PENGERTIAN KONSISTENSI DAN VARIABILITAS PERILAKU

27 views

PENGERTIAN KONSISTENSI DAN VARIABILITAS PERILAKU – Apakah dalam perjalanan waktu manusia merupakan sesuatu yang konsisten atau variabel? Dengan kata lain, apakah kita memiliki trait kepribadian yang sama fungsinya dalam berbagai situasi, atau apakah perilaku kita berbeda tergantung pada situasi? Pertanyaan ini telah memicu banyak perdebatan dan penelitian, dan menjadi perhatian dalam setiap pertimbangan ter hadap cara mengukur manusia dan berbagai masalahnya dalam situasi klinis. Para teoris trait percaya bahwa manusia dapat digambarkan memiliki suatu karak teristik dalam kadar tertentu, seperti kekikiran atau obsesivitas, atau, dalam istilah DSM, mengalami gangguan tertentu. Asumsinya adalah bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku manusia dalam berbagai situasi dapat diprediksi secara cukup masuk akal berdasarkan kadar karakteristik tertentu yang mereka miliki. Posisi paradigmatik ini mengandung makna bahwa manusia akan berperilaku cukup konsisten dalam berbagai situasi—seseorang yang sangat agresif, contohnya, akan lebih agresif di banding seseorang yang kadar agresivitasnya rendah di rumah, di tempat kerja, dan ketika bermain.

Setelah mengkaji bukti-bukti yang berkaitan dengan pertanyaan ini, Walter Mischel, dalam buku klasiknya Personality and Assessment (1968), berpendapat bahwa kecuali IQ, trait kepribadian bukan penentu utama perilaku. Dia menyimpulkan bahwa peri laku manusia sering kali tidak sangat konsisten dalam berbagai situasi.
Bukan hal yang mengejutkan bila serangan Mischel terhadap teori trait menimbulkan perdebatan sengit dalam literatur tersebut. Sebagai contoh, teoris psikodinamika Paul Wachtel (1977) menyatakan bahwa berbagai studi yang dikutip Mischel umumnya dilakukan terhadap orang-orang yang bukan pasien, yang perilakunya mungkin lebih fleksibel dibanding mereka yang berpredikat pasien. Suatu tanda penting gangguan mental kemungkinan adalah rigiditas dan infleksibilitas, yang merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa perilaku memiliki konsistensi dalam berbagai situasi. Dengan mempelajari orang-orang yang pada dasarnya normal, Mischel mungkin mengambil kesimpulan yang tidak dapat diterapkan bagi orang-orang yang mengalami gangguan ini.
Wachtel juga berpendapat bahwa perbedaan persepsi dapat menyebabkan orang orang mengalami situasi yang sama secara berbeda atau dapat menganggap berbagai situasi yang secara objektif berbeda sebagai sesuatu yang sama di mata mereka. Sebagai contoh, seseorang yang digambarkan sebagai paranoid melihat berbagai ancaman dalam berbagai situasi yang normal dan tidak berbahaya. Orang yang sangat penuh curiga mungkin menganggap kartu kreditnya yang dicek untuk mendapatkan persetujuan bank sebagai suatu hal yang mempertanyakan integritasnya dan oleh orang yang benar-benar paranoid sebagai bagian dari rencana berbahaya untuk mempermalukan dan mendakwanya.

Masalah orang tersebut bukan terletak pada insensitivitasnya terhadap berbagai situasi; namun lebih pada orang tersebut menganggap sebagian besar, jika tidak semua, situasi mengandung berbagai ancaman. Selain itu, orang dapat menyebabhan timbulnya beberapa reaksi tertentu dari lingkungan sekeliling mereka. Seorang paranoid mungkin tidak hanya menganggap orang lain sebagai ancaman, namun membuat mereka menjadi demikian dengan menyerang mereka lebih dulu. Sebagai akibatnya ia mengubah situasi yang tidak berbahaya menjadi situasi yang berbahaya. Hasilnya, perilaku seorang paranoid tidak banyak bervariasi.
Wachtel juga berpendapat bahwa disposisi kepribadian dapat memengaruhi jenis situasi yang dipilih atau dibangun individu bagi dirinya. Seseorang yang secara umum optimistik, contohnya, mungkin mencari situasi yang menegaskan penam pilan positifnya, yang pada akhirnya memperkuat kecenderungan trait untuk menemukan atau membangun situasi sanguin yang sama di masa mendatang. Maka, kemudian terdapat interaksi timbal balik yang konstan, di mana karakter kepribadian memengaruhi situasi yang dimasuki seseorang dan situasi tersebut pada akhirnya memengaruhi kepribadian. “Konsistensi yang terjadi selama periode waktu yang panjang…mungkin merupakan hasil dari sejarah panjang pemilihan situasi yang kondusif bagi sikap, trait, dan disposisi seseorang.
Dalam perjalanan perdebatan yang dipicu oleh buku penting yang ditulis Mischel, beberapa psikolog berpendapat bahwa posisi awal yang diambil Mischel terlalu ekstrem. Jack Block (1971) mempertanyakan kesimpulan Mischel tentang inkonsistensi perilaku. Dalam pengujian berbagai studi yang digunakan Mischel untuk mendukung kliennya, Block menemukan bahwa sebagian besar studi tersebut menyimpan kesalahan fatal. Seymore Epstein (1979) juga mengkritik ber bagai studi yang digunakan Mischel untuk memperkuat posisi sebagai situasionis. Berbagai studi tersebut, dikatakan Epstein, hanya mengamati potongan-potongan kecil perilaku, suatu strategi yang sama tidak tepatnya dengan mengukur IQ dengan cara melihat skor seseorang pada satu item tunggal dalam suatu tes. Lebih tepat adalah rata-rata perilaku dalam berbagai macam situasi. Dalam berbagai studi yang dilakukannya, Epstein mengumpulkan dan merata-rata data pada sejumlah situasi dan mampu menunjukkan konsistensi signifikan dalam perilaku.

