PENGERTIAN KONTINUITAS, DEVOLUSI DAN KEPUNAHAN

38 views

PENGERTIAN KONTINUITAS, DEVOLUSI DAN KEPUNAHAN – Evolusi sosiokultural merupakan ciri yang melekat pada kehidupan sosial, dan tidak ada masyarakat yang sama sekali statis atau tidak berubah. Namun, ada beberapa contoh masyarakat yang barangkali tidak mengalami perubahan signifikan selama ribuan tahun. Gejala ini dikenal dengan kontinuitas sosiokultural. Banyak masyarakat peramu dan pemburu, misalnya, yang dapat bertahan sampai sekarang, dan kebanyakan mereka barangkali tidak mengalami perubahan penting selama ratusan atau ribuan tahun.

Karena itu harus dipertanyakan kenapa sebagian masyarakat mengalami berbagai transformasi besar, dan kenapa masyarakat yang lain tidak mengalaminya. Evolusi sosiokultural adalah sebuah hasil adaptif terhadap berbagai kondisi yang sedang berubah. Masyarakat berkembang untuk memenuhi berbagai permintaan dan kebutuhan baru. Namun, masyarakat tidak selalu menghadapi permintaan dan kebutuhan baru. Dalam situasi yang tidak berubah, pola sosiokultural yang ada mencukupi untuk memecahkan problem dasar eksistensi manusia, dan tidak ada perubahan evolusioner yang perlu terjadi. Jadi, sebagaimana evolusi, kontinuitas merupakan sebuah proses adaptif. Keduanya akan terjadi tergantung apakah kondisi yang melatarbelakanginya yang diperlukan bagi eksistensi dan kesejahteraan manusia mengalami perubahan atau tetap sama seperti semula.

.,Kebanyakan masyarakat manusia dalam kadar tertentu ditandai oleh stabilitas ataupun transformasi evolusioner. Namun, dalam beberapa kasus, suatu masyarakat dapat mengalami perubahan devolusioner: ia dapat berubah menyurut ke bentuk yang mempunyai karakter tahap evolusioner yang sebelumnya. Ini bisa berarti menurunnya kompleksitas masyarakat, atau mungkin hilangnya kohesi sosial. Ilustrasi yang sangat baik untuk kejadian seperti ini dapat diperoleh dari deskripsi tentang suku Ik di Uganda yang dibuat oleh Colin Turnbull (1972). Suku Ik adalah masyarakat pemburu dan peramu yang telah mengalami penderitaan ekonomi ketika tradisi berburu yang masih hidup beralih ke peternakan yang diprogramkan oleh pemerintah Uganda. Peristiwa ini mempercepat keruntuhan sistem sosiokultural suku Ik. Dengan hilangnya cara-cara menopang hidup mereka yang bersifat tradisional, dan karena peralihan ke pertanian sulit atau tidak mungkin dilakukan, suku Ik mengalami kemerosotan substansial dalam jumlah penduduk, kehilangan basis kohesi politik, dan bahkan mengalami erosi dalam hubungan antara para anggota keluarga. Hasilnya adalah cara hidup di mana ikatan sosial antara semua anggota masyarakat sudah hancur.

Contoh lain dari transformasi devolusioner adalah runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad v Masehi. Roma telah menciptakan kekaisaran yang sangat besar, yang meluas dari Mesir di sebelah selatan sampai kepulauan Inggris di utara. Berbagai wilayah kekuasaan tersebut dihubungkan dengan sistem jalan yang sangat bagus, dan kekaisaran tersentralisasi secara ekonomi, politik dan militer. Ketika kekaisaran akhirnya runtuh setelah kemerosotan yang berlangsung lama dan pelan-pelan, Eropa menyusut menjadi wilayah luas yang dipenuhi dengan desa-desa atau kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri secara ekonomi.

Tentu saja, sebagian masyarakat akan mengalami penyusutan secara menyeluruh. Proses ini dikenal dengan kepunahan sosiokultural. Nasib seperti ini telah terjadi pada banyak masyarakat pemburu dan peramu yang hidup sekarang ini, begitu juga pada berbagai masyarakat yang kompleksitas evolusionernya lebih tinggi. Sebuah sistem sosiokultural dapat menjadi punah karena musnahnya para anggotanya secara fisik ataupun karena keterserapannya ke dalam masyarakat lain melalui penaklukan politik. Kedua proses ini sering terjadi dalam sejarah manusia, terutama sejak munculnya kapitalisme modern pada abad xvi. Sebagai contoh, Amerika Selatan pernah dipenuhi dengan ratusan suku Indian. Dengan kemunculan dan ekspansi peradaban Amerika yang baru, kebanyakan anggota suku-suku ini terbunuh dalam perang berdarah. Mereka yang tersisa akhir dikumpulkan di tempat-tempat penampungan, dan cara hidup mereka yang asli umumnya hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *