Advertisement

Batasan nilai dapat mengacu kepada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, atraksi (daya tarik), dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, 1958 : 7). Akan tetapi, segala sesuatu yang sifatnya merupakan manifestasi perilaku refleks atau hasil proses kimia di dalam tubuh, itu bukan nilai. Rumusan nilai dapat diperluas atau dipersempit. Rumusan nilai yang luas dapat meliputi seluruh perkembangan dan kemungkinan unsur-unsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin kajian ilmu sosial.

Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pengertian tentang nilai, ada beberapa pendapat sebagai berikut:

Advertisement
  1. Pepper (1958 : 7) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk.
  2. Perry (1954) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek.
  3. Kohler (1938) mengatakan bahwa manusia tidak berbeda di dunia ini; semua tidak dapat berhenti hanya dengan sebuah pandangan (maksud) faktual dari pengalaman yang berlaku.
  4. Kluckhon (1951 : 399) mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima sebagai konsep yang diinginkan dalam literatur ilmu sosial adalah hasil pengaruh seleksi perilaku. Batasan nilai yang sempit adalah adanya suatu perbedaan penyusunan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan dengan apa yang seharusnya dibutuhkan; nilai-nilai tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan kepribadiannya. Kepribadian dari sistem sosio-budaya merupakan syarat dalam susunan kebutuhan rasa hormat terhadap keinginan yang lain atau kelompok sebagai suatu kehidupan sosial yang besar.

Dari berbagai pendapat tentang nilai ini dapat dikemukakan sebuah batasan nilai (tentatif), yaitu: nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Batasan ini bersifat universal, tetapi untuk suatu maksud pembicaraan tertentu dapat mengacu kepada salah satu batasan sebelumnya. Sebagai contoh pengertian nilai sosial dikemukakan oleh Alfin L. Bertrand (1967): nilai sosial adalah suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek, gagasan, atau orang. Pengertian nilai sosial ini, bila dikaitkan dengan batasan sebelumnya, maknanya akan berhubungan.

 

Untuk mendapat rumusan yang jelas, Robin M. Williams (1972) mengemukakan bahwa ada empat buah kualitas tentang nilai-nilai, yaitu:

  1. Nilai-nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam dibandingkan dengan hanya sekadar sensasi, emosi, atau kebutuhan. Dalam hal ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalaman-pengalaman seseorang.
  2. Nilai-nilai menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian yang memiliki suatu aspek emosi. Emosi di sini mungkin diungkapkan sebenarnya atau merupakan potensi.
  3. Nilai-nilai bukan merupakan tujuan kongkret dari tindakan, tetapi mempunyai

hubungan dengan tujuan, sebab nilai-nilai berfungsi sebagai kriteria dalam memiliki tujuan-tujuan. Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya mempunyai nilai-nilai.

  1. Nilai-nilai merupakan unsur penting, dan tidak dapat disepelekan bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataan, nilai-nilai berhubungan dengan pilihan, dan pilihan merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan.

 

Nilai sering dikacaukan dengan keyakinan atau kepercayaan. Keyakinan dapat berisi kepercayaan-kepercayaan bahwa suatu argumentasi sungguhsungguh dianggap benar. Keyakinan tidak memeriukan bukti empiris. Keyakinan adalah pikiran-pikiran tentang hal-hal yang dipandang sebagai faktor-faktor, dan orang-orang yang mengetahuinya tak akan berani menentangnya. Nilai-nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan ataupun yangtidak diinginkan, atau tentang apa yang boleh atau tidak boleh. Pengertian keyakinan dapat digambarkan dengan kecenderungan terhadap apa-apa yang disukai dan apa-apa yang tak disukai (Alvin L. Bertrand, 1967).

Adapun tingkatan-tingkatan nilai, menurut Arnold Green, ada tiga tingkatan, yaitu: perasaan (sentimen) yang abstrak, norma-norma moral, dan keakuan (kedirian). Ketiga tingkatan tersebut ditemukan di dalam kepribadian seseorang. Perasaan dipakai sebagai suatu landasan bagi orang-orang untuk membuat putusan dan sebagai standar untuk tingkah laku. Demikian pula norma-norma moral merupakan standar tingkah laku yang berfungsi sebagai kerangka patokan (frame of reference) dalam berinteraksi. Adapun keakuan (kedirian) berperan dalam membentuk kepribadian melalui proses pengalaman sosial.

Jenis-jenis nilai, menurut intensitasnya, ada yang disebut nilai-nilai yang tercernakan dan nilai-nilai yang dominan. Nilai-nilai yang tercernakan (internalized values) merupakan suatu landasan bagi reaksi yang diberikan secara otomatis terhadap situasi-situasi tingkah laku eksistensi, sedangkan nilai-nilai tercernakan tidak dapat dipisahkan dari si individu, serta membentuk landasan bagi hati nuraninya. Apabila terjadi pemerkosaan terhadap nilai-nilai tersebut, maka akan timbul perasaan malu atau bersalah yang sulit untuk dihapus. Nilai yang tercernakan bagi individuindividu artinya individu itu menghayati atau menjiwai suatu nilai sehingga ia akan memandang keliru pola perilaku yang tidak sesuai dengan nilai tersebut.

Nilai-nilai yang dominan artinya nilai-nilai yang lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain. Fungsi nilai dominan ialah sebagai suatu latar belakang atau kerangka patokan bagi-tingkah laku sehari-hari. Kriteria apakah suatu nilai itu dominan, ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut:

  1. Luas-tidaknya ruang lingkup pengaruh nilai tersebut dalam aktivitas 1 total dari sistem sosial.
  2. Lama-tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh kelompok masyarakat.
  3. Gigih-tidaknya (intensitas) nilai tersebut diperjuangkan atau dipertahankan.
  4. Prestise orang-orang yang menganut nilai, yaitu orang atau organisasiorganisasi yang dipancang sebagai pembawa nilai.

Incoming search terms:

  • merupakan keseluruhan dari kebutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan adalah nilai
  • Tingkatan nilai menurut arnold green
  • pengertian kedirian
  • konsep nilai
  • pengertian tingkatan nilai
  • kualitas nilai menurut robin m williams 1971
  • nilai tercernakan
  • tingkatan tertentu memiliki kritetia atas segala sesuatu yang diutamakam adalah pengertiam
  • konsep nilai-nilai
  • definisi konsep nilai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • merupakan keseluruhan dari kebutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan adalah nilai
  • Tingkatan nilai menurut arnold green
  • pengertian kedirian
  • konsep nilai
  • pengertian tingkatan nilai
  • kualitas nilai menurut robin m williams 1971
  • nilai tercernakan
  • tingkatan tertentu memiliki kritetia atas segala sesuatu yang diutamakam adalah pengertiam
  • konsep nilai-nilai
  • definisi konsep nilai