Pandangan original psikolog terkenal dan teoris kepribadian Gordon Allport (1937) mengenai pentingnya trait global dalam memahami perilaku manusia yang kompleks dewasa ini kembali mendapatkan perhatian sejalan dengan lebih banyak’ data yang terkumpul yang mendukung pentingnya disposisi kepribadian (Funder, 1991). Sebagian besar penelitan yang sedang berlangsung berupaya menggambarkan berbagai gangguan kepribadian dengan menggunakan suatu model yang menyatakan bahwa kepribadian terdiri dari lima trait utama.
Sejalan dengan pendapat Mischel, Bandura (1986) berpendapat bahwa ketergan tungan yang besar para teoris trait terhadap kuesioner self-report mewarnai kesim pulan mereka karena orang-orang secara selektif mungkin menganggap diri mereka konsisten dan menjawab kuesinor berdasarkan anggapan tersebut. Berbagai kuesioner tersebut menanyakan perilaku tipikal dalam berbagai situasi yang kurang spesifik, contohnya, “Apakah Anda cenderung lepas kendali ketika Anda marah?” Di sisi lain, jika orang-orang diamati dalam berbagai situasi yang berbeda, perilaku aktual mereka akan jauh lebih beragam dan sensitif terhadap berbagai perbedaan lingkungan suatu kesimpulan yang dapat ditarik dari sangat banyak literatur dalam psikologi sosial dan kepribadian.
Sua tu kemungkinan yang menarik adalah bahwa keyakinan terhadap trait memberikan kemampuan prediksi dan mungkin memberikan suatu ilusi kendali. Jika Joe adalah seorang pria yang baik, kita dapat memercayainya apa pun yang terjadi; dan jika Dick adalah orang yang brengsek, hal itu pun dapat dipercaya dan kita dapat membuat rencana berdasarkan hal itu, bahkan jika kita mengharapkan dia memiliki karakter yang berbeda. Budaya Barat juga mendukung orientasi terhadap karakter untuk memahami perilaku. Sebagian besar di antara kita tumbuh dengan pemikiran bahwa orang-orang dapat dikarakterisasi sebagai orang yang menyenang kan, memiliki selera humor yang baik, busuk, dan semacamnya. Mungkin juga sama kasusnya bahwa sebagian besar orang menghargai konsistensi perilaku, bahkan jika konsistensi tersebut membuat kita menyimpulkan bahwa ada sedikit kebaikan yang diharapkan dari individu terkait.
Lebih jauh Bandura (1986) menya takan bahwa Epstein dan para teoris trait lainnya mengabaikan fungsionalitas perilaku X yang dilakukan dalam situasi Y, yaitu, apakah ada keuntungan yang diperoleh dengan berperilaku tertentu dalam situasi tertentu. Sebagai teoris pembelajaran sosial, Bandura lebih memfokuskan pada berbagai penentu situasional perilaku dibanding para teoris trait, terutama berbagai penguatan yang diantisipasi oleh individu. “Tindakan agresif yang dila kukan oleh orang-orang kriminal terhadap para pendeta di kota kecil dan anggota geng lawan akan memiliki korelasi rendah, walaupun demikian sebagian besar orang rata-rata melakukannya.
Mischel memberikan data untuk mendukung pemikirannya tersebut, yang diawali dengan penyataan “jika…maka” tentang anak-anak dalam situasi berkemah. Sebagai contoh, Henry menunjukkan perilaku agresif jika diperingatkan oleh orang dewasa untuk tidak berperilaku demikian, tetapi dia menurut jika diancam oleh teman-teman sebayanya. Dengan demikian, terdapat interaksi antara suatu kecenderungan (trait) agresif dan situasi di mana perilaku tersebut muncul atau tidak muncul. Konsekuensi mengekspresikan kecenderungan semacam itu, misalnya agresivitas, memainkan peran penting dalam menentukan apakah trait tersebut akan muncul dalam suatu situasi tertentu (Shoda, Mischel, & Wright, 1994).
Memang beberapa situasi memancing munculnya beberapa perilaku dari hampir semua individu; dengan demikian suatu perspektif situasionis kadangkala dapat mengarah pada prediksi seperti-trait. Sebagai contoh, sebagian besar orang di pantai pada suatu hari yang terik di musim panas mungkin memakai pakaian minim dan berenang; dan sebagian besar orang di perpustakaan mungkin membaca dan berbicara dengan suara rendah. Semuanya boleh saja dan baik, namun suatu analisis perilaku yang lengkap harus mencakup prediksi mengenai apakah seorang individu tertentu akan membaca di pantai, membayangkan pantai ketika duduk di perpustakaan, atau bahkan benar-benar berada dalam situasi semacam itu (Anastasi, 1990)!. Apa yang mengemuka dari literatur tentang trait yang terkadang kontroversial versus variabilitas behavioral adalah apresiasi terhadap bagaimana faktor-faktor kepribadian berinteraksi dengan berbagai lingkungan yang berbeda, suatu perspektif paradig matik yang sangat berkaitan dengan sudut pandang diathesis-stres yang menandai studi kami tentang psikopatologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *