapi dari sudut pengetahuan mereka merupakan daging yang dapat dimakan (simbol kognitif); sedangkan dari sudut agama merupakan makanan yang halal (simbol konstitutif); sementara daging sapi itu tidak busuk dan masih segar (simbol penilaian); dan daging itu dapat diwujudkan dalam bentuk sate, atau rendang, atau sop (simbol pengungkapan perasaan). Semua ini tergantung dari suku bangsa tertentu. Orang Madura misalnya akan menjadikan daging itu dalam bentuk sate, sedangkan orang Minangkabau akan menjadikannya dalam bentuk rendang. Dengan contoh di atas jelaslah bahwa teknologi memegang peranan dalam mewujudkan pengetahuan yang ada dalam kebudayaan suatu masyarakat.

Dalam bentuknya yang nyata kebudayaan suatu masyarakat hanya dapat terjadi pada tingkatan sistem sosial berupa pranata sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat (Suparlan, 2003). Pranata sosial pada dasarnya adalah sistem hubungan antarperanan yang ada dalam aktivitas, dan yang dianggap penting oleh masyarakat, seperti pranata ekonomi, pranata pendidikan, pranata kesehatan, pranata politik, dan sebagainya. Pengetahuan dan benda-benda hasil budaya suatu masyarakat pada dasarnya terkait dengan pranata sosial yang melingkupinya. Sebagai contoh dalam pranata sosial ekonomi masyarakat Jawa yang mata pencariannya bertani, di dalamnya terdapat konsep-konsep pengetahuan tentang membajak sawah dan juga benda-benda yang dipakai dalam kegiatan mengolah sawah. Demikianlah suatu kebudayaan (dalam konteks pengetahuan, tindakan dan hasil budaya) akan tercermin dalam sistem sosial dari suatu masyarakat tertentu, yang perwujudannya ada dalam pranata sosial yang berlaku.

Masing-masing pranata sosial pada dasarnya saling berfungsi satu sama lainnya sebagai suatu bentuk kenyataan sosial budaya dalam perikehidupan suatu masyarakat. Ini berarti bahwa setiap masyarakat akan hidup dalam tipe sosial budaya tertentu yang menjadi ciri khas dari pola hidup masyarakat itu. Hal ini juga berarti bawa sistem teknologi dari masyarakat tertentu akan bersifat spesifik dan berbeda dengan masyarakat dengan tipe sosial budaya lainnya.

Kedudukan pengetahuan dan teknologi khususnya sistem teknologi dalam suatu kebudayaan pada dasarnya menduduki posisi terdepan dan berhadapan langsung dengan lingkungan, baik lingkungan alam, sosial, dan kebudayaan. Kemudian berturut-turut di belakangnya adalah sistem ekonomi atau sistem mata pencarian, yang kemudian ditunjang oleh unsur-unsur lain dari kebudayaan seperti sistem keyakinan, kekerabatan, kesenian, dan bahasa guna membentuk suatu fungsi yang erat sebagai satu satuan sistem kebudayaan.

Semua ini didorong oleh kebutuhan manusia itu sendiri berupa: kebutuhan biologis (seperti bernafas, makan, minum, buang air, dan meneruskan keturunan); kebutuhan sosial (seperti kebutuhan bergaul dengan sesama orang lain, dan bergaul dengan makhluk lain); dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, dan sejahtera). Kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut akan dipenuhi dengan menggunakan kebudayaannya masing-masing, yang dalam mewujudkan kebutuhannya akan berbeda satu dengan lainnya.

Dalam buku-buku etnografi yang ditulis oleh para ahli antropologi dari masa akhir abad XIX hmgga awal abad XX sistem teknologi dan peralatan suku bangsasuku bangsa merupakan pokok deskripsi mereka. Teknologi tradisional yang dikenal secara universal oleh manusia terdiri dari sekurang-kurangnya delapan sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik (Koentjaraningrat, 1990:342), yaitu:

Menurut mereka yang mengikuti pendapat J.J. Honigmann dalam The World of Man (1959), teknologi itu berkenaan dengan “segala tindakan baku dengan apa manusia mengubah alam”, teknologi muncul dalam cara-cara manusia melaksanakan mata pencarian hidupnya. Oleh karena itu, benda materi yang dihasilkan oleh suatu teknologi tertentu mustahil dapat dijelaskan secara utuh jika hanya ditilik dari wujudnya semata secara terpisah atau berdiri sendiri. Kita harus memandang teknologi sebagai satu satuan sistem teknologi yang di dalamnya materinya. Pada umumnya keterkaitan yang langsung dapat dilihat pada sumber pemenuhan kebutuhan hidup atau mata pencarian. Itulah sebabnya sistem teknologi menjadi acuan dari bentuk-bentuk pola hidup suatu masyarakat tertentu yang membedakan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Incoming search terms:

  • pengertian konsep budaya
  • pengertian kebudayaan sebagai konsep
  • konsep konsep kebudayaan
  • makna budaya sebagai konsep
  • 4 simbol dalam sistem budaya
  • kebudayaan menurut spradliy
  • kelompok defenisi kebudayaan yang di kemukakan spradelay
  • konsep teknologi dalam antropologi yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan aktivitasnya
  • konsep teknologi dan budaya
  • krbudayaan teknologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian konsep budaya
  • pengertian kebudayaan sebagai konsep
  • konsep konsep kebudayaan
  • makna budaya sebagai konsep
  • 4 simbol dalam sistem budaya
  • kebudayaan menurut spradliy
  • kelompok defenisi kebudayaan yang di kemukakan spradelay
  • konsep teknologi dalam antropologi yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan aktivitasnya
  • konsep teknologi dan budaya
  • krbudayaan teknologi